28 C
Semarang
Sabtu, 31 Januari 2026

Sumanto Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar: Apresiasi Gotong Royong Dalang, Wejang Pesan Moral Lakon Wayang hingga Eksistensi Pelaku Kesenian 

JATENGPOS.CO.ID, KARANGANYAR- Kosistensi terhadap pelestarian Wayang Kulit ditunjukkan Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto, dengan menggelar pagelaran kesenian tradisional adiluhung tersebut setiap selapanan atau 35 hari di kediamannya. Dalam setiap kesempatan beliau sering kali menglorifikasikan kepada masyarakat untuk mencintai kesenian tradisional termasuk wayang. Berikut ini catatan Jateng Pos tentang totalitas Sumanto terhadap Wayang Kulit.

Salah satu ekspektasi kepedulian tinggi terhadap Wayang Kulit, Sumanto pernah menggumpul 45 dalang di Kabupaten Karanganyar, pada Februari 2024 kemudian meminta agar para dalang menggelar pagelaran Wayang Kulit di rumah masing-masing.

Terbaru, totalitas terhadap Wayang Kulit, Sumanto memprakarsai pagelaran Wayang Kulit selama 30 jam nonstop melibatkan 23 dalang di kediamannya bertepatan Hari Wayang Kulit Dunia (World Wayang Day) 2025, pada 7 November lalu.

Diharapkan pagelaran dapat menggugah masyarakat melestarikan Wayang Kulit. Khususnya pada generasi Z yang tengah digelontor derasnya pengaruh budaya asing lewat internet agar tetap mengenal dan mencintai Wayang Kulit sebagai jati diri budaya bangsa warisan leluhur Jawa.

Dedikasi diglorifikasi Sumanto pada kesenian Wayang Kulit menginspirasi Paguyuban Dalang Karanganyar menobatkan Sumanto sebagai Bapaknya Wayang Kabupaten Karanganyar. Sematan tersebut diberikan saat menggelar Wayang Kulit selama 30 jam nonstop dengan melibatkan 23 dalang.

Apresiasi diberikan Paguyuban Dalang Karanganyar tersebut disambut Sumanto dengan rendah hati, ia sebaliknya turut memberikan apresiasi kepada Paguyuban Dalang Karanganyar yang bergotong royong mementaskan Wayang Kulit selama 30 jam nonstop.

Sumanto menilai kolaborasi para dalang Karanganyar sebagai bentuk gotong royong yang patut dicontoh. Para dalang senior, menengah, hingga junior tampil bergantian tanpa mempersoalkan tarif atau perbedaan grade.

“Mereka bersatu memperingati Hari Wayang Dunia dengan pagelaran 30 jam. Ada dalang level tinggi, menengah, sampai yang bawah. Semua bersatu, itu jauh lebih baik.” ujar Sumanto.

Menurutnya, para dalang muda merasa mendapat kesempatan tampil, sementara dalang senior ikut menonton dan mendukung. Pola ini, kata Sumanto, menjadi pelajaran berharga bahwa pagelaran kolektif dapat menjadi cara efektif melestarikan wayang.

“Tanpa mereka, saya kira tak ada yang mau melestarikan. Perlu perhatian dari pemerintah dan masyarakat,” tambahnya.

Pentas berlangsung di kediaman Sumanto di Desa Suruh, Tasikmadu, Kabupaten Karanganyar dan berlangsung sejak Jumat, 7 November 2025 malam hingga Minggu, 9 November 2025 dini hari.

Para dalang memainkan rangkaian lakon Bharatayuda Jayabinangun, mulai dari Seta Ngraman, Bisma Gugur, Ranjaban Abimanyu, Gatotkaca Gugur, Tirtanata Tigas, hingga Baladewa Muksa.

Acara semakin meriah karena panitia membagikan doorprize berupa kulkas, sepeda, dan hadiah lainnya untuk penonton.

Ketua Paguyuban Dalang Karanganyar Ki Sulardiyarto Pringgo Carito menyebut bahwa pentas 30 jam ini merupakan bentuk perayaan global atas pengakuan dunia terhadap wayang Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.

“Ini ajang konsolidasi dalang Karanganyar untuk terus berkarya. Kegiatan ini juga menjadi sarana sosialisasi nilai-nilai luhur wayang ke generasi muda,” ujarnya.

Meski dikenal rutin menggelar pentas wayang setiap bulan, Sumanto menegaskan bahwa ide pagelaran 30 jam ini datang dari para dalang sendiri.

Baca juga:  Golkar Sukoharjo Syukuran Anugerah Pahlawan Nasional untuk Soeharto

“Ini ide teman-teman dalang. Mereka yang bersatu dan saya hanya ikut sumbangsih. Tidak berlebihan, karena tanpa mereka wayang tidak akan lestari,” ucapnya.

Sumanto berharap pentas seperti ini dapat menjadi pendidikan budaya bagi anak-anak, keluarga, dan masyarakat sekitar.

“Minimal mereka mendengar, melihat, dan akhirnya akan senang. Dari situlah pelestarian budaya dimulai,” katanya.

Ketua DPRD Jateng Sumanto memberi sambutan dalam pagelaran Wayang Kulit di kediamannya di Desa Suruh, Kecamatan Taksikmadu, Karangannyar. FOTO:IST/JATENGPOS

Pesan Moral Lakon Kresna Duta

Sumanto punya kesan tersendiri saat menggelar pentas Wayang Kulit dengan Lakon Kresna Duta di Kabupaten Karanganyar, belum lama ii. Lakon tersebut mengandung pesan moral bahwa diplomasi atau perundingan harus dikedepankan dalam menyelesaikan konflik.

Pagelaran Wayang Kulit itu berlangsung di kediamannya di Desa Suruh, Kecamatan Tasikmadu, Karanganyar. Dua dalang yaitu, Ki Daliyun Darjo Martono, dan Ki Fajri Nur Salim membawakan lakon tersebut.

Lakon Kresna Duta menceritakan perjalanan Prabu Kresna yang diutus sebagai duta oleh Pandawa untuk meminta kembali hak mereka berupa kerajaan Ngastina kepada Kurawa.

Namun, misi perdamaian tersebut gagal karena Duryudana menolak dan malah berusaha membunuh Kresna. Kresna kemudian menunjukkan kesaktiannya dengan berubah menjadi raksasa yang sangat besar dan menakutkan untuk menunjukkan amarahnya atas sikap Kurawa.

Sumanto mengatakan, ia menggelar pentas wayang kulit setiap selapan dina atau 35 hari untuk menjaga tradisi dan warisan budaya. Pentas tersebut sekaligus memberi ruang ke para dalang Kabupaten Karanganyar untuk tampil.

“Kali ini ceritanya tentang Kresna yang menjadi utusan Pandawa untuk menyampaikan secara baik-baik kepada Kurawa untuk membagi tanah Kerajaan Ngastina. Namun karena Kurawa menolak, terjadilah Perang Bharatayuda yang membuat 100 ksatria Kurawa habis dan Pandawa menguasai tanah dari Bapaknya,” ungkapnya.

Sumanto memaparkan, Lakon Kresna Duta meskipun terlihat sederhana, tetapi sarat dengan nilai-nilai filosofis yang dalam dan relevan dengan kehidupan saat ini. Yaitu Kresna tak langsung memilih jalan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Namun Kresna mengedepankan negosiasi atau lobi-lobi meskipun Kurawa merampas hak Pandawa atas tanahnya secara tidak adil.

“Pesan moralnya, negosiasi perlu dilakukan dulu sebelum terjadi hal yang merugikan. Meski Kresna datang untuk berdamai, ia tetap sadar bahwa perang mungkin terjadi. Kresna memberi batas jelas, jika diplomasi gagal, pembelaan diri harus dilakukan untuk menegakkan kebenaran,” kata Sumanto.

Lebih lanjut Sumanto mengajak masyarakat meneladani nilai-nilai positif yang terkandung dalam lakon wayang kulit. Menurutnya, pentas wayang kulit tak sekedar menjadi tontonan, tapi juga tuntunan. Nilai-nilai baik yang dikisahkan tokoh pewayangan seperti keberanian, keadilan, kesetiaan, dan kebijaksanaan, dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Politisi PDIP ini menambahkan, ada banyak nilai baik yang diajarkan oleh tokoh-tokoh pewayangan. Yaitu keberanian, keadilan, kesetiaan, kebijaksanaan, dan kehati-hatian untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

“Kisah-kisah tersebut berasal dari kisah Mahabharata dan Ramayana. Menampilkan pertarungan antara kebaikan melawan kejahatan, serta mengajarkan pentingnya menjaga moralitas dan perilaku yang luhur. Semoga pementasan ini memberikan pelajaran bagi kehidupan,” ungkapnya

Baca juga:  Awas Hati-hati ! Imigrasi Surakarta Temukan Situs Palsu Layanan Paspor

Sementara itu, Sekretaris Desa (Sekdes) Suruh, Aan Andrianto mengapresiasi langkah Sumanto yang rutin menggelar pentas wayang kulit di Kabupaten Karanganyar. Menurutnya hal tersebut menjadi bukti nyata upaya pelestarian kesenian tradisional.

“Kebetulan disini kalau ada jadwal wayang warga ikut getok tular dan menonton. Pada zaman digital ini wayang kulit tak boleh dilupakan. Terima kasih pada Pak Manto yang telah memberikan tontonan dan hiburan ke warga Suruh,” ujarnya.

Ketua DPRD Jawa Tengah, Sumanto. FOTO:IST/JATENGPOS

Pelaku Kesenian Perlu Beradaptasi dan Inovatif

Sumanto lebih jauh menjelaskan, bahwa seiring derasnya arus modernisasi dan perubahan selera hiburan masyarakat, pemerintah daerah dan para seniman perlu melakukan berbagai inovasi untuk melestarikan seni budaya, termasuk wayang kulit.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan agar warisan budaya yang telah hidup ratusan tahun tersebut tetap relevan dan mampu bersaing dengan budaya populer saat ini.

Menurutnya, kesenian tradisional perlu tampil dengan wujud yang baru untuk beradaptasi sesuai perkembangan zaman. Tujuannya agar masyarakat tetap bisa menikmati sehingga budaya tradisional tetap lestari.

“Budaya yang ditampilkan terus-menerus dalam kemasan yang sama bisa jadi menimbulkan kejenuhan. Wayang kulit ini sudah ada sejak zaman nenek moyang dulu. Sampai sekarang meskipun upaya pelestariannya tertatih-tatih, tetap harus kita lakukan,” jelas Sumanto.

Sumanto menambahkan, para pelaku kesenian perlu menerapkan berbagai strategi agar masyarakat tetap mau menonton wayang kulit. Mulai dari pertunjukan yang lebih ringkas, sajian cerita yang dekat dengan kehidupan saat ini, hingga memanfaatkan teknologi sebagai media promosi dan distribusi tontonan.

Ia mencontohkan Pentas Wayang Kulit 30 Jam Nonstop yang melibatkan 23 dalang memainkan seri lakon secara bergantian. Masing-masing dalang memainkan lakon ringkas dalam durasi satu jam. Format baru tersebut diterapkan tanpa menghilangkan jatidiri wayang kulit. Unsur utama seperti filosofi lakon, karakter tokoh wayang, dan nilai moral yang terkandung di dalamnya tetap dipertahankan.

“Para dalang ini menyuguhkan pertunjukan yang lebih singkat dengan bahasa yang lebih ringan, dan cerita yang dekat dengan masyarakat. Tentu tanpa meninggalkan pakem-pakem yang ada,” katanya.

Selain itu, para pelaku kesenian juga bisa memanfatkan internet untuk memperluas jangkauan penonton. Pertunjukan wayang kini bisa hadir melalui live streaming hingga konten video pendek.

“Kemajuan teknologi ini bukan menjadi ancaman, tapi bisa jadi peluang untuk memperluas jangkauan penonton di dunia maya,” paparnya.

Lebih lanjut Sumanto mengatakan, pelestarian budaya tradisional juga menjadi cerminan bangsa yang maju. Ia mencontohkan Jepang yang memiliki teknologi maju namun masyarakatnya tetap lekat dengan budaya tradisionalnya.

“Di tengah gempuran budaya populer, berbagai langkah kreatif perlu dilakukan agar seni tradisional tetap dinikmati. Tentu dengan modifikasi yang baik dapat menjadikan wayang kulit tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai karya seni yang relevan bagi generasi muda,” tandasnya. (muz)



TERKINI

Rekomendasi

...