Beranda Internasional Tembok Perbatasan Baru Israel Melanggar Kedaulatan Lebanon

Tembok Perbatasan Baru Israel Melanggar Kedaulatan Lebanon

BERBAGI

JATENGPOS.CO.ID. BEIRUT- Tembok yang akan dibangun Israel di perbatasan menandai pelanggaran kedaulatan Lebanon. Hal itu disampaikan milter Lebanon mengatakan dalam pertemuan perwira militer Lebanon dan Israel yang dipimpin oleh penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa, Senin, bahwa

Ketaksepakatan mengenai tembok dan rencana Lebanon untuk mengeksplorasi minyak dan gas lepas pantai di perairan maritim yang disengketakan telah meningkatkan ketegangan antara Israel dan Lebanon, yang merupakan markas bagi kelompok Syiah Hizbullah yang didukung Iran.

Tentara Israel sebelumnya mengatakan pekerjaan konstruksi tersebut sedang dilakukan di wilayah berdaulat Israel.

Pemerintah Lebanon mengatakan bahwa tembok itu melalui wilayah yang merupakan wilayah Lebanon namun terletak di sisi Israel dari Garis Biru yang ditetapkan Perserikatan Bangsa Bangsa, yang membatasi penarikan mundur Israel dari Lebanon selatan pada tahun 2000.

Menteri pertahanan Israel yang merujuk sengketa itu minggu lalu, menuduh Hizbullah melakukan provokasi, dengan mengatakan bahwa Israel telah menarik diri ke perbatasan internasional yang diakui dengan Lebanon dan ditantang terkait penghalang di wilayah Israel.

Kedua belah pihak tersebut bertemu di bawah pengawasan pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa Bangsa UNIFIL dalam pertemuan tripartit reguler mereka terkait posisi Perserikatan Bangsa Bangsa di daerah perbatasan Ras al-Naqoura.

“Pihak Lebanon meninjau kembali masalah tembok yang ingin dibangun oleh musuh Israel … mengkonfirmasikan posisi pemerintah Lebanon menolak pembangunan tembok ini karena melanggar kedaulatan Lebanon,” kata militer Lebanon dalam sebuah pernyataan setelah pertemuan pada Senin (5/2).

Hizbullah dan Israel terakhir bertempur dalam konflik besar di tahun 2006.

Dalam sebuah pernyataan, UNIFIL mengatakan bahwa pertemuan tersebut telah memperoleh perhatian yang baik “karena pekerjaan teknis di sebelah selatan Garis Biru yang sebelumnya diumumkan oleh pihak Israel “. Komandan pasukan UNIFIL Mayor Jenderal Beary mencatat bahwa ada “periode ketenangan yang relatif” sejak pertemuan tripartit terakhir.

“Namun, ada banyak aktivitas di sepanjang Garis Biru. Saya ingin mengakui pengekangan yang dilakukan oleh kedua belah pihak dalam mengurangi ketegangan dan menjaga stabilitas. Tidak ada yang ingin kembali ke masa ketegangan yang meningkat dan pelanggaran terhadap penghentian permusuhan, “katanya.

Sebelumnya, Perdana Menteri Lebanon Saad al-Hariri mengatakan bahwa Lebanon tidak akan memaksa pengungsi kembali ke Suriah namun meminta bantuan internasional lebih banyak dalam menangani krisis pengungsi.

Lebih dari satu juta orang Suriah melarikan diri ke negara tetangganya, Lebanon, setelah perang meletus di negara mereka pada tahun 2011 dan sekarang jumlahnya mencapai sekitar seperempat dari populasi negara itu. (ant/muz)

BERBAGI