46.018 Perantau ke Jateng , Dewan Desak Bus AKAP Dihentikan

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo berupaya agar pemudik terus dipantau dan memasukkan para pemudik ke Jawa Tengah sebagai orang dalam pemantauan (ODP). Para pemudik harus mengisolasi diri selama 14 hari.

Ganjar berharap agar perantauan tidak mudik dahulu ke Jawa Tengah untuk memotong penyebaran Virus Corona atau COVID-19. Ganjar menjelaskan dari data pada 26 Maret 2020 sudah ada sekitar 46.018 pemudik yang pulang ke Jateng, paling banyak pemudik asal Wonogiri sebanyak 42.838 orang.

“Sampai kemarin datanya cukup tinggi, ini artinya harus cek satu per satu,” kata Ganjar di rumah dinasnya, Kota Semarang, Jumat (27/3).

Ia pun akan membuat surat ke pemerintah kabupaten dan kota agar para pemudik masuk kategori ODP covid-19. Artinya mereka harus isolasi diri di rumah 14 hari.

“Buat surat ke Kabupaten/Kota, yang mudik otomatis masuk kategori ODP, maka siapapun yang mudik harus isolasi diri 14 hari dan lapor ke pemerintah setempat agar sama-sama tidak repot,” jelasnya.

Ganjar juga menjelaskan agar masyarakat mengerti dengan kondisi saat ini di mana COVID-19 bisa menular lewat orang yang tanpa gejala atau asymptomatic.

“Mari sayangi keluarga di rumah dengan tidak mudik ke rumah. Itu kontribusi anda mencintai keluarga anda, berbuat kemanusiaan yang adil dan beradap,” katanya.

DPRD Propinsi Jawa Tengah mendesak penghentian sementara Bus AKAP dan Bus Pariwisata trayek Jabodetabek – Jawa Tengah.

Hal itu disampaikan oleh Wakil Ketua Komisi D Hadi Santoso setelah melihat tingginya aktifitas pemudik di terminal Baturetno Wonogiri.

” Kami berharap Dishub segera berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungunan untuk penghentian sementara AKAP dan bus pariwisata  dari dan ke Jabodetabek, untuk memastikan penanganan Corona di Jateng terkendali,”ungkap Hadi, Jumat ((27/3).

Kebijakan penghentian sementara ini diperlukan guna lebih mengontrol kedatangan para pekerja migran ke Jawa Tengah, ” Dua hari ini terminal-terminal nampak kuwalahan untuk menerapkan protap pencegahan Corona bagi pemudik, sterilisasi dan pengecekan fasilitasnya terbatas,”tambahnya.

Menurut anggota FPKS ini lonjakan penumpang sudah terlihat di semua terminal di Jawa Tengah dan berdampak pada masyarakat di desa yang jauh dari sarana prasarana kesehatan.

“Di desa-desa pemudik belum bisa dikontrol secara ketat 14 hari karantina susah dilaksanakan,” lanjutnya.

Saat ini tercatat lebih dari 500 bus dan puluhan kereta yang setiap hari memasuki Jawa Tengah dari Jabodetabek, ada 24 terminal tipe B, 21 terminal tipe A, 9 stasiun kereta api yang berada diwilayah Jawa Tengah dengan tidak kurang dari 2.943 Armada AKAP yang meluar masuk.

Hadi juga menyambut baik kebijakan penghapusan mudik gratis sebanyak 746 bis dari pemerintah, serta pemberhentian sementara operasi kereta yang berasal dari Jakarta ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

” Ini pilihan paling realistis, pembatasan dan pengawasan dari pull keberangkatan dan kedatangan, serta kawasan perbatasan, semua harus kita lakukan untuk kebaikan bersama, ” pungkasnya.(dtc/udi)