JATENGPOS.CO.ID, TEMANGGUNG – USIA ke-191 bagi Kabupaten Temanggung bukan sekadar penanda waktu dalam kalender administratif. Ia adalah momen untuk berkaca—tentang dari mana ia berasal, bagaimana ia tumbuh, dan ke mana ia akan melangkah. Di bawah bayang-bayang Gunung Sindoro dan Sumbing yang menjulang gagah, Temanggung bukan hanya sebuah titik di peta Jawa Tengah. Ia adalah lanskap keheningan yang penuh kehidupan; perpaduan antara kesuburan tanah dan keteguhan manusia yang setia menanam, merawat, dan berharap.
Kini, di tengah dunia yang bergerak dengan kecepatan algoritma, Temanggung menapaki babak baru: di antara tradisi yang ingin dijaga dan teknologi yang tak bisa dihindari. Di sinilah ujian sejati sebuah daerah: mampukah ia berdiri di antara kabut dan cahaya digital, tanpa kehilangan arah dan jati diri?
Saya melihat, Pemerintah Kabupaten Temanggung di bawah kepemimpinan Bupati Agus Setyawan dan Wakil Bupati Nadia Muna terus menapaki jalan pembangunan yang berorientasi pada manusia. Temanggung menunjukkan wajah baru: tegas dalam arah kebijakan, namun lembut dalam sentuhan kemanusiaan. Pembangunan di sini bukan semata soal jalan yang mulus atau gedung menjulang, tetapi tentang memastikan setiap warga dapat hidup lebih sehat, berdaya, dan bermartabat.
Kepemimpinan Agus Setyawan layak diapresiasi karena menghidupkan kembali semangat “pemerintahan yang dekat dengan rakyat.” Ia menempatkan masyarakat sebagai pusat dari setiap kebijakan. Cara ia membangun Temanggung tidak dengan jargon, tetapi dengan kerja nyata yang menyentuh sendi kehidupan sehari-hari.
Salah satu program penting di Temanggung adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sebuah layanan kesehatan bagi masyarakat menengah bawah agar tak terkendala biaya. Program ini menunjukkan cara sederhana tapi bermakna bagaimana negara bisa hadir: memastikan tidak ada warga menunda berobat hanya karena takut biaya. Ambulans juga siap setiap saat jika ada warga yang membutuhkan.
Selain itu, Pemkab juga menghadirkan rumah singgah gratis di Semarang dan Yogyakarta bagi keluarga pasien rujukan rumah sakit besar. Bagi yang pernah tidur beralaskan dinginnya lantai rumah sakit, kebijakan semacam ini bukan sekadar bantuan, tapi bentuk kasih yang konkret.
Di bidang ekonomi, Temanggung kini membangun paradigma baru untuk mengembangkan komoditas unggulan berbasis potensi lokal seperti kopi, tembakau, pertanian dan peternakan domba. Dua sektor pertama telah menjadi ikon, sementara peternakan domba berkembang sebagai simbol kemandirian pangan dan ekonomi keluarga desa.

Kopi Temanggung, misalnya, kini mulai diakui dalam peta kopi nasional bahkan menembus pasar ekspor. Di balik secangkir kopi, tersimpan kisah petani yang belajar mengolah cita rasa sekaligus membangun identitas.
Geliat ini diperkuat oleh sektor pariwisata yang terus menggeliat. Ada desa-desa wisata yang dikembangkan—dari Posong yang menampilkan panorama Sindoro–Sumbing, hingga Lembah Kaloran yang memikat dengan udara segar dan kesejukan pedesaan. Desa-desa ini kini tidak lagi pasif menunggu tamu datang. Mereka aktif menjangkau wisatawan lewat media sosial, platform daring, dan jaringan komunitas digital.
Kebijakan Bupati Agus Setyawan untuk memperkuat kapasitas desa wisata menunjukkan visi yang futuristik, namun tetap membumi: membangun ekonomi kreatif tanpa merusak alam dan karakter lokal. Ia memahami bahwa kemajuan sejati bukan menghapus yang lama, melainkan menghidupkan kembali nilai-nilai lama dalam wajah baru.
Semua langkah itu menunjukkan arah baru Temanggung: pembangunan yang membumi dan memanusiakan.
Antara Alam, Manusia, dan Makna
Temanggung adalah anugerah alam yang hidup. Terletak di jantung Jawa Tengah, kabupaten ini berbatasan dengan Kendal di utara, Kabupaten Semarang di timur, Magelang di selatan, dan Wonosobo di barat. Luas wilayahnya mencapai 870,65 kilometer persegi, dengan populasi sekitar 815 ribu jiwa (estimasi pertengahan 2024, BPS Kabupaten Temanggung). Topografinya bervariasi dari dataran rendah hingga lereng gunung pada ketinggian 500–1.450 meter di atas permukaan laut. Kondisi ini melahirkan iklim yang sejuk, tanah yang subur, serta lanskap yang menenangkan mata dan jiwa.
Namun kekuatan sejati Temanggung bukan pada gunungnya, melainkan pada manusianya. Masyarakat Temanggung dikenal jujur, teguh, dan hidup dalam nilai kebersamaan. Mereka bekerja dengan tangan, tapi selalu menggunakan hati. Di sawah, ladang, hingga warung kopi di pojok desa, ada semangat yang jarang ditemui di kota besar: semangat untuk cukup, untuk ikhlas, dan untuk terus belajar dari bumi yang mereka pijak.
Temanggung juga memiliki posisi ekologis yang strategis: ia menjadi penyangga ekosistem dataran tinggi yang menghubungkan kawasan Magelang, Wonosobo, dan Kendal. Pertanian, perkebunan, dan peternakan tetap menjadi tulang punggung
ekonomi, tetapi kini mulai berdampingan dengan sektor kreatif dan digital yang tumbuh meyakinkan.
Kopi Temanggung menjadi contoh paling menarik dari transformasi itu. Dulu dijual secara tradisional, kini menjadi simbol gaya hidup baru. Anak-anak muda mendirikan kafe, membangun merek, menciptakan narasi, dan menjualnya ke luar negeri secara daring. Mereka tidak meninggalkan tanah kelahiran, tapi mengubahnya menjadi ruang baru di dunia digital. Temanggung mulai menemukan dirinya dalam bahasa baru: kreativitas dan inovasi.

Menjaga Akar di Tengah Angin Digital
Namun di balik kemajuan itu, tantangan juga kian besar. Dunia berubah dengan kecepatan luar biasa akibat revolusi digital, kecerdasan buatan, dan ekonomi data. Semua mengubah cara manusia bekerja, berinteraksi, bahkan berpikir. Jika tidak siap beradaptasi, daerah yang indah bisa menjadi penonton di panggung global.
Sebagian besar penduduk Temanggung masih bekerja di sektor pertanian. Tantangannya kini bukan hanya soal produksi, tapi juga akses informasi, pemasaran, dan literasi digital. Ketika perdagangan dunia ditentukan oleh algoritma dan platform daring, banyak petani dan pelaku UMKM lokal belum sepenuhnya siap memanfaatkan peluang itu.
Infrastruktur digital juga masih menjadi pekerjaan rumah. Di beberapa wilayah pegunungan, jaringan internet belum stabil. Padahal, di era ini, sinyal bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar. Tanpa konektivitas yang merata, kesenjangan pengetahuan makin melebar, dan potensi daerah tertinggal hanya karena tidak “terlihat” di dunia maya.
Masalah lainnya adalah regenerasi. Banyak anak muda memilih meninggalkan desa untuk bekerja di kota, padahal desa adalah masa depan. Temanggung perlu menciptakan ruang bagi mereka untuk kembali—bukan sekadar dengan nostalgia, tetapi dengan peluang. Peluang untuk berinovasi, berwirausaha, dan membangun kehidupan yang bermakna di kampung halaman.
Langkah Strategis Menuju Masa Depan
Di era serba digital, kunci pembangunan Temanggung terletak pada tiga hal: konektivitas, kreativitas, dan kolaborasi. Pertama, pemerintah daerah harus memastikan seluruh wilayah terkoneksi secara digital—baik lewat infrastruktur jaringan maupun peningkatan literasi masyarakat. Pelatihan teknologi bagi pelaku UMKM, petani, dan anak muda desa menjadi keharusan agar mereka mampu memanfaatkan teknologi untuk produksi dan pemasaran.
Kedua, kreativitas harus menjadi roh pembangunan. Sektor ekonomi kreatif dapat menjadi jembatan antara tradisi dan teknologi. Kopi, tembakau, batik, kriya, hingga kuliner khas Temanggung bisa diangkat sebagai produk digital dengan narasi lokal yang kuat. Di sinilah peran cerita: bagaimana sebuah produk bukan sekadar barang dagangan, tapi cermin identitas dan kebanggaan daerah.
Ketiga, kolaborasi menjadi kunci keberlanjutan. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Perguruan tinggi, BUMN, startup teknologi, dan komunitas lokal perlu bersinergi menciptakan ekosistem inovasi—mulai dari riset pertanian presisi untuk dataran tinggi, aplikasi pendataan hasil panen, hingga fintech yang memudahkan petani mendapat modal. Semua itu membutuhkan keberanian politik dan visi yang melampaui batas birokrasi.
Kepemimpinan Bupati Agus Setyawan dalam membangun sinergi ini patut diapresiasi. Ia tidak hanya mendorong program, tetapi juga membuka ruang dialog dan kolaborasi lintas sektor. Di bawah arah kebijakannya, pemerintah daerah tidak lagi berjalan sendiri, melainkan menjadi simpul yang menghubungkan banyak energi baik. Agus Setyawan memberi teladan bahwa kepemimpinan bukan tentang kekuasaan, melainkan tentang kepercayaan—tentang menghadirkan negara hingga ke pintu rumah rakyatnya.
Namun di atas semua strategi itu, Temanggung harus tetap menjadi dirinya sendiri. Teknologi tidak boleh menjauhkan manusia dari akar. Digitalisasi harus memperkuat kemanusiaan, bukan menggantikannya. Di tengah derasnya arus data dan algoritma, Temanggung memiliki modal kultural yang tak ternilai: gotong royong, kearifan lokal, dan spiritualitas yang menenangkan. Nilai-nilai itulah yang memberi arah pada kemajuan.
Antara Kabut dan Cahaya
Temanggung tidak sedang berlari mengejar kota lain. Ia sedang menapaki jalannya sendiri. Dari lereng yang berkabut, ia perlahan menuju cahaya digital tanpa kehilangan kesejukan jiwanya. Pembangunan di sini bukan tentang kecepatan, melainkan tentang keseimbangan. Bagaimana menjaga bumi sambil merangkul teknologi, bagaimana memelihara manusia di tengah mesin, dan bagaimana mengubah perubahan menjadi peluang.
Di usia ke-191 ini, Temanggung membuktikan bahwa kemajuan tidak selalu gemerlap. Kadang ia lahir dari kesunyian desa, dari kesabaran petani, dari tangan-tangan kecil yang menanam harapan di tanah subur. Dan kini, dari kabut yang perlahan tersibak, kita melihat cahaya baru: Temanggung yang tangguh, cerdas, dan berakar kuat di tanah sendiri.
Selamat ulang tahun ke-191, Kabupaten Temanggung. Semoga gunungmu tetap tegak, tanahmu tetap subur, dan wargamu tetap hangat menghadapi setiap perubahan zaman yang datang. (*)

Penulis adalah Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil Jawa Tengah VI







