Beranda Jateng Solo Yayasan Dinilai Arogan, Rektor Uniba Surakarta Mundur

Yayasan Dinilai Arogan, Rektor Uniba Surakarta Mundur

613
PROTES : Aksi protes dosen, karyawan dan mahasiswa UNIBA Surakarta mendesak transparansi manajemen Yayasan Perguruan Tinggi Batik (Yapertib). Foto : Ade Ujianingsih/Jateng Pos

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Ratusan massa terdiri mahasiswa, dosen, dan karyawan Universitas Islam Batik (UNIBA) Surakarta melakukan unjuk rasa menuntut tanggung jawab dan transparansi dari management Yayasan Perguruan Tinggi Batik (YAPERTIB).

Mereka menuding pihak yayasan terlalu arogan ikut campur tangan terlalu dalam dalam pengelolaan dunia pendidikan di UNIBA.

Koordinator lapangan unjukrasa Aliansi Mahasiswa UNIBA, Dian Wahyuningsih menyatakan, ada sepuluh tuntutan mahasiswa terkait janji – janji yayasan yang hingga kini sama sekali belum terpenuhi.

“Selama ini Yapertib terlalu banyak campur tangan dalam pengelolaan kampus. Intervensinya terlalu dalam. Kami serukan 10 tuntutan,” kata Dian, dalam aksi yang digelar dihalaman UNIBA Surakarta, Selasa (30/6).

Adapun sepuluh tuntutan tersebut antara lain, menolak praktek nepotisme dari Yapertib, dengan mengeluarkan Ketua Dewan Pembina Yapertib Solichul Hadi, Kembalikan tugas dewan pembina Yapertib sesuai undang-undang, Kembalikan tugas kepengurusan yayasan sesuai UU no 28 tahun 2004.

Tuntutan lainnya adalah mmeinta pengembalian pengelolaan wakaf UNIBA sesuai peruntukannya, meakukan audit aset UNIBA, mengembalikan pengelolaan universitas sesuai perpu yang berlaku, serta menolak intervensi yayasan, mengembalikan sistem penggajian dosen dan karyawan yang sesuai aturan kepegawaian UNIBA. Hilangkan jabatan boneka Yapertib.

“Kami minta rektor dan wakilnya turun, kalau tidak bisa memperjuangkan nasib mahasiswa dosen dan karyawan UNIBA,” tegas Dian.

Menyikapi tuntutan tersebut, Rektor UNIBA, Pramono Hadi bersama dua orang wakil rektornya langsung menyatakan mundur dari jabatannya.

“Saya menyatakan mundur dari jabatan Rektor. Selaku rektor UNIBA Surakarta, saya merasa gagal dengan pengelolaan yang ada di Uniba. Sudah banyak yang dilakukan dan diperjuangkan namun hasilnya tidak maksimal,” paparnya dalam orasi.

Dikatakan Pramono, selama ini, pihak yayasan juga tidak memberikan dukungan penuh kepada segala aspek pengembangan potensi yang ada untuk mahasiswa dan organisasi mahasiswa UNIBA.

Pernyataan mundurnya Rektor ditandai dengan aksi buka baju rektor. Hal itu disambut aksi pembakaran ban di halaman kampus UNIBA. Sampai aksi berakhir pihak Yayasan belum bisa dikonfirmasi terkait tuntutan peserta aksi. (dea/bis/rit)