JATENGPOS.CO.ID, UNGARAN- Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Ngudi Waluyo (UNW) Ungaran melakukan pendampingan warga Desa Kawengen, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, dalam pengembangan Produk Pangan Bergizi Berbasis Pangan Lokal.
Tujuan kegiatan, memperkuat ketahanan pangan dan meningkatkan nilai ekonomi komoditas lokal kembali diwujudkan melalui kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat mengetengahkan tema “Pendampingan Pengembangan Produk Makanan Bergizi Tinggi dengan Optimalisasi Pangan Lokal Desa Kawengen.”
Ketua Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Riva Mustika Anugrah, S.Gizi., M.Gizi., Dietisien, mengatakan, program ini didukung oleh Hibah Pendanaan DPPM Kemdiktisaintek Berdampak Tahun 2025, sebagai bentuk komitmen menghadirkan inovasi perguruan tinggi yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.
Kegiatan dilaksanakan merupakan kolaborasi tiga program studi di UNW, yaitu Program Studi Gizi, Program Studi Farmasi, dan Program Studi Bisnis Digital. Pendampingan dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan kepada masyarakat Desa Kawengen yang dikenal memiliki potensi pangan lokal melimpah seperti singkong, pisang, dan umbi-umbian.
Kepala Desa Kawengen, Marjani menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terlaksanakan kegiatan ini di desa yang dipimpinnya. Pelaksanaan kegiatan dirasakan sangat membantu bagi masyarakat dalam upaya meningkatkan perekonomian keluarga.
“Kami sangat terbantu dengan pendampingan dari Universitas Ngudi Waluyo. Warga kami bukan hanya belajar mengolah pangan lokal, tetapi juga mendapatkan ilmu gizi, kesehatan, dan pemasaran. Ini sangat penting untuk meningkatkan ekonomi keluarga,” ujarnya.
Ia menegaskan dampak positif dari program ini. Warga lebih percaya diri karena memiliki produk unggulan sendiri. Ia pun berharap kerja sama ini terus berlanjut agar Desa Kawengen semakin maju dan memunculkan peluang pelaku usaha baru.
“Kegiatan pelatihan ini memanfaatkan hasil panen singkong dan pisang yang melimpah di desa kawengen sehingga diharapkan dapat meningkatkan nilai perekonomian warga,” tandasnya.
Inovasi Produk Berbasis Pangan Lokal
Salah satu capaian utama dari kegiatan pemberdayaan ini adalah terciptanya tiga produk inovatif berbahan potensi desa yang diolah menjadi makanan modern berkualitas gizi tinggi.
Ketua Tim Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, Riva Mustika Anugrah menjelaskan bahwa inovasi pangan lokal ini bertujuan memberikan nilai tambah bagi komoditas desa.
“Kami ingin pangan lokal Desa Kawengen naik kelas. Tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk tradisional, tetapi juga diolah menjadi produk modern yang bergizi dan memiliki peluang pasar yang luas,” tegasnya.
Pendampingan Menyeluruh
Program ini dilaksanakan dalam beberapa tahapan terstruktur yang melibatkan seluruh keahlian lintas prodi, yaitu: Edukasi Gizi dan Keamanan Pangan.
Tim memberikan penyuluhan tentang:kebutuhan gizi keluarga, pemilihan bahan pangan yang aman, pentingnya higienitas dalam produksi, teknik menjaga kualitas produk olahan.
Selain itu, diadakan Pelatihan Literasi Keamanan dan Regulasi Bahan tambahan pangan.
Tim dari Prodi Gizi dan Prodi Farmasi Dalam kegiatan ini, apt. Agitya Resti Erwiyani, M.Sc menyampaikan materi tentang Literasi Keamanan dan Regulasi Bahan tambahan pangan dimana hal tersebut sangat penting dalam memastikan bagaimana aspek keamanan pangan, bahan tambahan pangan yang aman digunakan sesuai Peraturan BPOM, serta teknik penyimpanan produk frozen food agar layak edar.
Pelatihan selanjutnya; Branding dan Pemasaran Digital. Tim Prodi Bisnis Digital Dalam proses ini, Ari Siswati, S.Kom., SM., MM memberikan pendampingan langsung bagaimana Smart Pricing & Social Selling (Strategi Menentukan Harga dan Memasarkan Produk Melalui Media sosial) strategi branding, desain kemasan, merk produk, storytelling produk, serta pemasaran digital agar produk warga mampu bersaing di pasar modern.
Menurut Riva, pemasaran digital merupakan komponen penting dalam keberlanjutan usaha.
“Produk yang baik harus didukung pemasaran yang efektif. Karena itu pelatihan digital marketing menjadi prioritas kami agar UMKM Desa Kawengen bisa berkembang secara mandiri,” tambahnya.
Disebutkan, program pemberdayaan ini telah memberikan dampak nyata bagi masyarakat, antara lain: Terbentuknya Unit Usaha Pangan Lokal.
Beberapa kelompok warga mulai memproduksi Stella, Cassaball, dan Banana Bar sebagai produk rumahan siap jual. Peningkatan Nilai Ekonomi Komoditas Desa, yakni ingkong dan pisang yang sebelumnya dijual mentah kini memiliki nilai tambah lebih tinggi setelah diolah menjadi produk inovatif.
Literasi Gizi Masyarakat Meningkat
Warga terutama ibu rumah tangga, kini lebih memahami pola makan bergizi seimbang dan cara mengolah pangan yang sehat.
Selain itu, diadakan Pelatihan Pembuatan Produk Sempolan Tela Ayam (STELLA) Frozen food yang mengkombinasikan singkong (tela) dan daging ayam, sehingga menghasilkan pangan sumber karbohidrat dan protein yang sehat, praktis, dan cocok sebagai jajanan keluarga.
Kemudian pelatihan Bitterballen Singkong (CASSABALL) Inovasi yang mengadaptasi resep camilan Eropa dengan bahan utama singkong lokal, menghasilkan produk tinggi serat, rendah gluten, dan berdaya saing tinggi di pasar kuliner modern.
Snack Banana Bar (Snack bar) berbahan dasar pisang lokal dengan kandungan vitamin yang tinggi, dirancang sebagai makanan selingan sehat untuk pelajar maupun pekerja.
Dengan dukungan pendanaan DPPM Kemdiktisaintek Berdampak Tahun 2025, kegiatan ini menjadi contoh nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi: edukasi, inovasi, dan pemberdayaan. Kolaborasi antara Prodi Gizi, Prodi Farmasi, dan Prodi Bisnis Digital menunjukkan bahwa pengembangan pangan lokal harus dilakukan secara holistik, mulai dari aspek kesehatan, keamanan, hingga strategi pemasaran.
Program ini membuka peluang bagi Desa Kawengen untuk tumbuh sebagai desa penghasil produk pangan lokal bernilai tinggi dan memiliki daya saing di pasar regional. (muz)




