Beranda Sekolah Hebat Opini Guru TGT Tingkatkan Hasil Belajar Matematika

TGT Tingkatkan Hasil Belajar Matematika

215
Sarwati, S.Pd Guru di SDN Bansari, Bansari, Temanggung
Sarwati, S.Pd Guru di SDN Bansari, Bansari, Temanggung

“Guru” salah satu faktor yang dapat mempengaruhi keberhasilan belajar siswa. Sebagai fasislitator keberhasilan belajar, guru perlu menerapkan pembelajaran yang menarik dan melibatkan aktivitas siswa. Guru juga perlu memilih model pembelajaran yang sesuai untuk kondisi kelas dan materi yang diampunya. Namun, pemilihan model pembelajaran tidak selalu sesuai dengan harapan. Hal ini dikarenakan tidak ada model yang sesuai dengan semua pembelajaran.

Demikian pula yang terjadi di kelas IV SD Negeri Bansari. Pembelajaran luas dan keliling bangun datar belum mencapai hasil menggembirakan karena pemilihan model yang salah. Hanya 45% siswa mampu memenuhi kriteria ketuntasan.

Dari latar belakang tersebut guru kemudian menerapkan model teams games tournament (TGT). Selain untuk meningkatkan hasil belajar, model ini diharapkan mampu meningkatkan kerjasama dan keaktifan siswa. Isjoni (2013: 83-84) mengatakan bahwa TGT adalah salah satu tipe pembelajaran kooperatif yang menempatkan siswa dalam kelompok-kelompok belajar yang beranggotakan 5 dampai 6 orang yang memiliki kemampuan, jenis kelamin dan suku atau ras yang berbeda.

Menurut Slavin (2013: 78-80), komponen-komponen TGT meliputi presentasi kelas, kelompok (teams), games (permainan), tournaments (kompetisi), dan penghargaan atau rekognisi kelompok.

Di awal pembelajaran guru melakukan presentasi di kelas. Kegiatan presentasi disertai dengan kegiatan tanya jawab dua arah antara guru dan siswa. Siswa harus benar-benar fokus dalam tahap ini agar bisa melanjutkan kegiatan berikutnya dengan baik.

Siswa kemudian dikelompokkan secara heterogen. Tugas kelompok ini memastikan bahwa semua anggotanya belajar sesuai dengan kriteria yang diharuskan, sehingga akan dapat melakukan permainan (games) dengan baik nantinya. Siswa juga mengerjakan diskusi kelompok untuk menyelesaikan tugas atau lembar kerja yang dibuat guru.

Games disusun dengan menggunakan kartu soal bernomor. Sedang, kompetisi merupakan sebuah struktur dimana game berlangsung. Kompetisi dilaksanakan pada akhir unit pokok bahasan, setelah guru memberikan presentasi kelas dan kelompok mengerjakan lembar kerja. Seluruh siswa terlibat dalam kompetisi untuk mewakili kelompoknya. Masing-masing siswa memiliki kesempatan sama dalam mengumpulkan skor kelompok. Seorang siswa dipertemukan dengan siswa-siswa lain dengan kemampuan akademik yang setara dengan dirinya.

Bagian akhir TGT di kelas adalah memberi penghargaan setelah kompetisi dilaksanakan. Kelompok dengan akumulasi skor sangat tinggi dijuluki super team, kelompok dengan skor tinggi dijuluki great team dan kelompok dengan skor menengah disebut good team.

Slavin (2009: 170) menyebutkan kelebihan dari TGT adalah siswa memiliki kebebasan untuk berinteraksi dan menggunakan pendapatnya, rasa percaya diri siswa menjadi tinggi, pemahaman yang lebih mendalam terhadap materi pelajaran, meningkatkan kebaikan budi, kepekaan, toleransi antara siswa dengan siswa dan antara siswa dengan guru, kerjasama antar siswa akan membuat interaksi belajar dalam kelas menjadi hidup dan tidak membosankan.

Namun, sebagus apapun sebuah model pembelajaran selalu memilki kelemahan jika tidak diterapkan dengan tepat. Dalam TGT, pembelajaran harus dipersiapkan dengan matang, kesulitan pengelompokan siswa secara heterogen, perlu adanya fasilitas yang mendukung, memilki kecenderungan meluasnya topik pembicaraan saat terjadi diskusi, bahkan diskusi kadang didominasi oleh satu atau dua orang saja.

Di kelas IV SD Negeri Bansari sendiri, model TGT berhasil meningkatkan hasil belajar luas dan keliling bangun datar hingga mencapai angka ketuntasan 78%. Selain itu, TGT juga meningkatkan antusias, kerjasama dan keaktifan siswa.

Sarwati, S.Pd

Guru di SDN Bansari, Bansari,  Temanggung