JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Angka peningkatan keluar masuk peti kemas dan kebutuhan pengiriman logistik meningkat 15 persen per tahun di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Peningkatan itu, di butuhkan pengembangan area pelabuhan atau pengadaan pelabuhan alternatif.
Hal tersebut disampaikan oleh Bambang Haryo Soekartono anggota Komisi VII DPR RI, saat melakukan kunjungan kerja di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang, Jumat (26/9).
Selain itu, dia juga menegaskan peningkatan 15 persen per tahun itu, hanya di Pelabuhan Tanjung Emas, tidak di Pelabuhan besar lainya.
“Angka peningkatan keluar masuk atau bongkar muat peti kemas di Jawa Tengah sebesar 15 persen ini, harus diimbangi dengan fasilitas mumpuni di Pelabuhan Tanjung Emas,” katanya, usai berkeliling di berbagai ruang kerja di Terminal 4 (penumpang dan peti kemas).
Lanjutnya, bahwa ekspor dari Semarang sebagai feeder 50 persen dan Semarang sebagai hop untuk internasional juga 50 persen sisanya itu dari total rata-rata sekitar 800 sampai 900. 000 setiap tahun.
“Artinya, bahwa kapasitas Dermaga maupun kapasitas tempat penumpukan peti kemas sudah mendekati openload 100 persen. Karena kapasitas daripada Pelabuhan ini 1, 1 juta. Sedangkan ini sudah 900. 000 dan ini harus diantisipasi,” imbuhnya.
Dijelaskan, antisipasi yang dilakukan yakni dengan memperpanjang tempat sandaran dan juga memperbesar lapangan. memperluas lapangan penumpukan atau pengadaan pelabuhan alternatif.
“Pelabuhan alternatif bisa dikembangkan di Kabupaten Batang atau Kabupaten Pati yang mempunyai area strategsis dalam peta kelautan di pesisir pulau Jawa,” tandasnya.
Terkait hal tersebut, selaku anggota Dewan Komisi VII di bidang Perindustrian, UMKM, Ekonomi Kreatif, Pariwisata dan Sarana Publikasi. Ia, akan melakukan koordinasi dengan pihak terkait berskala nasional.
Terkait kenaikan 15 pesen per tahun angka keluar masuk peti kemas dan kebutuhan logistik di Pelabuhan Tanjung Emas. Ia, juga mengatakan ekonomi industri di Jawa Tengah harusnya juga meningkat.
“Harusnya pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah, bisa di atas sepuluh persen. Karena, jumlah perpindahan atau arus logistik setiap tahun meningkat,” pungkas Bambang Haryo Soekartono. (ucl/rit)



