JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali meneguhkan perannya dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan berkelanjutan dengan mengukuhkan dua guru besar baru dalam Sidang Terbuka Senat yang digelar di Auditorium Moh. Djazman, Kamis (19/6/2025).
Dua tokoh akademisi yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Eny Purwandari, S.Psi., M.Si. sebagai Guru Besar ke-60 dalam bidang Psikologi Kesehatan Mental, dan Prof. Ir. Mochamad Solikin, M.T., Ph.D. sebagai Guru Besar ke-61 dalam bidang Teknologi Bahan Konstruksi.
Dalam pidato ilmiahnya yang bertajuk “Beton High Volume Fly Ash dengan Pemadatan Mandiri, Upaya Mewujudkan Pembangunan yang Lestari,” Prof. Solikin menyoroti besarnya jejak karbon industri konstruksi, khususnya dari sektor beton.
“Beton menyumbang sekitar 7 persen emisi karbon global, terutama dari produksi semen. Ini menjadi tantangan besar bagi pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Solikin memperkenalkan High Volume Fly Ash Concrete (HVFA), teknologi substitusi semen dalam campuran beton dengan limbah fly ash—hasil pembakaran batu bara yang kini tidak lagi dikategorikan sebagai limbah B3. Dengan komposisi fly ash hingga 50 persen, inovasi ini diyakini mampu menurunkan emisi dan meningkatkan efisiensi produksi beton.
Teknologi tersebut telah diimplementasikan bersama tim Pusat Studi Rekayasa Struktur UMS dalam berbagai produk inovatif seperti genteng beton ringan berbasis styrofoam, plat lantai half slab, dan panel beton berongga. Seluruhnya telah melalui uji kekuatan dan daya tahan, serta diajukan untuk hak paten.
“Insinyur masa kini harus membangun tanpa merusak, mencipta tanpa mencemari,” tegas Solikin di akhir pidatonya.
Sementara itu, Prof. Eny Purwandari dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Kesehatan Mental: Menjawab Tantangan di Era Disrupsi” menyoroti lonjakan persoalan mental di tengah masyarakat modern.
Mengutip data WHO, Eny menyampaikan bahwa 1 dari 8 orang di dunia mengalami gangguan mental, dan di Indonesia sendiri, hampir 10 persen penduduk usia produktif menghadapi gangguan mental emosional.
“Masalah mental bukan hanya urusan individu, melainkan persoalan sistemik yang membutuhkan pendekatan multidisipliner,” jelasnya.
Eny yang juga Ketua Program Studi Magister Psikologi UMS menekankan pentingnya membangun ekosistem sehat yang mendukung kesejahteraan psikologis di semua lini kehidupan, termasuk melalui teknologi seperti tele-mental health.
Ia juga memaparkan hasil riset dua dekade terakhir yang menunjukkan kaitan erat antara kerapuhan mental dengan penyalahgunaan NAPZA, serta urgensi pengawasan lingkungan sosial dan keluarga.
Sebagai bentuk konkret, UMS telah membentuk Student Mental Health and Well-being Support (SMHWS), sebuah unit layanan pendampingan psikologis untuk mahasiswa.
“Masyarakat yang sehat secara mental adalah fondasi bangsa yang tangguh dan berdaya saing,” ujar Eny, menutup orasinya.
Pengukuhan dua guru besar ini dipimpin langsung oleh Rektor UMS sekaligus Ketua Senat, Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., serta dihadiri jajaran pimpinan universitas, senat akademik, mahasiswa, dan undangan dari berbagai institusi.
Dengan penambahan dua guru besar ini, UMS kini telah memiliki total 61 profesor aktif, menegaskan komitmen universitas dalam menghadirkan ilmu pengetahuan yang memberi dampak nyata bagi masyarakat, lingkungan, dan pembangunan nasional.(dea)



