Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Sosial Media Sahabat Guru

Sosial Media Sahabat Guru

BERBAGI
Subaryono, S. Pd. (Guru SD Negeri Sumowono, Purworejo)
Subaryono, S. Pd. (Guru SD Negeri Sumowono, Purworejo)

JATENGPOS.CO.ID, – Di era yang disebut dengan era millennial ini, sosial media adalah hal yang tidak bisa lepas dari kehidupan kita. Bahkan, siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) pun telah pandai menggunakan sosial media. Dengan berbagai macam gadget dan fitur-fitur yang beragam di dalamnya, sangat mudah bagi masyarakat untuk terhubung ke dunia maya. Sehingga mau tidak mau, seorang guru harus mampu beradaptasi dengan sosial media. Namun, tidak dapat dipungkiri, bahwa penggunaan sosial media disamping memilikibanyak keuntungan juga memilikibeberapa kerugian di dalam dunia guruan.

Sosial media memenuhi kebutuhan untuk berinteraksi sosial. Dengan banyaknya media seperti Facebook, WhatsApp, dan Skype, masyarakat kini lebih mudah untuk menjangkau keluarga maupun kolega di berbagai tempat di penjuru dunia. Terlebih lagi, hampir semua sosial media telah dilengkapi dengan fitur panggilan video yang memungkinkan kita untuk bertatap muka tanpa harus benar-benar berkunjung. Fitur tersebut dapat dimanfaatkan guru untuk menjadi bagian dari media pembelajaran, misalnya panggilan video untuk memperlihatkan kondisi persawahan atau pesisir pantai secara nyata kepada siswa.

Kemudahan untuk menerima informasi terbaru juga bisa didapatkan dari sosial media. Media berita kini tak hanya terbatas pada media cetak saja, melainkan juga telah merambah ke dunia maya. Koran-koran baik lokal maupun nasional telah memiliki website yang mudah untuk diakses serta dibagikan tautannya melalui sosial media. Hal ini tentunya memudahkan guru untuk memberikan materi dan bahan ajar maupun penugasan kepada siswa. Misalnya, guru dapat membagikan tautan berita mengenai bahan  ajar yang digunakan untuk siswa agar mampu belajar mandiri dan terarah di luar sekolah.

Tidak kalah penting, sosial media juga membantu guru untuk lebih dekat dengan peserta didik. Di zaman dahulu, sebelum adanya sosial media, guru memiliki kesulitan untuk mengetahui permasalahan serta kehidupan pribadi peserta didik, terlebih lagi jika tempat tinggal peserta didik jauh dari lingkungan sekolah. Namun, dengan adanya sosial media sekarang ini, guru dapat dengan mudah mengetahui aktivitas dari peserta didiknya, dan mampu berkomunikasi secara pribadi sehingga jika ada permasalahan dalam proses belajar mengajar dapat segera diselesaikan.

Di sisi lain, penggunaan sosial media dapat menjerumuskan masyarakat dalam perilaku boros. Sosial media hanya dapat digunakan jika ada koneksi internet yang memerlukan biaya data. Dengan dorongan akan kebutuhan berkomunikasi dan mendapatkan informasi, masyarakat tak akan segan untuk menghabiskan uang untuk membeli kuota data yang dibutuhkan. Apalagi jika siswa SD telah memegang gadgetdan belum mampu untuk menggunakannya secara efisien, meminta uang lebih kepada orang tua untuk membeli kuota data akan menjadi hal yang sangat biasa. Di sinilah perlu peran guru sekolah dasar untuk memberikan sosialisasi akan pentingnya perilaku hemat dan cara menggunakan gadget secara maksimal.

Sosial media juga mampu memberi dampak negatif dengan bebasnya informasi yang tersebar di dalamnya. Dunia maya tidak memberikan penyaring untuk informasi yang tersedia. Hal ini tidak memberi pengaruh besar bagi orang dewasa yang telah mampu untuk memilah dan memilih informasi, namun lain halnya dengan anak-anak. Ketika mereka mengakses informasi tanpa pendampingandari orang dewasa, mereka mampu membuka situs-situs yang menyediakan informasi yang tidak sesuai dengan usia mereka, misalnya mereka melakukan kekerasan pada teman sekelasnya dipicu oleh video yang mereka lihat di sosial media. Di sinilah seorang guru harus berperan untukmenanamkan konsep dan memberi arahan bagi peserta didik agar mampu memilah dan memilih informasi yang baik  bagi kepentingan belajar mereka.

Kebebasan berkomunikasi di dunia maya juga berbahaya untuk anak-anak. Walaupun di daerah yang berbeda, komunikasi dapat dengan mudah dilakukan dengan sosial media sebagai perantara. Anak-anak akan mudah untuk dipengaruhi oknum-oknum yang memiliki kepentingan tertentu. Terjadinya kekerasan (bullying) di sekolah, kasus penculikan anak, dan kasus negatif lainnya banyak yang dimulai dengan melibatkan percakapan melaluisosial media. Jika pertemanan dunia maya telah terjalin, anak akan mudah untuk dibujuk untuk bertemu langsung. Untuk menghindari hal tersebut, guru perlu memberikan saran untuk peserta didiknya agar waspada dalam menggunakan sosial media.

Secara keseluruhan, sosial media adalah perantara yang baik untuk guru dan peserta didik di era ini. Sosial media memberi kemudahan dan kedekatan sehingga proses belajar mengajar akan memiliki banyak ragam jika guru mampu mencurahkan kreativitas ke dalamnya. Namun, penggunaan sosial media juga perlu diawasi agar informasi yang tidak seharusnya didapatkan tidak diterima oleh peserta didik.Akhirnya, tugas guru adalah mampu bersahabat dengan sosial media dan memanfaatkannya untuk pembelajaran sehari-hari serta mengarahkan peserta didik untuk menggunakannya sebaik mungkin.

Subaryono, S. Pd.

(Guru SD Negeri Sumowono, Purworejo)
BERBAGI