JATENGPOS.CO.ID, KUDUS-SMP 2 Jati Kudus gelar sosialisasi dan pengenalan perangkat Interactive Flat Panel (IFP) atau smartboard, Jumat (5/12). Kegiatan yang diikuti seluruh guru ini merupakan bagian dari persiapan sekolah, dalam menyambut program digitalisasi pendidikan melalui bantuan smartboard dari pemerintah pusat.
Program distribusi IFP dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dengan target lebih dari 288 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia. Pemerintah memastikan distribusi tepat sasaran melalui tiga lapis verifikasi: Data Pokok Pendidikan (Dapodik), validasi dinas, serta pernyataan kesediaan dari sekolah penerima.
Upaya ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam digitalisasi pembelajaran sebagaimana diatur dalam Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 2025 tentang revitalisasi satuan pendidikan dan pembangunan sekolah unggul.
Melalui digitalisasi pembelajaran diharapkan proses belajar menjadi lebih dinamis, interaktif, sekaligus merata bagi seluruh anak di berbagai pelosok negeri. Dan digitalisasi ini menjadi jawaban atas tantangan seperti rendahnya literasi dan learning loss pascapandemi.
Kepala SMP 2 Jati Kudus, Susilowati Hadiningsih, menyatakan bahwa seluruh guru menyambut baik kehadiran smartboard.
“Kami sangat antusias karena bantuan ini akan mendorong pembelajaran yang lebih modern. Sosialisasi ini penting agar guru memahami cara kerja smartboard dan mampu memanfaatkannya secara optimal untuk pembelajaran siswa nantinya,” ungkapnya.
Untuk memperkenalkan pemanfaatan smartboard secara langsung, sekolah menghadirkan Eko Mardiana, S.Pd. SD, Kepala SD 3 Jepang, sebagai narasumber. Dalam paparannya, Eko yang juga nara sumber pembelajaran mendalam nasional ini menjelaskan manfaat dan fleksibilitas smartboard dalam kelas.
“Smartboard ini sangat luar biasa dan canggih. Siswa akan lebih senang belajar, dan guru bisa mengeksplorasi pembelajaran digital dengan banyak cara,” katanya.
Ia menambahkan bahwa perangkat ini sangat mendukung pendekatan pembelajaran mendalam. “Dengan smartboard, guru bisa menghadirkan simulasi, multimedia, dan aktivitas interaktif sehingga siswa bukan hanya menghafal, tetapi memahami konsep secara mendalam,” jelasnya.
Sesi teknis diberikan oleh Muhammad Hidayat Firmansyah, operator SD 3 Jepang, yang memandu guru mengoperasikan perangkat mulai dari fitur dasar hingga pengaturan keamanan.
“Guru harus paham prosedur dari menyalakan, menggunakan fitur-fitur, menambah materi digital, hingga mematikan alat dengan benar. Penggunaan yang sesuai prosedur membuat perangkat lebih awet dan optimal,” terangnya.
Salah satu guru SMP 2 Jati, Luthfiana Gita Pramesti, mengaku sangat ingin segera mempraktikkan perangkat baru tersebut.
“Saya merasa tertantang untuk mencoba. Selain memakai fitur bawaan, saya ingin membuat model pembelajaran digital sendiri agar lebih kreatif, menarik, dan disesuaikan dengan kondisi siswa-siswi kami” ujarnya. (han/rit)




