Beranda Nasional Trump Nyatakan Yurusalem Ibukota Israel, Ini Kata NU dan Muhammadiyah

Trump Nyatakan Yurusalem Ibukota Israel, Ini Kata NU dan Muhammadiyah

59
BERBAGI

JATENGPOS.CO.ID. JAKARTA- Tindakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang secara sepihak menyatakan Yerusalem sebagai ibu kota Israel mendatangkan berbagai kecaman dari tokoh agama. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyatakan pernyataan Trump itu akan mengacaukan dan merusak perdamaian dunia.

“Sikap tersebut akan membuat situasi dunia menjadi semakin panas dan mengarah pada konflik yang tak berkesudahan,” kata Sekretaris Jenderal PBNU Helmy Faishal Zaini membacakan pernyataan resmi organisasi itu di Jakarta, Kamis.

Selain Sekjen, turut menyampaikan sikap resmi PBNU itu Wakil Ketua Umum Profesor M Maksum Machfoedz dan dua ketua PBNU, yakni Robikin Emhas dan Aizuddin Abdurrahman.

“Yerusalem bukanlah ibu kota Israel, melainkan ibu kota Palestina yang telah kita akui kedaulatannya,” kata Helmy Faishal.

PBNU mendorong pemerintah Indonesia untuk ikut serta dan proaktif dalam membantu problem yang terjadi di Palestina.

“Indonesia memiliki peran yang sangat strategis untuk menjadi penengah yang bisa memediasi dinamika politik yang sedang terjadi,” kata Helmy.

Secara terpisah Ketua Umum Pagar Nusa Nahdlatul Ulama Nabil Haroen menilai kebijakan Trump membuat politik Timur Tengah dan juga dunia internasional menjadi terguncang.

Kebijakan itu, lanjut Nabil, juga merusak inisiasi damai yang dikembangkan Palestina-Israel yang juga didukung oleh banyak negara termasuk Indonesia.

“Jangan sampai kebijakan ini menjadi bumerang bagi politik internasional Amerika Serikat dan mendorong meningkatnya ketegangan,” katanya.

Pernyataan yang sama juga disampaikan Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia Din Syamsuddin.
“Mengecam keras dan menolak keputusan tersebut yang merupakan bentuk agresi, provokasi dan radikalisme yang nyata,” kata Din kepada wartawan di Jakarta, Kamis (7/12/2017).

Trump sendiri secara berangsur akan memindahkan kantor kedutaan besarnya dari Tel Aviv ke Yerusalem. Atas tindakan itu, Din menyebut keputusan itu membuka dan membuktikan kedok standar ganda AS.

Bahkan Din menilai AS tidak memiliki iktikad untuk menciptakan perdamaian di kota tiga agama tersebut. Bahkan keputusan AS itu dapat memicu tindakan radikalisme sebagai reaksi ketidakadilan global yang diciptakan negara adidaya itu.

“Selama ini AS tidak bersungguh-sungguh menyelesaikan konflik Israel-Palestina secara berkeadilan,” ujar Din yang juga ketua Prakarsa Persahabatan Indonesia-Palestina (PPIP),” tambahnya.

Untuk itu, mantan ketua umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mendesak Presiden Donald Trump untuk mencabut keputusannya. Dia juga mengajak Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) untuk melakukan langkah politik dan diplomatik guna membatalkan atau mengabaikan keputusan tersebut. (ant/muz)

BERBAGI