JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Suara gelak tawa bercampur suara blender dan wajan penggorengan, hampir tiap pagi terdengar dari sebuah bangunan sederhana di tepi tambak, yang berada di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang. Di tempat tersebut, Ibu Utami bersama belasan ibu lainnya nampak sibuk meracik bandeng menjadi bakso, amplang, hingga abon. Sebuah aktivitas yang lima tahun lalu tak terbayangkan, karena tambak yang mereka andalkan tenggelam oleh rob.
Kini, lewat MAMI SERA (Mangunharjo Mandiri Sejahtera) harapan itu kembali menyala. Geliat ekonomi masyarakat setempat, perlahan mulai bangkit. Lahan tambak yang sebelumnya mangkrak akibat rob, kini kembali produktif. Ibu-ibu yang sebelumnya hanya mengandalkan pemasukan dari suami, kini terlibat aktif mengelola usaha mikro.
Semua ini tak lepas dari kehadiran MAMI SERA, sebuah program pemberdayaan masyarakat yang difasilitasi oleh PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
Dari Pemetaan hingga Pendampingan
Program MAMI SERA bukan sekadar kegiatan sosial sesaat. Dimulai pada tahun 2022, Pertamina melakukan pemetaan potensi dan permasalahan di Kelurahan Mangunharjo. Dari sinilah ditemukan fakta-fakta penting: banyak lahan tambak yang tak terurus akibat bencana rob, serta minimnya keterlibatan warga, khususnya ibu-ibu, dalam kegiatan ekonomi lokal.
Taufiq Kurniawan, Area Manager Corporate Communication and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah menjelaskan, pendekatan yang dilakukan bukan sekadar memberi bantuan, tetapi menciptakan ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan.
“Kami mendampingi petani tambak dan ibu-ibu PKK di Mangunharjo untuk bersama-sama membangun ekonomi lokal. Lahan tambak yang sebelumnya terbengkalai kini bisa digunakan kembali, dan hasilnya diolah menjadi produk bernilai jual,” ujarnya, kepada Jateng Pos, saat Peresmian Pondok MAMI SERA, Minggu (25/5/2025) lalu.

MAMI SERA kini menjadi rumah bagi kelompok tani, UMKM, dan koperasi lokal yang saling menopang satu sama lain. Pusat kegiatan ini berada di Pondok MAMI SERA, yang dibangun dengan dukungan Pertamina dan kini difungsikan sebagai kantor koperasi, sekaligus pusat produksi dan pemasaran olahan hasil tambak.
Kolaborasi menjadi kunci. Dalam praktiknya, MAMI SERA menggandeng Koperasi Trengginas Jaya Abadi, Kelompok Tani Tambak Jaya Bahari, serta pelaku UMKM di Mangunharjo. Salah satu contoh keberhasilan nyata adalah pengolahan bandeng hasil tambak menjadi berbagai produk, seperti amplang bandeng, abon ikan, dan bakso bandeng.
Dampak Langsung bagi Warga
Ketua Koperasi Trengginas Jaya Abadi, Utami Dewi menyatakan, program ini membawa perubahan signifikan bagi warga. Rob yang dulu dianggap sebagai akhir dari masa produktif lahan tambak, kini justru menjadi pemicu inovasi.
“Petani tambak mulai bangkit. Ibu-ibu juga kini lebih percaya diri dan kreatif mengolah hasil panen menjadi produk bernilai jual. Semua ini berkat pendampingan intensif dari Pertamina,” ujarnya.
Pondok Mami SERA kini menjadi denyut baru kehidupan warga. Kini, koperasi tersebut menaungi sedikitnya 40 anggota, terdiri dari 13 petani tambak dan 28 ibu-ibu PKK. Mereka tidak hanya memproduksi, tapi juga memasarkan hasil olahan secara kolektif melalui koperasi.
“Kami memasarkan berbagai produk olahan, seperti abon bandeng, otak-otak, pepes, bahkan bakso bandeng. Produk unggulan kami adalah abon dan bakso bandeng. Alhamdulillah, pesanan mulai berdatangan, bahkan dari luar kota,” jelasnya.
Mohammad Bahrun, Ketua Kelompok Tani Tambak Jaya Bahari, juga merasakan langsung dampak positif program MAMI SERA. Sebelumnya, ada 200 hektar lahan yang terbengkalai karena rob, dengan 100 hektar berupa tambak dan 100 hektar sawah.
“Dulu lahan kami tergenang rob dan dibiarkan begitu saja. Kini masyarakat Mangunharjo mulai bangkit lagi memanfaatkan lahan mangkrak menjadi tambak. Sudah ada 50 hektar tambak yang mulai kembali difungsikan. Dan sekarang sudah bisa dipanen lagi,, penghasilan kami juga meningkat,” tuturnya.
Para petani tambak, lanjutnya, tak lagi kesulitan memasarkan hasil panennya berkat kolaborasi yang diwadahi Pondok MAMI SERA. Para petani tambak bisa menyetorkan hasil panen bandeng ke koperasi, yang kemudian diolah oleh para ibu.
“Proses ini memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan dibanding sekadar menjual ikan mentah,” ujarnya.
Bahrun menambahkan, kehadiran Pertamina membawa perubahan signifikan, termasuk pada generasi muda yang kini mulai tertarik untuk ikut bertani dan betambak.
“Kami juga mendapat bantuan benih dan pakan. Kami merasa benar-benar didampingi,” imbuhnya.
Apresiasi Pemerintah Daerah
Wakil Wali Kota Semarang, Iswar Aminudin, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi Pertamina yang tidak hanya memberikan bantuan finansial, tetapi juga membangun fondasi ekonomi masyarakat.
“Pembangunan yang berhasil itu pembangunan yang berkarakter, yang melibatkan kolaborasi berbagai pihak. MAMI SERA adalah contoh konkret dari kolaborasi yang menghasilkan dampak langsung bagi masyarakat. Tidak hanya membangun fisik, tapi juga membangun harapan dan semangat masyarakat,” ungkapnya.
Camat Tugu, Eko Agus Padang Harianto menambahkan, melalui MAMI SERA, potensi lokal seperti tambak dan UMKM benar-benar diberdayakan. Peran koperasi dalam pengembangan produk dan pemasaran menjadi tulang punggung program ini.
“Pondok MAMI SERA ini sangat efektif dalam memberdayakan masyarakat di Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Tugu, Kota Semarang, yang fokusnya pada pengembangan ekonomi lokal, khususnya melalui sektor pertanian dan UMKM,” jelasnya.
Sementara, total bantuan yang telah dikucurkan oleh Pertamina mencapai Rp475 juta dan masih akan bertambah hingga koperasi dinyatakan mandiri secara ekonomi. Tapi lebih dari sekadar angka, yang terpenting adalah perubahan sosial yang ditimbulkan.
Kini warga Mangunharjo tidak lagi hanya bergantung pada keadaan, tapi mulai mengelola potensi dengan cara yang produktif dan berkelanjutan. MAMI SERA menjadi simbol kebangkitan, dari tambak yang pernah terabaikan menjadi tumpuan harapan.
Program MAMI SERA menjadi salah satu bukti bahwa pembangunan masyarakat tidak harus dimulai dari kota besar. Dengan sinergi antara perusahaan, pemerintah, dan warga, kawasan pesisir seperti Mangunharjo bisa menjadi contoh model pemberdayaan ekonomi lokal berbasis potensi wilayah.(Aning Karindra Ariyanti)




