Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Si iMut Guru Dengan Siswa

Si iMut Guru Dengan Siswa

BERBAGI
Dyah Narwati, S.Pd SMA N 1 Kradenan, Grobogan
Dyah Narwati, S.Pd SMA N 1 Kradenan, Grobogan

GROBOGAN – “Wahai guru….berterimakasihlah  pada anak didik / siswamu…”karena dari situlah seorang guru bisa mencapai jalan kemuliaan . Mentransfer ilmu dan mendidik dengan ikhlas adalah wujud mengamalkan ilmu yang bermanfaat. Dengan membuka cakrawala pandang mereka akan arti kehidupan maka tangan-tangan mereka nantilah yang dapat menarik kita ke surga sebagai jalan kehidupan yang kekal.

“Wahai siswa…berterimakasihlah pada gurumu…”, karena mereka sebagai jembatan sehingga tersampaikan ilmu padamu. Meraka ikut andil menuntun dan membimbingmu selain ibu bapakmu. Baik menuntunmu dalam berpengetahuan ataupun menuntunmu dalam berprilaku untuk mencapai cita dan cinta yang kalian inginkan.

“Simbiosis Mutualisme ( Si iMud ) Guru dengan Siswa adalah kompenen penting dalam pembelajaran“ Proses belajar mengajar di sekolah bisa berjalan dengan baik karena peran serta dan kerjasama antara guru dan siawa. Simbiosis mutualisme antara guru dengan siswa adalah kondisi saling menguntungkan dimana guru maupun siswa mendapatkan keuntungan atau manfaat dalam proses pembelajaran.

Pada dasarnya belajar bisa dilaksanakan dimana saja ; di rumah, di lingkungan tempat tinggal, di tempat kerja, melalui dunia maya dan di sekolah. Pada pembelajaran di sekolah terjadi interaksi antara siswa dengan siswa, guru dengan guru dan siswa dengan guru. Dari interaksi inilah akan terjalin proses pembelajaran yang hasilnya langsung maupun tidak langsung. Pembelajaran yang hasilnya langsung dapat dilihat dari pembelajaran tatap muka antara guru dengan siswa dalam mentransfer ilmu yang tolak ukurnya berupa nilai sedangkan pembelajaran yang hasilnya tak langsung berupa interaksi yang menjadikan perubahan perilaku untuk menjadi lebih baik.

Kita akan menemukan banyak hal menarik ketika berbicara tentang siswa / peserta didik. Para pendidik yang kerennya dipanggil “guru “ dalam proses mendidiknya sebenarnya mereka juga belajar.  Seiring berjalannya waktu bersimbiosis, guru akan menjadi lebih menguasai materi sesuai bidang studi yang diampunya dan lebih bisa menguasai emosinya.

Di bangku PAUD, TK , SD atau yang sederajat terjadi interaksi yang menarik, ketika seorang  guru dari hari ke hari belajar untuk menjadi lebih bersabar, penyayang, kreatif dalam mengasuh anak didiknya. Mengalami perkembangan pola pikir dan wawasan untuk selalu semangat dan riang menghadapi fenomena anak didik yang penuh dengan kepolosan, kelucuan, keunikannya  dan tidak luput dari kenakalannya.

Pun di bangku SMP / MTs serta SMA / SMK /MA , guru begitu banyak mendapatkan pelajaran berarti selama berinteraksi dengan siswanya. Para siswa yang mulai berpikir kritis, inovatif, ingin tahu, lebih bisa membedakan baik buruk menuntut seorang guru untuk berkembang dalam berpengetahuan dan berprilaku. Profesi sebagai guru yang mana “digugu dan ditiru” dapat memproteksi guru untuk menjaga prilaku dan perbuatan, yang dalam hal ini malu pada siswa jika berkelakuan tidak baik. Dalam pembelajaran, kepribadian guru  untuk lebih bijak, adil, tegas, penyayang dan profesianal akan terbentuk. Dan dari kenakalan dan kepandaian siswa dapat mempengaruhi terbentuknya karakter guru.

Guru ditingkat apapun ia mengajar sesungguhnya mendapat manfaat yang sangat luar biasa dari anak siswanya. Menyadari fenomena fisik dan psikis yang beraneka ragam dari siswa akan menambah keimanan bagi guru, betapa Allah itu Maha Besar, Maha Kaya dan Maha Indah menciptakan manusia. Pengetahuan dan keahlian pendidik akan selalu terasah dan berkembang karena tuntutan kondisi siswa, pengetahuan  serta kurikulum.

Siswa atau anak didik dijenjang apapun mereka belajar  membutuhkan fasilitator  yaitu guru. Ilmu bisa tersampaikan dengan baik tentunya dengan adanya arahan dan bimbingan guru. Bagaimana ia bisa membaca, menulis, berhitung, berpikir logis, berpengetahuan, mengambil keputusan , berprilaku dan berwawasan luas  tentunya melalui proses  yan mana melibatkan orang-orang yang mendidiknya.

Ketika seorang guru dengan ikhlas dan tulus menunaikan kewajiban mengajar dan mendidik siswa, manfaat luar biasa akan didapatkan untuk memperbaiki kualitas hidupnya. Dan ketika siswa bisa menghargai dan menghormati guru, mengamalkan apa yang diajarkan  dengan baik, maka akan menjadi stimulus baginya untuk  mencapai cita dan cinta yang ia dambakan.

Simbiosis mutualisme tidak hanya terjadi pada lebah dengan bunga, atau pun pada burung jalak dengan kerbau. Guru dengan siswapun terjadi simbiosis mutualisme yang dapat memperkokoh kehidupan dan berbangsa. Jika hubungan tersebut terjalin baik, maka pendidikan akan berhasil.

Dyah Narwati, S.Pd

SMA N 1 Kradenan, Grobogan

BERBAGI