Beranda Hukum & Kriminal Terduga Teroris Temanggung Pendiam tak Pernah Bergaul

Terduga Teroris Temanggung Pendiam tak Pernah Bergaul

BERBAGI
Sejumlah petugas Kepolisian Resor Temanggung mengamankan toko grosir sepatu di Desa Bengkal Kecamatan Kranggan lokasi penanggapan terduga teroris. FOTO: SETYO WUWUH/JPNN

JATENGPOS.CO.ID. TEMANGGUNG- Selama empat bulan tinggal di Desa Bengkal Kecamatan Kranggan, Agung Nugroho tidak banyak diketahui oleh warga secara pasti. Pasalnya, warga asal Binorong RT 4 RW 5 Kecamatan Bawang Banjarnegara itu tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat.

Bahkan yang bersangkutan tidak pernah datang ke kantor desa untuk meminta izin menempati ruko yang digunakannya untuk berjualan sepatu sandal dan alat tulis.

Pantas jika Desa Bengkal Kecamatan Kranggan terkejut dengan penangkapaan terduga teroris Agung Nugroho dan Muhammad Zaenal warga Bengkal Kidul RT 5 RW 1 Desa Bengkal Kecamatan Kranggan.

Bahkan selama empat bulan tinggal dan berniaga sepatu sendal serta alat tulis, terduga sangat jarang bergaul dengan warga. Tidak hanya itu, Agung Nugroho yang merupakan warga pendatang juga tidak pernah mendatangi kantor kelurahan untuk meminta izin kepada perangkat desa.

“Selama tinggal dan menempati ruko itu, Agung Nugroho sama sekali belum pernah datang ke kantor desa,” ungkap Sekretaris Desa Bengkal Kecamatan Kranggan Rokhman Gunadi.

Oleh karena itu, saat dilakukan penggrebekan dirinya sempat merasa kaget, jika ada salah satu warganya yang terdaftar atau masuk dalam jaringan teroris.

“Kaget banget, soalnya selama ini Agung Nugroho sama sekali tidak pernah bersosialisasi dengan warga, yang bersangkutan juga sama sekali tidak pernah mengikuti kegiatan yang dilakukan warga,” ujarnya.

Senada juga diungkapkan oleh Sukirman warga setempat yang tempat tinggalnya tidak jauh dari rumah terduga. Selama dirinya berjualan mie ayam, beberapa kali terduga datang dan makan makan di warungnya.

Hanya saja, terduga Agung Nugroho sama sekali tidak pernah bercerita atau ngobrol dengan dirinya.

“Beberapa kali makan mie ayam di tempat saya, tapi ya gitu kalau sudah makan bayar terus pulang lagi, tidak pernah ngobrol-ngobrol seperti pelanggan lainnya,” ujarnya.

Berbeda dengan Muhammad Zaenal, karena warga asli Bengkal, ia masih sering mengikuti kegiatan sosial di lingkungan.

“Kalau yang Zaenal karena dia asli Bengkal jadi masih menyempatkan diri untuk bersosialisasi dengan warga,” ujarnya.

Terpisah Kapolres Temanggung AKBP Wiyono Eko Prasetyo meminta kepada perangkat desa untuk lebih peka terhadap lingkungan, jika ada penduduk baru sebaiknya untuk di data.

“Jangan menunggu orang atau warga baru itu datang ke kantor desa, tapi ada baiknya perangkat desa mendatangi warga baru untuk mendata. Sehingga apa tujuan dari warga baru itu bisa benar-benar diketahui,” pintanya. (wuh/jpnn/muz)