Beranda Headline Tiga ABG “Dijual” Via WhatsApp

Tiga ABG “Dijual” Via WhatsApp

BERBAGI
DIPERIKSA : Para gadis yang diperdagangkan ( duduk menghadap penyidik) sedang diperiksa oleh petugas untuk dimintai keterangannya. ( Foto : Dekan Bawono/ Jateng Pos).

SALATIGA– Jajaran Reskrim Polres Salatiga berhasil membongkar perdagangan gadis dengan tersangka seorang ibu rumah tangga berinisial In (38) warga Desa/Kecamatan Bringin RT 09 RW 01, Kabupaten Semarang. Pelaku ditangkap saat bersama tiga gadis ‘dagangannya’ di Hotel Wahid Salatiga, Jumat (16/3) malam.

Selain mengamankan pelaku, petugas juga mengamankan tiga gadis tersebut sebagai saksi. Mereka adalah Jem (19) seorang mahasiswi asal Sambiroto,Semarang, Ig (17) warga Margosari, Salatiga dan Rat (17) warga Gogodalem, Bringin.  Ig dan Rat berprofesi sebagai pemandu karaoke.

Terbongkarnya kasus dugaan perdagangan gadis ini merupakan laporan dari masyarakat dan hasil penyelidikan petugas. Dimana, pelaku In sering menawarkan ‘dagangan’ gadis ke sejumlah orang melalui pesan Whattshap ( WA).

Seiring perjalanan waktu, bisnis haram In ini diketahui oleh petugas yang kemudian melakukan pelacakkan. Jumat malam kemarin, petugas mendapat informasi, pelaku In membawa tiga gadis dan akan bertransaksi dengan seorang pria hidung belang di Hotel Wahid.

Petugas pun langsung bergerak cepat dan akhirnya berhasil menangkap In di kamar no.325, berikut tiga gadis yang diduga akan dijualnya. Saat ditangkap, awalnya pelaku mengelak, namun setelah ditunjukkan bukti-bukti, pelaku mengakui perbuatannya.

Dari penangkapan tersebut, petugas mengamankan uang Rp 1 juta yang diduga hasil transaksi, sebuah handphone sebagai sarana komunikasi serta billi kamar hotel. Pelaku In kemudian digelandang ke unit PPA Polres Salatiga bersama tiga gadis sebagai saksi. Sementara dihadapan penyidik, pelaku mengaku nekat menjadi mucikari karena terdesak ekonomi.

Kapolres Salatiga AKBP Yimmy Kurniawan melalui Kasubag Humas Kompol I Nyoman Suasma SH menjelaskan, perbuatan pelaku melanggar pasal 2 UU RI No.21 tahun 2007 tentang tindak perdagangan orang Jo pasal 88 UU RI No.35 tahun 2014 perubahan atas UU RI No.23 tahun 2022 tentang perlindungan anak.

Ditambahkan Nyoman, dalam undang-undang tersebut disebutkan setiap orang yang melakukan perekrutan, penganggkutan, penampungan, pengiriman pemindahan atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan,penyekapan, pemalsuan, penipuan penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan atau member bayaran atau manfaat meski memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain dengan tujuan mengekploitasi orang tersebut di wilayah Indonesia.

“ Ditambahkan lagi di junc to, setiap orang yang mengekploitasi ekonomi atau sexual anak dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain,” pungkasnya. (deb/drh)

 

BERBAGI