JATENGPOS.CO.ID SEMARANG – Pondok Pesantren Salafiyah Az Zuhri Ketileng kota Semarang kembali sukses menggelar Sasiman atau Pesantren Musiman part 2 tahun ini pada 22-29 Desember 2025. Agenda rutin dua kali setahun yang diikuti oleh 165 peserta dari kelas 2 SD hingga kelas 3 SMP tersebut ditutup pada Senin (29/12/25) dengan agenda ziarah makbaroh Abah Syeikh, ziarah ke makam Mbah Genuk, Mbah Soleh Darat, dan Mbah Pandanaran. Dilanjutkan dengan acara perpisahan di Kawasan kampus Unnes Gunung Pati Semarang.
Pengasuh Ponpes Az Zuhri Ketileng, Gus Muhammad Lukman Hakim atau akrab dipanggil Guse mengatakan bahwa Sasiman kali ini mengambil tema Tebarkan Kewelasasihan. “Sifat welas asih ini harus ditebarkan sejak dini, karena ditengah gempuran teknologi digital sekarang ini jika kita tidak membekali anak-anak dengan kewelasasihan maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang tak memiliki kasih sayang dan empati terhadap sesama.” Ungkapnya.
Beliau melihat saat ini anak-anak banyak menghabiskan waktunya bermain gadget atau hal-hal kurang bermanfaat. Maka untuk menghadapi hal tersebut pihaknya berupaya mengenalkan ajaran agama dengan metode yang menyenangkan.
“Lokasi kegiatannya di Gunung Santri (daerah Ketileng) di kawasan pondok Az Zuhri, tidak jauh dari pemukiman,” ungkap pria yang juga akrab disapa Gus Lukman tersebut.
Ia menjelaskan para siswa tidak hanya sekadar belajar agama tapi juga mengenal alam melalui tenda-tenda yang dibangun supaya anak-anak senang.
Menurutnya, selama delapan hari full anak-anak secara gratis mengikuti Sasiman Ponpes Az Zuhri Ketileng Semarang. “Selain itu konsumsi anak-anak terjamin, mendapatkan konsumsi makan tiga kali sehari juga mendapatkan vitamin,” terangnya.
Selama delapan hari nyantri, anak-anak tidak pegang hp, berkumpul bersama temannya, bermainan mainan tradisional dan outbound. Anak-anak bermain di tengah suasana alam sembari belajar Tauhid,Al Quran, hadits dan hafalan yang dibuat semenarik dan senyaman mungkin.
Hal Senada diungkapkan ketua panitia Sasiman, Agus Sumartono bahwa Sasiman part 2 kali ini memang berbeda. Kali ini Guse mengusung tema sebarkan kewelasasihan. Itu dimulai dari keprihatinan beliau soal kondisi sekarang ini seperti pengaruh medsos, kemasyarakatan yang tidak begitu akrab, dan sebagainya. Anak-anak sekarang dikendalikan lewat HP, dan itu sangat memprihatinkan.
“Oleh karena itu, disini anak-anak dilatih memiliki memori yang baik untuk bekal masa depan mereka. Jadi tidak melulu ngaji kitab, tapi lebih pada bagaimana kegembiraan itu dibangkitkan, memori-memori yang baik dibangkitkan disini, untuk kapan? Untuk masa depannya nanti,” katanya.
Nantinya mereka akan ingat apa yang sudah pernah dilakukan di sini, apa yang pernah Guse ajarkan di sasiman ini. Jadi kalau sekarang mungkin sholatnya belum tertib itu wajar, tapi suatu saat pasti akan ingat.
“Kunci pertamanya adalah bagaimana mereka diajari terima kasih dengan rasa bersyukur, itu yang pertama diajarkan. Bagaimana anak-anak ini bisa terus berinteraksi selama 8 hari dan 14 jam sehari. Itu non-stop, tidak ada istirahat. Intinya adalah kegiatan yang sifatnya gembira. Di mana gembira itu menurut kami akan menghasilkan energi yang besar. Dengan energi yang besar itu mereka bisa melakukan banyak hal. Ini hari ke-9, dari pagi jam 8 mereka kumpul, ini sudah jam 8 lebih. Anak-anak masih penuh energinya seperti ini. Itu tidak ditemui di tempat lain,” ujar Agus. (Prast.wd/biz/sgt)

