Beranda Jateng Waspadai Politisasi Agama Masa Pilkada Kaum Milenial Diingatkan Soal Kebhinekaan

Waspadai Politisasi Agama Masa Pilkada Kaum Milenial Diingatkan Soal Kebhinekaan

56
SILATURAHMI : Silaturahmi ulama dan tokoh yang digelar Amir Machmud Centre di Hotel Tosan Solobaru Sukoharjo, Senin (7/9/2020). Foto : Ade Ujianingsih/Jateng Pos

JATENGPOS.CO.ID, SUKOHARJO – Memasuki masa Pilkada politik identitas menjadi salah satu isu yang kencang dihembuskan. Politisasi agama juga menjadi upaya untuk memecah belah kerukunan masyarakat.

“Potensi gesekan dalam Pilkada tetap ada, sempat muncul embrio isu politisasi agama maupun politik identitas di Sukoharjo, kami ingatkan agar masyarakat tetap saling menjaga kerukunan,” kata Abdullah Faishol ketua MUI Sukoharjo, saat menjadi nara sumber dalam acara  ‘Silaturahmi ulama dan tokoh’ di Hotel Tosan Solobaru Sukoharjo, Senin (7/9).

Dikatakan Faishol, agama dan negara harus menyatu dan saling bersinergi. Empat pilar kebangsaan juga harus diimplementasikan dalam kehidupan keagamaan.

Acara silaturahmi ulama dan tokoh digelar oleh Amir Machmud Centre, dalam rangka menguatkan kebangsaan dan rahmatan lil alamin.

Diikuti 100 peserta terdiri dari unsur mahasiswa, organisasi masyarakat dan organisasi keagamaan se Solo Raya.

Ada tiga narasumber yang dihadirkan, yakni Dr Amir Machmud Direktur Amir Machmud Center, KH Abdulah Faishol ketua MUI Sukoharjo dan Ustadz Abu Fida mantan teroris.

“Kita sudah rencanakan silaturahmi ini, sebagai wawasan tidak hanya pada agama tapi juga nilai kebangsaan. Salah satu tujuannya agar jangan sampai ada yang membenturkan antara agama dengan pemerintahan,” kata Dr Amir Machmud.

Amir Machmud Centre juga memantau munculnya politisasi agama dimasa pilkada. Termasuk membuat kajian kajian yang akan menjadi bahan masukan untuk pemerintah.

“Hal tersebut, kita kaji juga apalagi musim pilkada yang kencang berhembus. Upaya kita dengan memberikan pencerahan melalui diskusi dan pertemuan intensif, agar masyarakat cerdas menanggapi isu sesaat,” imbuhnya.

Dengan diskusi yang juga dikuatkan dengan menghadirkan narasumber yang mumpuni, diharapkan dapat mencegah isu miring yang akan merebak makin luas, yang bisa mengarah pada radikalisme.

“Radikalisme tidak fokus pada agama saja, tapi juga perilaku yang penuh ranah kekerasan kebencian pada negara yang endingnya merubah tatanan nilai. Maka khususnya untuk generasi milenial perlu diberi pemahaman tentang kebhinekaan, karena mereka juga termasuk tokoh yang nanti akan menjadi penentu arah bangsa,” tandas Dr Amir. (dea/bis/rit)