Beranda Opini Soal Esai Merangsang Anak Berpikir Kritis

Soal Esai Merangsang Anak Berpikir Kritis

174
BERBAGI

Soal Esai Merangsang Anak Berpikir Kritis
Oleh:

Udi Utomo SS MPd (Guru SMP 5 Pati)

JATENGPOS.CO.ID.Rencananya pada Ujian Nasional (UN) 2018 bentuk soal tidak hanya pilihan ganda tapi juga ada esai. Selama ini soal UN hanya menyajikan soal pilihan ganda. Rencana Kemendikbud yang akan menyertakan soal esai pada UN merupakan langkah maju. Langkah untuk membiasakan siswa memiliki keterampilan berpikir tingkat tinggi/High Order Thinking Skill (HOTS).
Bercermin pada hasil tes Programme for International Student Assessment (PISA). PISA merupakan tes tingkat internasional untuk mengukur kemampuan anak-anak usia 15 tahun pada bidang membaca, matematika, dan sains. Pada hasil tes PISA 2015 menempatkan Indonesia pada peringkat 69 dari 76 negara peserta. Hasil tersebut menunjukkan bahwa kemampuan anak-anak Indonesia dalam membaca, matematika, dan sains masih rendah.
Mengapa kemampuan anak-anak Indonesia pada bidang tersebut rendah. Ini karena standar tes PISA menggunakan bentuk-bentuk soal yang dalam menyelesaikannya membutuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi/HOTS. Tes PISA menggunakan bentuk soal esai kompleks. Soal yang stimulusnya tidak hanya berupa pertanyaan sederhana tetapi pertanyaan yang dilengkapi informasi data, angka, tabel dan grafik. Soal-soal PISA menuntut anak untuk mampu berpikir kritis, problem solving, dan berkomunikasi secara tertulis. Tes PISA merupakan salah satu contoh asesmen yang tidak hanya mengukur pengetahuan/knowledge, tetapi juga keterampilan/skills yang diperoleh dari pengetahuan yang dimiliki.
Padahal anak-anak Indonesia tidak terbiasa mengerjakan soal-soal model tersebut. Anak-anak Indonesia hanya terbiasa dengan model soal yang sifatnya mengingat (me-recall). Anak menghafal fakta-fakta dan konsep-konsep. Kalau mendasarkan pada Taxonomy Bloom hanya soal-soal level C1 (hafalan) (Bloom, 1956). Maka tidak heran dari beberapa kali keikutsertaan Indonesia dalam tes PISA hasilnya selalu rendah.
Transformasi Pembelajaran
Pada Kurikulum 2013 subtansinya menghendaki pembelajaran HOTS. Materi pelajaran tersusun secara tematik. Pembelajaran tematik tepat apabila penyajian materi pelajarannya berbasis masalah (problem based). Pembelajaran tidak menuntut peserta didik menghafal fakta atau konsep. Tetapi lebih dari itu bagaimana agar peserta didik mampu menggunakan pengetahuan tentang fakta dan konsep tersebut. Menggunakan pengetahuan yang dimiliki untuk menyelesaikan suatu permasalahan nyata.
Penerapan pembelajaran berbasis masalah dapat menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan dengan menggunakan alur pikir ilmiah. Prosedur ilmiah berangkat dari suatu masalah, mengidentifikasi masalah, mengumpulkan data, mengolah data, menyimpulkan dan menyajikan. Dengan menerapkan pendekatan saintifik dalam pembelajaran dapat membiasakan anak berpikir dengan alur ilmiah.
Pada tahap evaluasi dapat menerapkan penilaian autentik. Penilaian autentik merupakan penilain berbasis proses. Penilaian bentuk tes standar/standardize test tidak mampu menilai secara komprehensif model pembelajaran berbasis masalah. Ini karena pada pembelajaran berbasis masalah menerapkan pembelajaran mendalam (deep learning) terhadap suatu materi. Tepat apabila menggunakan bentuk instrumen test dengan penilaian observasi/pengamatan selama proses pembelajaran.
Tidak tepat apabila pembelajaran berbasis masalah penilaiannya menggunakan model tes pilihan ganda. Dengan soal-soal sederhana berupa menghafal fakta dan konsep. Pembelajaran berbasis masalah memerlukan soal-soal esai yang membutuhkan jawaban terbuka. Jawaban yang menuntut untuk menguasai pengetahuan dan sumber referensi lengkap.
Apabila proses pembelajaran sudah dapat seperti ini. Peserta didik akan terbiasa menerapakan cara berpikir tinggi dalam belajar. Pembelajarannya dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan 4C (critical thinking, creativity, collaboration, dan communication).
Perlu tranformasi pembelajaran. Harus ada niatan kuat mengubah paradigma mengajar. Pekerjaan guru tidak berhenti pada pemindahan pengetahuan (transfer of knowledge). Tugas guru tidak lagi hanya sekedar memberi pengetahuan pada peserta didik. Tetapi berubah menjadi fasilitator dan pembimbing bagi peserta didik dalam tahap mengkonstruk pada proses mendapatkan pengetahuan.
Pembelajaran berbasis masalah dalam penyampaiannya membutuhkan model-model pembelajaran inovatif. Model ceramah saja tidak cukup untuk menerapkan pembelajaran berbasis masalah. Guru mutlak menguasai keterampilan menerapkan sintak/prosedur model-model pembelajaran seperti Project Based Learning, Problem Based Instruction, Inquiry Learning, Cooperative Learning, Contextual Teaching and Learning.
Rencana adanya soal esai pada UN merupakan langkah tepat. Tepat dalam upaya membiasakan peserta didik agar memiliki kemampuan berpikir kritis, problem solver, dan berkomunikasi. Suatu kompetensi yang dibutuhkan menghadapi kompetisi abad 21.(*/jan)