24 C
Semarang
Rabu, 14 Januari 2026

Wisatawan Kecewa Museum Kraton Tutup, Padahal Google Menyebut Buka

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Musim liburan Natal dan Tahun Baru 2026 yang semestinya menjadi puncak kunjungan, justru diwarnai kekecewaan di kompleks Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Wisatawan harus menelan pil pahit karena Museum Keraton Surakarta ditutup tanpa pemberitahuan yang jelas, padahal informasi di Google menunjukkan museum beroperasi.

Kekecewaan ini dirasakan langsung oleh wisatawan domestik. Liza Jihan, pengunjung dari Jakarta, mengaku jauh-jauh datang ke Solo khusus untuk melihat koleksi sejarah Keraton.

“Saya sudah niat banget ke sini, mengecek di Google tertulis museum buka. Ternyata sampai di sini tutup. Jelas kecewa sekali, padahal ini kesempatan liburan,” ujar Liza, ditemui awak media di depan Museum Karaton Surakarta, Sabtu (27/12).

Hal serupa dialami wisatawan dari Surabaya yang datang bersama keluarga. Daripada pulang dengan tangan hampa, mereka memutuskan untuk memanfaatkan jasa becak di sekitar Keraton.

“Daripada tidak jadi wisata, kami keliling naik becak saja. Untungnya tukang becaknya ramah dan banyak cerita tentang sejarah Keraton Solo, termasuk soal pergantian Raja,” tutur wisatawan tersebut.

Kondisi penutupan di tengah masa wisata ini memunculkan keprihatinan dari kalangan internal Keraton. Salah satu tokoh Keraton, KPH Eddy Wirabhumi, menyampaikan keprihatinannya.

Baca juga:  33.043 Warga Boyolali Sudah Divaksin Corona

Eddy Wirabhumi mengingatkan bahwa museum dan Keraton telah mendapat kepercayaan besar dari pemerintah pusat dari Kementrian Kebudayaan dengan dilakukannya renovasi untuk Museum sebagian dan Panggung Sanggabuwono.

Renovasi ini, kata Eddy, dilakukan dengan harapan besar agar suasana Museum Keraton dan Keraton itu sendiri bisa menjadi lebih baik dan layak untuk dinikmati oleh masyarakat yang ingin melihat dan berwisata sejarah.

“Kami prihatin dengan kondisi ini. Setelah proses renovasi besar-besaran dari Kementerian Kebudayaan, dengan harapan Museum dan Keraton bisa lebih baik dan dinikmati wisatawan, justru ditutup di masa puncak kunjungan,” jelas Eddy.

Disampaikan pula oleh Kanjeng Eddy, sebelumnya Museum Keraton Surakarta dikelola oleh manajemen yang dipimpin oleh KGPH Hangabehi, putra tertua PB XIII. Karena saat ini sedang menduduki jabatan lain maka jalannya manajemen Museum dilaksanakan untuk staff.

Sementara itu, GRAy Devi Lelyana Dewi, selaku Pengageng Museum dan Pariwisata Keraton, menyampaikan keinginannya untuk segera membuka museum. Namun, ia terhalang oleh kondisi internal di lokasi.

Baca juga:  Kiprah Kang Tarso, Goalkan Bantuan Ratusan Juta dari Banpres BPUM untuk Desa Harjosari

“Saya sebagai Pengageng Museum dan Pariwisata ingin segera membuka museum, tapi memang sepertinya pekerjaan belum selesai. Masih ada beberapa alat dan bahan pekerjaan dari tim BPK (Balai Pelestarian Kebudayaan) yang masih ada di dalam museum,” ujar Gusti Devi sambil mengajak awak media melihat ruang Museum Keraton Surakarta, Sabtu (27/12).

Selain sisa material, ia juga mengungkapkan adanya kekhawatiran terkait kebersihan museum. “Sampah masih banyak karena saya takut kesalahan untuk membersihkan, apalagi belum ada kejelasan kapan diserahkan,” tambahnya.

Gusti Devi juga menyoroti dugaan masalah pada kualitas pekerjaan renovasi yang didanai oleh pemerintah pusat.

“Ada atap yang mengelupas, sepertinya pekerjaannya asal-asalan. Mungkin hanya dilapis cat baru yang lama tidak dikelupas dulu,” ungkapnya sambil menunjukkan atap.

Penutupan Museum Keraton ini sudah berlangsung lama. Menurut Devi, Museum Keraton Surakarta sudah tutup sejak surutnya PB XIII dan hingga kini belum pernah dibuka kembali. Ia juga menyebut adanya ketidakjelasan mengenai proses renovasi karena dirinya, meskipun telah diberi mandat oleh PB XIII sebelum meninggal, tidak dilibatkan dalam proses pekerjaan. (dea/rit)


TERKINI

Rekomendasi

...