JATENGPOS.CO.ID, PEMALANG- TEPUK tangan bergemuruh mengiringi pengumuman hasil Lomba Berburu Babi Hutan Merah Putih Online 2025 yang digelar PB Perbakin pada 28–31 Agustus 2025, di Pemalang. Dari sekian banyak nama, satu sosok perempuan mencuri perhatian, Hj. Atika Rahmawati, Direktur ATIRA GROUP, dari Semarang yang keluar sebagai juara pertama kategori individu. Hasil buruannya seberat 115,50 kilogram bukan hanya memastikan gelar juara, tetapi juga mencatatkan dirinya sebagai pemilik tangkapan terberat dalam ajang bergengsi tersebut.
Bagi Atika, kemenangan ini bukan sekadar soal angka dan trofi. Ada rasa haru sekaligus bangga yang menyelimuti dirinya ketika nama diumumkan. Dunia berburu, yang selama ini identik dengan kekuatan fisik dan dominasi laki-laki, kembali membuktikan bahwa ruangnya juga bisa diisi perempuan. Dengan senyum lebar, Atika menerima penghargaan itu, seakan ingin menyampaikan pesan bahwa ketekunan, disiplin, dan semangat pantang menyerah bisa melampaui batas-batas yang kerap membatasi.
Prestasi di ajang Merah Putih Online 2025 bukanlah yang pertama. Pada Februari lalu, Atika juga berhasil merebut gelar juara pertama di Lomba Berburu Babi Hutan Seri 2 Online. Dua kemenangan dalam satu tahun menandai konsistensi luar biasa seorang perempuan yang berhasil bertahan di level tertinggi olahraga berburu, sekaligus membuktikan bahwa tradisi juara bukan kebetulan semata.
“Ini adalah kemenangan bersama. Saya persembahkan tidak hanya untuk pribadi, tetapi juga untuk tim, komunitas pemburu, serta keluarga besar ATIRA GROUP yang selalu memberikan dukungan penuh. Semoga prestasi ini bisa menginspirasi lebih banyak generasi muda, khususnya perempuan, untuk ikut aktif dalam olahraga berburu yang sportif dan beretika,” ujar Atika, dengan suara bergetar, menyiratkan kebahagiaan sekaligus tanggung jawab besar yang dipikulnya.
Kisah Atika menjadi unik karena ia bukan hanya seorang pemburu, melainkan juga seorang pemimpin perusahaan. Dari ruang direksi ATIRA GROUP, ia memimpin berbagai kebijakan bisnis, sementara dari arena berburu, ia menantang diri sendiri dengan medan, strategi, dan keberanian. Kombinasi dua dunia yang kontras itu justru menghadirkan harmoni: kepemimpinan yang tegas sekaligus jiwa petualang yang tangguh.
Di balik keberhasilannya, Atika juga aktif membangun ekosistem berburu yang lebih modern dan beretika. Melalui Tim Sytong Indonesia dan Atira Hunting Division, ia mendorong penggunaan teknologi peralatan berburu terkini, menginisiasi kegiatan edukasi, hingga berpartisipasi dalam berbagai kompetisi resmi.
Bagi ATIRA GROUP sendiri, kemenangan Atika adalah kebanggaan yang melampaui personal. Ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan dukungan perusahaan pada olahraga berburu yang sportif, selaras regulasi, sekaligus membuka ruang partisipasi lebih luas bagi perempuan.
Menyaksikan Atika berdiri di podium, banyak mata melihat lebih dari sekadar seorang juara. Mereka melihat simbol keberanian yang menembus dominasi dunia maskulin, teladan tentang konsistensi, dan bukti bahwa tradisi bisa diwarisi sekaligus dimodernisasi.
Atika tidak hanya membawa pulang piala, ia membawa pesan: olahraga berburu bisa menjadi ruang inklusif, tempat laki-laki dan perempuan sama-sama menguji kemampuan, menjunjung sportivitas, dan menjaga etika yang telah diwariskan.
Prestasi Atika Rahmawati di tahun ini seakan menjadi catatan penting dalam perjalanan olahraga berburu di Indonesia. Dari podium tertinggi, ia tidak hanya berbicara tentang kemenangan, melainkan juga tentang inspirasi. Inspirasi bahwa seorang perempuan bisa berperan ganda, sebagai pemimpin perusahaan dan pemburu tangguh, serta membuktikan bahwa semangat juang, jika disertai konsistensi, akan selalu menemukan jalannya menuju keberhasilan.(aln)






