Beranda Sekolah Hebat Opini Guru Trik Mengajarkan Puisi pada Siswa SD

Trik Mengajarkan Puisi pada Siswa SD

5117
Reni Hernosasi, S. Pd. SD SDN Banaran 4, Sambungmacan, Sragen
Reni Hernosasi, S. Pd. SD ,SDN Banaran 4, Sambungmacan, Sragen

SRAGEN – Ketrampilan menulis puisi merupakan bagian materi pelajaran yang ada dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Menurut Waluyo (1995:25) Puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan struktur fisik dan struktur batin . Dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia,  keterampilan menulis puisi merupaka aspek menulis yang merupakan salah satu dari empat aspek penting dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia yaitu aspek mendengar, berbicara, membaca, dan menulis. Siswa di sini diharapkan mampu menuangkan ide-ide dalam bentuk  tulisan dengan menggunakan bahasa Indonesia hingga menjadi sebuah karya sastra. Sehingga tersusun menjadi bait-bait puisi dengan pemilihan kata yang tepat dan menggunakan majas pada puisi. Dan itu merupakan pekerjaan yang tidak gampang bagi siswa pada umumnya.

Banyak teori yang mengemukakan bahwa menulis puisi bermula dari tema yang menjadi awal yang dengan menemukan kata-kata yang kemudian dikembangkan dalam bentuk bait puisi. Namun pada kenyataannya siswa masih sulit untuk menjabarkan tema yang sudah kita tentukan ke dalam bait-bait puisi seperti yang kita inginkan.. Dari pengalaman saya mengajar, jika beberapa siswa mampu membuat puisi, kalimat–kalimat dalam bait-bait puisi masih panjang seperti kalimat-kalimat prosa. Sebagian siswa sangat kesulitan untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk disusun menjadi puisi yang indah. Ketika diminta untuk membacakan di depan teman-temannyapun sangat tidak yakin dengan apa yang ditulisnya sendiri.

Kesulitan siswa dalam mengembangkan ide-idenya terlihat dengan waktu pengerjaan yang membutuhkan waktu yang lama, kata-kata yang dipilhnya kurang tepat, larik dalm bait masih panjang-panjang seperti  kalimat prosa, gaya bahasa yang digunakan masih seperti narasi,  jumlah larik dalm bait masih terbatas, dalam menentukan judul puisi masih terpengaruh dengan contoh guru atau kurang bervariasi. Kekurangpercaayaan diri siswa sangat terlihat pada kebanyakan siswa dengan melihat hasil teman sebangkunya yang kemudian ditirunya sehingga akan menghasilkan puisi yang kadang lauh dari tema puisi. Dan ini merupakan tantangan tersendiri bagi kita guru SD yang dituntut untuk mengusai semua mata pelajaran di sekolah dasar khususnya dalam hal ini mata pelajaran bahasa Indonesia tentang karya sastra anak.

Sebelum menulis puisi siswa kita ajak untuk belajar tentang unsur-unsur puisi. Sajikan sebuah karya puisi yang memang sudah kita kuasai dan sesuai dengan usia anak. Tayangkan dalam layar monitor agar konsentrasi siswa terpusat, bila mana perlu sudah dalam bentuk video sehingga terlihat bagaimana membaca dan terlihat larik-larik dalam bait-bait puisinya atau menggunakan media audio visual. Secara otomatis siswa akan terbawa untuk mmembaca tiap larik dan tiap-tiap baitnya. Kemudian kita tunjukkan unsur-unsur puisi pada puisi yang sudah kita saksikan dan baca bersama. Yaitu bahwa ide pokok yang menjiwai seluruh isi keseluruhan puisi disebut tema dimana amanat akan tersurat atau tersurat kepada pembacanya. Gambaran angan (abstrak) yang dihadirkan dan dapat ditangkap panca indra , dapat dilihat, dirasa, didengar, dibaca adalah pengimajinasian. Persajakan atau persamaan bunyi yang trdapat pada puisi disebut rima. Adapaun pilihan kata yang digunakan penyair dalam pembuatan puisi yang memiliki makna dan keindahan disebut diksi.

Untuk tahap diatas kita sudah dituntut ketelaten dan kesabaran dalam menanamkan konsep pada siswa yang nota bene memiliki daya tangkap yang berbeda. Untuk mengembangkan ke dalam keterampilan menulis lebih lanjut, guru memerlukan media yang lebih tepat lagi agar komunikasi berjalan lebih lanacar dan hasil yang lebih maksimal. Selain media audio visual yang kita jadikan alat dalam strategi belajar, siswa akan lebih menyenangkan apabila menggunakan media yang nyata. Media alam sekitar merupakan media yang murah, mudah dijangkau, suasana akan lebih santai sehingga menimbulkan motivasi yang lebih tinggi bagi siswa.

Jika kebetulan sekolah kita di pedesaan bisa kita ajak ke sawah, tepi sungai yang dekat dengan rumah penduduk , perkebunan, atau tempat yang menjadi kesepakatan dengan siswa kita. Siswa diberi tugas untuk mencatat benda-benda atau aktivitas apa yang dilihat, dirasakan, didengar sebagai kata-kata kunci untuk dituangkan dalam larik-larik puisi.  Kembalilah ke kelas guna menyusun kata-kata kunci yang sudah dicatat menjadi susunan puisi dalam rancangan kasar. Kemudian pada kegiatan akhir dengan bimbingan guru siswa menuliskan ide kasar yang telah dibuat ke dalam susunan puisi yang lebih rapi. Setela dinilai , pajangkan hasil siswa dan adakan kunjung karya. Siswa akan antusias untuk membandingkan karya sendiri dengn temannya. Siswa dalam belajar tudak hanya butuh teori tapi butuh ketelatenan, kesabaran, kreativitas dari seorang guru. Salam semangat untuk sahabat guru.

Reni Hernosasi, S. Pd. SD            

SDN Banaran 4, Sambungmacan, Sragen