Beranda Jateng Sukses Petani Aloe Vera Tidar Mengundang Kedatangan Bea Cukai

Sukses Petani Aloe Vera Tidar Mengundang Kedatangan Bea Cukai

BERBAGI
Pekarangan lidah buaya milik warga Tidar Campur menjadi daerah jujukan pegawai Bea Cukai Jawa Tengah melakukan studi banding. foto:wiwid arif/jpnn

JATENGPOS.CO.ID. MAGELANG- Budidaya tanaman lidah buaya (aloe vera) di Tidar Campur, Kelurahan Tidar Selatan, Magelang Selatan kembali menjadi jujukan kunjungan kerja. Kemarin, kunjungan datang dari Dinas Bea Cukai Provinsi Jawa Tengah.

Kunjungan ini bukan yang pertama kali bagi warga Tidar Campur. Pada tahun lalu, kampung yang berada di kawasan perbatasan dengan Kabupaten Magelang itu juga acap dikunjungi turis asing.

Petugas bea cukai yang melakukan studi banding itu rata-rata mengetahui informasi dari internet. Kedatangan mereka tidak lain untuk belajar menciptakan pemanfaatan tanaman aloe vera. Mereka juga didampingi Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Disperpa) Sri Retno Murtiningsih beserta jajaran.

Pembibitan lidah buaya di Kampung Tidar Campur, dirintis sejak tahun 2015 lalu. Sekarang cukup banyak pemuda setempat yang menggeluti budidaya lidah buaya karena dirasa sangat menguntungkan. Seperti yang dilakukan Nurdi Setyo Bowo (38).

”Waktu itu saya ketemu dengan Anggota DPRD Kota Magelang, Pak Waluyo dan menyarankan supaya saya membuat terobosan menanam lidah buaya.Karena tanaman ini banyak manfaatnya. Saya tekuni dan berlanjut seperti sekarang,” katanya.

Di atas lahan yang tak begitu luas milik Bowo, sapaan akrabnya, memiliki tumpukan pot berisi aloe vera tertanam rapi. Di lahan bawahnya, tanaman lidah buaya siap panen sedang digemburkan tanahnya.

”Yang saya tanam di lahan ini sekitar 2.000 meter persegi, yang dirumah ada sekitar 1.600 meter persegi kalau ditotal,” ujarnya.

Berkat ribuan tanaman aloe vera yang ia lakoni sejak tiga tahun lalu itu, Bowo kini mampu meraub omzet hingga jutaan rupiah. Keberhasilan ini pula yang membuatnya meninggalkan bisnis sebelumnya sebagai seorang peternak lele dan ayam.

”Modal awal tahun 2015 lalu hanya sekitar Rp3 juta saya dapat dari jualan lele. Waktu itu saya belikan bibit semua. Sekarang tiga tahun berjalan sudah mendapatkan pendapatan sekitar Rp14 juta untuk penjualan bibit dan penjualan minuman nata aole vera yang saya produksi,” sebutnya.

Kini, dengan pendapatannya mencapai belasan juta, Bowo mampu menggaet pemuda setempat untuk turut terlibat dalam budidaya lidah buaya. Bahkan, pekarangannya yang berada di tepian Kali Elo itu kerap menjadi jujukan studi banding.

”Di sini sering jadi jujukan studi banding. Selain petugas Bea Cukai juga pernah ada dua turis asal Singapura. Mereka kagum karena lidah buaya biasanya hanya dipakai sabun, tapi ternyata menyehatkan jika dikonsumsi,” ucapnya.

Tak hanya Bowo, kesibukan mengolah lidah buaya baru-baru ini juga menjadi rutinitas sejumlah ibu rumah tangga Kampung Tidar Campur. Ditangan para ibu rumah tangga inilah, aloe vera bisa disulap menjadi kue, minuman nata, sirup, dan banyak makanan olahan lain yang kaya manfaat.

”Perawatannya nggak ribet, cuma disiram saja dan nggak ada satu tahun sudah bisa dipanen. Hama juga nggak ada, paling cuma bekicot, dibuang selesai. Kalau pakai pestisida malah hasil panennya tidak bagus,” ujar Nani Handayani, warga setempat. (wid/jpnn/muz)

BERBAGI