
JATENGPOS. CO. ID, SOLO – Tradisi Syawalan sebagai salah satu budaya khas kota Solo kembali digelar di Taman Jurug yang saat ini bernama Solo Safari, Minggu (15/4/2024).
Perhelatan yang juga disebut Bakdo Ketupat ini digelar seusai merayakan Hari Lebaran ini dilaksanakan oleh Solo Safari bekerjasama dengan Keraton Surakarta Hadiningrat.
Hadir dalam acara tersebut Wakil Walikota Surakarta Teguh Prakosa, KGPH Adipati Dipokusumo, Pengageng Parentah Keraton Surakarta, GM Solo Safari Shinta Aditya, juga sejumlah tokoh budaya dan masyarakat kota Solo.
Acara ditandai dengan kirab prajurit keraton yang mengawal dua buah gunungan berisi ribuan ketupat. Dalam iring-iringan juga terlihat sosok tokoh Jaka Tingkir yang menjadi tokoh sentral dalam tradisi ini. Yang kali ini diperankan oleh KRA. Rizki Baruna Ajidiningrat.
“Jaka Tingkir menjadi simbol regenerasi dari Majapahit menuju Mataram hingga Surakarta Hadiningrat,” ungkap Gusti Dipokusumo.
Gusti Dipo juga menjelaskan keterkaitan nilai historis yang mengikuti pemilihan Solo Safari sebagai tempat penyelenggaraan Bakda Kupatan karena letaknya yang berada di tepi Sungai Bengawan Solo.
Sungai ini sangat berkaitan erat dengan sosok Jaka Tingkir yang diceritakan pernah mengarunginya dan menghadapi buaya-buaya penunggu kawasan tersebut.
Karena itulah dalam acara itu digelar pula drama pendek terkait perjalanan Joko Tingkir dari Demak menuju Pajang.
Yang di tengah perjalanannya sempat dicegat oleh sekawanan buaya, namun bisa ditaklukkan dan bahkan kemudian membantu mendorong perahu Jaka Tingkir hingga sampai di tempat tujuan.
Sementara gunungan ketupat mengandung makna filosofi yang sangat dalam terkait upaya menjaga silaturahmi.
Ketupat atau dalam bahasa Jawa disebut kupat dimaknai sebagai singkatan dari ngaku lepat atau mengakui kesalahan masing-masing untuk menciptakan hubungan yang baik lagi dengan sanak saudara ataupun teman dan kerabat.
“Kupat itu kan sebenarnya singkatan dari ngaku lepat. Hal yang memang akan dilakukan sebagai bagian dari upaya menjalin dan mempererat silaturahmi, dengan keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Dan itu bisa terlihat dari bentuknya yang berupa jalinan anyaman daun janur, yang dibuat saling terikat untuk saling merekatkan butiran beras yang ada di dalamnya,” lanjut Gusti Dipo.
Drama perjalanan Jaka Tingkir yang menyeberangi Bengawan Solo juga ditampilkan, saat sosok Jaka Tingkir terlihat mengarungi danau yang ada di tengah kawasan Solo Safari dengan menggunakan getek, menuju area panggung terbuka, tempat digelarnya tradisi Bakda Kupatan.
Kepulan asap kemenyan menandai prosesi seremoni pembukaan, yang dilanjut dengan ritual doa oleh ulama keraton.
Usai ritual doa, sosok jaka Tingkir lantas menyerahkan nasi wilujengan kepada GM Solo Safari, yang dilanjut dengan pembagian ribuan ketupat dari salah satu gunungan ke para pengunjung.
Dalam waktu singkat, ribuan ketupat itu langsung ludes diambil para pengunjung, yang meyakini bisa membawa berkah.
“Ini adalah bagian dari upaya kita melestarikan sejarah. Karena apalah artinya kita sebagai anak muda bila tidak mau mengenal sejarah. Karena itulah Taman Safari Indonesia melalui Solo Safari bekerja sama dengan Keraton Surakarta Hadiningrat menggelar acara Syawalan ini,” pungkas Shinta. (dea/jan)



