Beranda Opini Sinergi Pengoptimalan Perawatan Si “Makanan Para Dewa” untuk Peningkatan Produktivitas Kakao Indonesia

Sinergi Pengoptimalan Perawatan Si “Makanan Para Dewa” untuk Peningkatan Produktivitas Kakao Indonesia

12
Mercy Bientri Y, S.P., M.Si. (Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNS)

Oleh: Mercy Bientri Y, S.P., M.Si.
(Dosen Program Studi Agroteknologi, Fakultas Pertanian, UNS)

KAKAO adalah salah satu komoditi ekspor penting di Indonesia. Tumbuhan ini sangat potensial di Indonesia karena hanya dapat tumbuh di daerah dekat garis khatulistiwa. Saat ini Indonesia adalah produsen kakao terbesar ketiga dunia setelah Ghana dan Pantai Gading. Total lahan kakao Indonesia mencapai 1600, 30 ribu hektar dengan produksi 784, 10 ribu ton (BPS, 2019). Namun demikian, lebih dari 97% lahan budidaya kakao dikelola oleh kebun rakyat sedangkan sisanya oleh perkebunan swasta dan perkebunan negara.

Tanaman kakao menjadi sangat penting mengingat kakao merupakan bahan baku untuk industri coklat dunia. Tidak heran jika permintaan biji kakao terus meningkat setiap tahun karena cita rasa coklat yang diolah dari biji kakao sangat diminati dunia. Selain itu, saat ini permintaan biji kakao semakin tinggi seiring dengan pengetahuan tentang potensi antioksidan yang terdapat pada produk coklat. Industri coklat tidak hanya berperan penting dalam hal pangan, namun juga berkontribusi pada penyediaan lapangan pekerjaan dan pendapatan dalam rangka mengurangi tingkat kemiskinan di negara-negara produsennya.

Meskipun saat ini menjadi 3 besar produsen biji kakao dunia, pada kenyataanya Indonesia masih memiliki potensi yang belum sepenuhnya tergali. Hal ini karena produktivitas petani kakao Indonesia masih rendah dan belum sepenuhnya mencapai potensi optimal produksi biji kakao. Saat ini rata-rata produktivitas biji kakao di Indonesia adalah 742 kg/ha pada tahun 2019 sementara potensi produksinya dapat mencapai lebih dari 1,5 ton/ha (Deptan, 2020). Padahal bahan tanam dengan produktivitas tinggi telah dikembangkan oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia yang berlokasi di Jember Jawa Timur. Salah satu penyebab rendahnya produktivitas adalah kurang optimalnya pemeliharaan kebun kakao di tingkat petani. Selain perluasan areal lahan dan input produksi, peningkatan permintaan biji kakao dapat dipenuhi dan pendapatan petani kakao dapat meningkat melalui peningkatan efisiensi budidaya (Onumah et al., 2013).

Dalam hal proses budidaya tanaman, proses awal penanaman suatu komoditas yang baik tidak akan menghasilkan panen yang optimal apabila proses perawatan tidak dilakukan dengan baik. Pemeliharaan kebun diantaranya pemangkasan menjadi faktor penting yang kurang dilakukan oleh petani. Padahal pemangkasan menjadi penting karena perannya dalam pengoptimalan pertumbuhan kakao. Pemangkasan dapat memberikan ruangan yang cukup untuk sinar matahari yang dapat menstimulasi pertumbuhan bunga.

Selain itu, pemangkasan berperan dalam sanitasi pohon sehingga tanaman kakao terjaga dari kelembaban yang berlebihan yang dapat memacu timbulnya hama dan penyakit (Danso-Abbeam et al., 2012). Pada perawatan kakao, terdapat 3 jenis pemangkasan yaitu pemangkasan bentuk, pemangkasan pemeliharaan dan pemangkasan produksi. Pemangkasan bentuk dilakukan pada fase muda. Pemangkasan pemeliharaan ditujukan untuk menghilangkan tunas yang tidak diinginkan, serta bagian cabang dan ranting yang kurang produktif.

Sedangkan pemangkasan produksi dilakukan agar tanaman dapat berproduksi secara maksimal. Prinsip pemangkasan adalah menjaga proporsi Sink dan Source. Sink adalah bagian tanaman yang berperan sebagai penampung atau penggunaa makanan atau hasil fotosintesis seperti buah, bunga dan pucuk. Sedangkan Source adalah bagian tanaman yang bertugas menyediakan bahan makanan seperti daun.

Pemeliharaan kebun yang kurang ditingkat petani disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya rendahnya tingkat pengetahuan petani, keterbatasan modal, dan alat. Mayoritas petani rakyat memerlukan pendampingan secara berkelanjutan baik dari pihak pemerintah, peneliti, maupun akademisi untuk mengatasi keterbatasan informasi dalam aspek budidaya. Pendampingan juga sangat diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang muncul dalam hal budidaya tanaman kakao. Hal ini mengingat aspek lingkungan yang berubah seperti suhu, kelembaban dan penyinaran matahari berdampak pada dinamika pertumbuhan tanaman dan perkembangan hama dan penyakit. Dalam hal ini peran penyuluh dan peneliti harus secara sinergi tanggap pada isu lingkungan yang mempengaruhi pembudidayaan kakao.

Terkait aspek modal, mayoritas petani kecil pembudidaya coklat memiliki akses modal yang terbatas. Hal ini memunculkan masalah baru berupa keterbatasan alat. Keterbatasan ini dapat diatasi dengan sistem kelompok sehingga memungkinkan sharing sarana produksi pertanian. Selain akses pasar, kelompok petani atau Gabungan Kelompok Tani memiliki akses yang lebih luas dalam program-program pemerintah dan akademisi melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Gabungan kelompok tani memiliki dampak yang lebih besar kepada masyarakat, sehingga lebih difasilitasi oleh pemerintah maupun akademisi. Gabungan kelompok tani juga dapat menjadi mediator dalam penyampaian masalah petani. Termasuk dalam hal petani kakao, peran Gapoktan sangat besar untuk membantu petani mengakses sarana pemeliharaan kebun kakao.

Pada akhirnya, diperlukan sinergi antar stakeholder untuk mendukung pembudidayaan kakao di tingkat petani. Petani kakao telah begitu bersemangat menanam pohon kakao yang memiliki nama Latin Theobroma cacao yang berarti “Makanan Para Dewa” (Theo=Dewa, broma=makanan). Selanjutnya, tanggung jawab pemerintah, peneliti, dan akademisi untuk secara sinergi dan berkelanjutan berkontribusi pada komoditas unggulan Indonesia ini. (***)