Beranda Jateng Separatisme dan Disintegrasi Harus Diberantas

Separatisme dan Disintegrasi Harus Diberantas

192
PERSATUAN : Dialog kebangsaan yang digelar Lembaga Al Ittihad di RM Nogiri Mbak Yun Solo dihadiri sejumlah kalangan untuk memperkokoh persatuan bangsa.
PERSATUAN : Dialog kebangsaan yang digelar Lembaga Al Ittihad di RM Nogiri Mbak Yun Solo dihadiri sejumlah kalangan untuk memperkokoh persatuan bangsa.

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Sesuai dengan semangat Pancasila, semua pihak sepakat bahwa separatisme dan upaya disintegrasi bangsa wajib diberantas. Termasuk memberangus upaya upaya yang bisa menjadi embrio untuk menuju arah tersebut.

Munculnya aksi yang mengguncang Papua yang diawali dengan munculnya kembali gerakan mahasiswa pendukung Papua merdeka membuat prihatin sejumlah pihak. Karena hal tersebut menunjukkan adanya potensi disintegrasi bangsa. Seperti terungkap saat Dialog Kebangsaan Menangkis Separatisme dan Disintegrasi Bangsa, yang digelar lembaga Al Ittihad di RM Mbak Yun Nogiri Jl. Dr. Cipto Mangunkusumo Mangkubumen Solo, Jumat (23/8).

Seperti diungkapkan Ustadz Arif Syarifudin, Ketua PC GP Ansor Surakarta, yang mengatakan NU bersikap tegas terhadap separatisme dan siap mendukung pemerintah.

“Saya yakin itu hanya keinginan sedikit pihak saja untuk melepaskan diri dari NKRI. Banyak warga Papua yang cinta NKRI itu yang harus tetap kita dukung,” kata Arif.

Ustad Arif merupakan salah satu narasumber yang dihadirkan selain Pasintel Kodim Surakarta Kapten Narno, dan M. Farid Sunarto (Ketua Solo Bersimfoni). Kapten Narno juga menyampaikan TNI serius menangani masalah disintegrasi bangsa tersebut.

Sesuai dengan tugasnya dibidang territorial, pihaknya aktif melaksanakan komunikasi social (komsos) dalam upaya menciptakan situasi kondisi damai persatuan dan kesatuan NKRI. Tri Rohmadi, ketua Lembaga Al Ittihad, merasa perlu menggelar dialog kebangsaan untuk sharing memecahkan masalah separatisme dan disintegrasi bangsa yang kembali muncul, bersamaa dengan isu kasus Papua.

“Tujuan digelar dialog ini adalah mencegah aktifi tas mahasiswa dan warga Papua yang berada di wilayah Soloraya pada khususnya dan Indonesia pada umumnya dalam melakukan upaya makar melawan negara Kesatuan Republik Indonesia. Dan menghindari terjadinya konflik sosial horizontal yang dapat meruntuhkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara yang aman dan damai.” tandasnya.

Closing dialog, ditutup dengan pernyataan Meliana warga Papua, yang sudah lama menetap di Grogol, Sukoharjo, Jawa Tengah.

“Saya lahir dan besar di Papua, orang tua saya dari Sulawesi dan Maluku. Sekarang saya tinggal di Sukoharjo, Saya orang Indonesia,” tandas Meliana. (dea/ bis/sgt)