JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Tengah mencatat perkembangan perdagangan luar negeri wilayah ini hingga akhir November 2025 menunjukkan tren ekspor yang meningkat, namun impor tumbuh lebih tinggi sehingga neraca perdagangan masih mengalami defisit.
Berdasarkan Berita Resmi Statistik BPS Jateng per 5 Januari 2026, nilai ekspor Jawa Tengah pada November 2025 tercatat US$1.120,69 juta, naik 14,59 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Secara kumulatif, ekspor Jawa Tengah sepanjang Januari–November 2025 mencapai US$11.433,61 juta atau meningkat 9,69 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai impor Jawa Tengah pada November 2025 mencapai US$1.243,60 juta, naik 21,31 persen dibandingkan November 2024.
Secara kumulatif, impor pada periode Januari–November 2025 tercatat US$726,30 juta atau turun 3,88 persen dibanding periode sama tahun lalu. Akibat perbedaan nilai ini, neraca perdagangan Jawa Tengah masih mengalami defisit sebesar US$122,90 juta.
Wisnu Nurdiyanto, Statistisi Ahli Madya BPS Jawa Tengah menjelaskan, peningkatan ekspor menunjukkan permintaan luar negeri terhadap produk unggulan Jawa Tengah tetap kuat meskipun tantangan global masih ada.
“Pertumbuhan ekspor terutama didukung oleh sektor industri pengolahan dan komoditas nonmigas. Ini menunjukkan daya saing produk Jawa Tengah di pasar internasional semakin solid,” ujar Wisnu.
Menurut Wisnu, defisit neraca perdagangan terutama dipicu oleh defisit sektor migas, sementara sektor nonmigas tetap mencatat surplus.
“Impor yang meningkat terutama disebabkan kebutuhan bahan baku dan barang penolong untuk mendukung proses produksi dalam negeri,” tambahnya.
BPS Jateng mencatat, surplus di sektor nonmigas masih mampu menopang sebagian besar kinerja perdagangan luar negeri, namun defisit migas memberi tekanan terhadap total neraca perdagangan Jawa Tengah hingga akhir 2025.
Wisnu menambahkan, tren ini menjadi pijakan penting dalam perencanaan ekonomi regional memasuki 2026.
“Data ini akan menjadi referensi bagi pemerintah, pelaku usaha, dan pemangku kebijakan dalam merumuskan strategi peningkatan ekspor dan pengendalian impor di tahun mendatang,” ujarnya.
Perdagangan luar negeri Jawa Tengah menjadi salah satu indikator kunci dalam menilai kekuatan ekonomi daerah di tengah ketidakpastian ekonomi global. Dengan mayoritas pasar ekspor Jawa Tengah berada di negara mitra besar seperti Amerika Serikat, Jepang, dan Tiongkok, upaya diversifikasi pasar dan peningkatan nilai tambah produk menjadi fokus utama.(aln)



