31 C
Semarang
Sabtu, 24 Januari 2026

Komisi VII DPR RI Apresiasi Sido Muncul, Jamu Berbasis Ilmiah Dinilai Jadi Contoh Nasional

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG– Komisi VII DPR RI mengapresiasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk yang dinilai berhasil mentransformasi jamu tradisional menjadi produk kesehatan berbasis riset dan standar ilmiah. Apresiasi tersebut mengemuka dalam kunjungan kerja spesifik ke pabrik Sido Muncul di Bergas, Kabupaten Semarang, Jumat (23/1/2026).

Ketua Tim Kunjungan Kerja Spesifik Komisi VII DPR RI Evita Nur Santi, M.Sc. menyatakan, Sido Muncul layak menjadi role model pengembangan industri jamu nasional. Menurutnya, tidak banyak industri jamu yang mampu bertahan, tumbuh, dan dikelola secara modern hingga diakui secara luas.

“Kami memberikan apresiasi karena Sido Muncul membuktikan bahwa jamu bisa naik kelas, dikelola secara ilmiah, modern, dan tetap berpijak pada kekayaan alam Indonesia,” ujar Evita.

Ia menegaskan, kunjungan kerja spesifik ini memang bersifat tematik, dengan fokus pada farmasi tradisional. DPR RI, kata dia, ingin melihat langsung bagaimana jamu diproduksi, distandarisasi, hingga dipasarkan agar dapat menjadi masukan kebijakan yang konkret.

“Kunjungan ini kami lakukan langsung ke lapangan karena dari situ kami mendapatkan gambaran yang jauh lebih utuh dibandingkan hanya rapat di ruangan. Banyak hal yang bisa kami lihat dan pelajari secara langsung,” katanya.

Evita juga menyoroti penerapan teknologi di Sido Muncul yang tidak berdampak pada pemutusan hubungan kerja. Menurutnya, hal tersebut menjadi bukti bahwa modernisasi industri dapat berjalan seiring dengan keberpihakan pada tenaga kerja.

“Yang kami apresiasi, kemajuan teknologi di sini tidak mengorbankan pekerja. Ini penting karena sering kali modernisasi justru identik dengan pengurangan tenaga kerja,” tegasnya.

Baca juga:  PGN Terus Tingkatkan Pemanfaatan Gas Hingga 70 BBTUD di Jateng

Selain itu, Evita mendorong penguatan kolaborasi antara industri jamu dengan sektor lain, termasuk pariwisata wellness yang tengah dikembangkan pemerintah. Jamu dinilai memiliki potensi besar menjadi bagian dari layanan kesehatan berbasis kearifan lokal.

“Kami melihat peluang besar jamu untuk dikolaborasikan dengan program wellness tourism. Ini bisa menjadi kekuatan Indonesia yang tidak dimiliki banyak negara,” ujarnya.

Kunjungan kerja spesifik tersebut diikuti oleh tujuh anggota Tim Komisi VII DPR RI, serta Dirjen Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil Kementerian Perindustrian, Taufik Bawazir. Rombongan meninjau langsung fasilitas produksi dan berdialog dengan manajemen perusahaan.

Direktur PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat menjelaskan, keberhasilan Sido Muncul dibangun melalui proses panjang, konsisten, dan tidak instan. Ia menegaskan, sejak awal Sido Muncul memang menempatkan jamu setara dengan obat modern, sehingga pendekatan ilmiah menjadi keharusan.

“Dari awal kami punya prinsip, jamu harus bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Kalau ingin dipercaya, maka harus dibuktikan dengan riset, uji klinis, dan standar yang jelas,” kata Irwan.

Ia mengungkapkan, proses standarisasi jamu mulai dilakukan sejak 1985, meski saat itu menghadapi keterbatasan modal, teknologi, dan sumber daya manusia. Namun, langkah tersebut tetap diambil karena Sido Muncul ingin membangun fondasi jangka panjang.

“Waktu itu banyak yang meremehkan. Uangnya dari mana, penelitiannya untuk apa. Tapi kami yakin, tanpa standar, jamu tidak akan pernah diakui,” ujarnya.

Irwan menuturkan, pabrik di Bergas dibangun sebagai wujud komitmen terhadap standar farmasi, mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga pengemasan. Seluruh tahapan dilakukan secara terkontrol untuk memastikan mutu dan keamanan produk.

Baca juga:  Jalur KA di Perlintasan Sebidang Kaligawe Semarang Diperbaiki

“Pabrik ini bukan sekadar tempat produksi, tapi pusat pembuktian bahwa jamu bisa diproduksi dengan standar tinggi seperti industri farmasi,” katanya.

Ia juga menyebut, pada 2003 Sido Muncul melakukan uji toksisitas dan uji khasiat secara independen terhadap sejumlah produk, termasuk Tolak Angin. Hasilnya menunjukkan produk aman dikonsumsi dan memiliki khasiat yang terukur.

“Kami melakukan uji klinis fase satu dan dua melalui lembaga independen. Ini penting agar hasilnya objektif dan bisa diterima oleh dunia medis,” jelasnya.

Menurut Irwan, dari lebih dari 1.600 industri jamu yang pernah tumbuh di Indonesia, hanya sedikit yang mampu bertahan hingga kini. Sido Muncul menjadi satu-satunya perusahaan jamu yang berhasil melantai di bursa.

“Itu menunjukkan bahwa membangun industri jamu tidak bisa setengah-setengah. Harus konsisten, disiplin, dan berani berinvestasi pada kualitas,” tegasnya.

Mewakili Gubernur Jawa Tengah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah Juli Emilia menyatakan, Sido Muncul merupakan aset strategis industri Jawa Tengah. Industri jamu dinilai berkontribusi nyata terhadap perekonomian daerah dan penyerapan tenaga kerja.

“Pada triwulan III 2025, sektor industri menyumbang Rp170 triliun atau 33,4 persen terhadap PDRB Jawa Tengah, dan industri jamu menjadi bagian penting di dalamnya,” kata Juli.

Ia menyebut, hingga November 2025 ekspor jamu Jawa Tengah mencapai 24,6 juta dolar AS dengan tujuan Jepang, Amerika Serikat, Eropa, Timur Tengah, dan Asia. Dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor dinilai krusial untuk menjaga daya saing industri jamu ke depan.(aln)



TERKINI

Srikandi PLN Hadirkan Ruang Cerita Ibu

Rekomendasi

...