Beranda Sekolah Hebat Opini Guru ”Thipash” Tingkatkan Hasil Belajar IPA

”Thipash” Tingkatkan Hasil Belajar IPA

165
SITI FATONAH, M.Pd. GURU SD NEGERI 1 BULUKERTO WONOGIRI
SITI FATONAH, M.Pd. GURU SD NEGERI 1 BULUKERTO WONOGIRI

Ilmu Pengetahuan Alam(IPA) di tingkat sekolah dasar(SD) mempunyai tujuan untuk meletakkan dasar-dasar dan prinsip akan IPA, sehingga dapat diaplikasikan di lingkungan sekitar. Pada saat proses pembelajaran sebagian guru masih menekankan pada konsep-konsep dalam buku dan belum menggunakan model-model pembelajaran secara maksimal dan sesuai. Hal itu memperlihatkan bahwa guru lebih aktif dan peserta didik cenderung pasif yang mengakibatkan kebosanan dan tidak memperhatikan ketika kegiatan pembelajaran berlangsung. Hal itu juga diperparah lagi dengan hasil belajar peserta didik yang masih rendah atau masih di bawah KKM. Keadaan tersebut diduga juga terjadi di kelas IV SDN 1 Bulukerto di mana dalam kompetensi dasar membandingkan siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup serta mengaitkan dengan upaya pelestariannya, hasil belajar peserta didik rendah berdasarkan indikator dimana masih banyak yang memperoleh nilai tidak tuntas yaitu sebesar 62,5% dengan KKM 71. Hal itu membuktikan bahwa hasil belajar peserta didik masih rendah. Untuk menyelesaikan permasalahan tersebut guru mencoba menerapkan model pembelajaran Think Pair Share (Thipash).

Menurut Hariyanto & Warsono (2012: 202) model cooperative learning Think Pair Share berarti berpikir-berpasangan-berbagi yang oleh Johnson & Johnson menyebutnya dengan tengoklah pasanganmu (Turn To Your Partner). Zainal Aqib (2014: 24) juga mengemukakan bahwa model pembelajaran Think Pair Share merupakan model pembelajaran yang dirancang untuk memengaruhi pola interaksi siswa. Adapun sintak model pembelajaran Thipash yang pertama yaitu think (berpikir), yakni guru mengajukan permasalahan dan peserta didik diberi waktu untuk berpikir sendiri jawaban atas permasalahan tersebut. Sintak kedua yaitu pair (berpasangan), yakni guru meminta peserta didik berpasangan dan mendiskusikan mengenai apa yang dipikirkan. Sintak ketiga yaitu share (berbagi), yakni guru meminta pasangan-pasangan berbagi dengan keseluruhan kelas yang dibahas. Penerapan Thipash pada kompetensi dasar ini sangat menarik karena peserta didik dituntut aktif dan saling berinteraksi dengan pasangannya untuk menyelesaikan permasalahan yang diberikan.

Melalui kegiatan tersebut peserta didik terlihat antusias dan aktif serta saling berinteraksi saat kegiatan pembelajaran. Peserta didik juga saling berdiskusi dengan pasangannya yang kemudian saling berbagi atas apa yang telah dipikirkan. Guru juga memberikan reward kepada peserta didik sehingga termotivasi dan merasa bersemangat saat pembelajaran berlangsung. Ketika motivasi belajar meningkat maka hasil belajarnya juga akan meningkat dan sesuai dengan KKM yang ditentukan. Dari keadaan awal ketika pembelajaran belum menerapkan Thipash, ketuntasan peserta didik pada materi ini sebesar 37,5% dan setelah menerapkan ketuntasannya menjadi 62, 5% pada siklus I dan pada siklus II mencapai 87,5%.

Berdasakan data di atas, dapat simpulkan bahwa model pembelajaran Thipash dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar peserta didik khususnya pada materi membandingkan siklus hidup beberapa jenis makhluk hidup serta mengaitkan dengan upaya pelestariannya. Thipash juga bisa menjadi motivasi belajar bagi peserta didik karena dengan melakukan aktivitas berpikir, berpasangan dan berbagi dalam menyelesaikan permasalahan peserta didik bisa sangat antusias dan senang pada saat proses pembelajaran. Guru juga bisa menerapkan Thipash pada materi lainnya yang nantinya bisa meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Buktikan!

SITI FATONAH, M.Pd.
GURU SD NEGERI 1 BULUKERTO WONOGIRI