JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG – Warga Ungaran kabupaten Semarang khususnya, dan warga Jawa Tengah umumnya patut berbangga. Diam-diam Ungaran punya kampus yang hebat. Tidak hanya melayani mahasiswa selama kuliah, tetapi juga pelayanan purna kuliah (purna jual). Sehingga mahasiswa dijamin siap kerja setelah lulus studi.
Itulah Universitas Ngudi Waluyo (UNW), yang berada di pinggir jalan utama Semarang-Solo. Tepatnya di Jl.Diponegoro no 186 Gedanganak Ungaran Timur, Kabupaten Semarang Jawa Tengah.
Di tangan Rektor Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum., UNW makin dikenal sebagai kampus hebat pencetak tenaga kerja. Tak heran jika sekarang UNW menjadi kampus pilihan mahasiswa.
“Kami memiliki komitmen yang sangat kuat, bahwa sesungguhnya faktor utama keberadaan sebuah kampus adalah eksistensi mahasiswa, maka hampir sebagian besar kebijakan yang ada di UNW itu kami tujukan untuk memfasilitasi mahasiswa agar bisa berproses yang terbaik di kampus ini. Bahkan kami memiliki layanan purna jual. Sama seperti industri-industri manufaktur yang lain. Layanan purna jual yang kami maksud adalah bisa mengantarkan para mahasiswa untuk bisa cepat mendapatkan perkerjaan setelah lulus,”kata Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum., kepada JatengPosTV, di kampus UNW, 5 Januari 2026.
Dari jargon kampus pencetak tenaga kerja itulah, UNW merancang program Pra Kerja. Yakni program pembekalan dan pelatihan mahasiswa untuk siap kerja selama/pasca kuliah. UNW merangkul sejumlah industri di Jawa Tengah untuk mengajar dan praktek kerja di program Pra Kerja ini.
“Mungkin kalau kampus lain dengan bangganya mahasiswa bisa bekerja setalah lulus. Kalau di UNW sebelum mereka menjalani kuliah sudah ada program pembekalan kerja, sehingga mereka bisa kuliah sambil bekerja. Program ini kami jalankan sejak 2019 lalu, waktu awal kami beri nama program KOKY (Kauliah Oke Kerja Yes),”imbuhnya.
Pada awalnya mahasiswa dibuatkan kelas KOKY. Para pendaftar dari SMA, SMK, MA, baik negeri maupun swasta yang kena dampak covid, jadi prioritas utama. Selama kuliah mereka diberi bekal skil dan praktek. Sehingga ketika kuliah bisa sambil kerja karena UNW punya kerjasama dengan sejumlah pabrik. Yang belum kerja, difasilitasi dan diarahkan masuk dunia kerja industri yang ada kerjasama.
“Alhamdulilah Program KOKY sudah meluluskan tiga angkatan. Sekarang namanya diganti program Pra Kerja. Program ini memfasilitasi anak-anak yang punya talenta dan tekad kuat untuk berhasil. Kami mengarahkan supaya mahasiswa bisa menjalankan peran ganda, ya sebagai mahasiswa ya sebagai pekerja,”tambah Prof Bi, panggilan akrabnya.
Atas dedikasinya itu, Prof. Dr. Subyantoro, M.Hum., dipilih Jateng Pos sebagai pihak yang layak meraih penghargaan Man Of The Year Jateng Pos Award 2025. Rektor dan kampus UNW dianggap mampu membuat terobosan sebagai kampus persiapan dan pencetak tenaga kerja.
“Kami memiliki keyakinan, mahasiswa yang masuk program KOKY atau Pra Kerja memiliki kompetensi dan komitmen yang valid dalam dunia kerja.”
Ada 12 program studi yang dibuka untuk masuk Kelas Pra Kerja. Baik studi umum maupun kesehatan. Di kabupaten Semarang menurut Prof Bi unik. Hampir ada 500 industri, tetapi tidak semua karyawan yang ada di industri itu mayoritas dari kabupaten Semarang. Bahkan masih banyak lulusan SMA dan SMA yang menganggur. Itu ironi. Ditawarkan hampir 15 ribu lowongan pekerjaan. Tetapi belum bisa terpenuhi. Karena banyak faktor, diantaranya belum siapnya calon pekerja. Maka UNW membuka kelas Pra Kerja.
“Kami punya kerjasama yang erat dengan HRD di sejumlah pabrik di Jateng. Yang kebetulan juga punya komitmen mencetak 1000 pekerja, dalam rangka mewujudkan Indonesia Emas 2045. Jadi gayung bersambut antara keinginan UNW dan HRD di perusahaan yang ada di kabupaaten Semarang,”jelasnya.
Untuk melebarkan sayap, saat ini UNW sedang menjalin kerjasama dengan dunia industri di luar kabupaten Semarang. Seperti industri di Pemalang, Jepara, Demak, Temanggung, Batang, Kendal dan lainya. Karena mahasiswa UNW tidak hanya berasal dari kabupaten Semarang.
“Alhamdulilah alumni UNW cepat dapat kerja. Rata-rata setalah tiga bulan lulus sudah kerja. Kalau yang ikut program Pra Kerja, otomatis lulus berlanjut kerjanya dan gajinya meningkat.”
20 PROGRAM STUDI
Saat ini UNW memilik 24 program studi. Dua puluh diantaranya program studi D3, S1, dan profesi. Dan 4 program studi pasca sarjana. Untuk S1, D3, dan pendidikan Profesi tersebar di 3 Fakultas. Fakultas Kesehatan ada 10 program studi (Diploma, Profesi, dan akademik). Fakultas Ekonomi, Hukum, Humaniora ada 6 program studi. Dan Fakultas Komputer pendidikan ada 4 program studi. Kedepan ditambah lagi program studi yang lebih peka terhadap lapangan kerja.
Dahulu, Ngudi Waluyo (sebelum UNW) fokus mencetak sekolah khusus kesehatan, khusunya perawat dan bidan. Setelah menjadi universitas, UNW membuka banyak prodi umum selain kesehatan. Korp bisnis dan visi UNW menjadi kampus berbudaya sehat. Maka prodi-prodi kesehatan menjadi pondasi dasar untuk pengembangan universitas.
“Prodi keperawatan dan kebidanan kami dorong untuk menjadi role of model prodi yang lain. Dan alhamdulilah prodi kesehatan sudah terakreditasi unggul. Dan lulusanya memiliki kekhasan dibanding kampus lain di dunia kerja. Selalu saja ada yang memberi tahu dari beberapa rumah sakit tempat bekerja, bahwa lulusan UNW memiliki kompetensi dan komitmen, integritas kerjanya lebih bagus dibanding yang lain. Bahkan ada rumah sakit dari Pantai Indah Kapuk Jakarta Utara sana, selalu meminta perawat dari UNW. Kata mereka perawat lulusan UNW lebih telaten lebih care ke pasien,”imbuh Prof Bi.
Menurutnya, UNW punya komitmen kuat untuk menghasilkan lulusan yang memiliki karakter berbudaya sehat. Untuk ke depannya budaya sehat dikawinkan dengan STEM (sain, teknologi, teknik, matematika), karena harus mengikuti perkembangan. Harapanya UNW punya lulusan yang rasional tetapi juga beretika. “Kami kuatkan pendidikan kami dengan istilah Healthy STEM and Excellent, sehingga akan membentuk ekosistem kampus rasional dengan etis yang tinggi,”jelasnya. (jan/has)
TUGAS AKHIR PENGGANTI SKRIPSI
Yang menarik lagi dari UNW, tugas akhir bisa menjadi karya bidang pengganti skripsi. Sehingga banyak pilihan untuk menyelesaikan tugas akhir. Tidak hanya karya ilmiah seperti skripsi. Bahkan prestasi mahasiswa juga dihargai sebagai tugas akhir kalau tingkatnya nasional.
“Bahkan kami juga punya program pengakuan atas komitmen mahaiswa untuk memasuki dunia kerja. Mereka bisa saja membuat tugas akhirnya dalam bentuk best practise (pengalaman terbaik ketika mereka bekerja). Itu bisa mereka tulis kemudian didisiminasikan ke adik-adiknya di bawah angkatan. Mahasiswa yang menulis jurnal ilmiah bereputasi nasional dan internasional kami hargai juga. Sebab tidak semua mahasiswa yang lulus dengan IPK tinggi selalu sukses di lapangan pekerjaan,”katanya.
Menurut Prof Bi, banyak mahasiswa yang terjun di organisasi kemahasiswaan, justeru bagus sekali ketika memasuki dunia kerja. Misalkan mahasiwa yang menjadi ketua BEM, di kampus lain jarang yang merekognisi, tetapi di UNW dihargai. Mereka meluangkan waktu, uang, tenaga, pikiran, kalau di SKS kan banyak sekali.
“Di kami kita akui. Ketua BEM yang sukses menyelesaikan 90 persen programnya, bisa dibuat laporan. Tidak usah nyusun skripsi. Kegiatan mereka di BEM ditulis pendek saja 20-30 halaman, didisimenasikan ke adik-adik angkatanya, kinerja yang bagus itu bisa menular ke adik-adiknya, itu bisa jadi pengganti skripsi.”
HARAPAN PENDIDIKAN
Untuk pendidikan ke depan, Prof Byanto berharap jangan ada pendidikan yang meninabubukkan masyarakat. Yang betul-betul bisa menyiapkan kompetensi sempurna. Maka hal-hal yang melemahkan harus dikikis. Misalnya Kementrian Dikdasmen yang saat ini mulai ada pernyataan peserta didik boleh tidak naik kelas. Ini dampaknya tidak baik karena siswa tidak perlu belajar pasti naik kelas. Padahal faktanya masih ada siswa SMP mau masuk SMA belum bisa membaca.
“Itu karena kita main-main dengan kebijakan. Mari kita murnikan kembali dunia pendidikan yang tidak ditunggangi kepentingan politik. Sehingga pendidikan bisa mendidik siswa yang punya kompetensi paripurna.”
KARIER
Menjadi pakar pendidikan, pakar hukum, dan rektor hingga saat ini, menurut Prof Bi karena nasehat dan doa orang tua. Kebetulan dia dilahirkan dari rahim pendidik. Sang ibu yang juga seorang guru SD, sejak awal mengarahkanya masuk SPG.
“Saya lahir dari rahim seorang pendidik dan memang dicetak jadi guru, meskipun waktu itu saya tidak menyukai. Tapi ternyata nasehat ibu itu jalan terbaik. Saya baru mensyukuri ketika orasi jadi profesor. Kalau tidak nurut nasehat ibu, mungkin saya tidak jadi profesor,”katanya.
Sebelum jadi rektor UNW, Prof Byanto banyak berkecimpung di dunia pendidikan. Sesunggunya status dia adalah dosen Unnes. Pernah menjadi Wakil Dekan Fakultas Bahasa dan Satara Unnes. Lalu ditugaskan menjadi Rektor di UNW hingga sekarang. Prof Byanto menjadi konsultan pendidikan di Dinas Pendidikan Provinsi. Menjadi tim penilai angka kredit para guru. Hampir setiap minggu komunikasi dengan guru secara nasional membuka webinar dalam rangka pengembangan kompentensi guru.
“Saya punya komunitas membaca-menulis para guru dan sudah menghasilkan ratusan buku yang ditulis mereka. Semua kami bungkus di UNW, sehingga UNW kami sebut rumah pendidikan bagi siapapun para guru yang mau berprestasi,”pungkasnya.(jan/has)



