26 C
Semarang
Minggu, 25 Januari 2026

Pakar Kimia UNS Kenalkan Inovasi Olah Limbah Batik

JATENGPOS.CO.ID, SOLO – Masalah limbah cair industri batik di wilayah Solo dan sekitarnya masih menjadi tantangan lingkungan yang serius. Pakar Kimia Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, Dr. Maria Ulfa, S.Si., M.Si., mengingatkan masyarakat agar tidak terkecoh dengan tampilan visual limbah cair batik yang terlihat jernih.

Menurut Dr. Maria, limbah cair batik yang tidak lagi berwarna pekat atau mencolok bukan berarti sudah bebas dari bahaya. Secara kimiawi, limbah tersebut sering kali masih mengandung tingkat toksisitas tinggi yang dapat merusak ekosistem akuatik serta mengancam kesehatan manusia.

“Muncul kesalahpahaman seolah limbah yang jernih itu sudah aman. Kenyataannya, limbah tersebut masih berpotensi mengandung senyawa berbahaya,” ujar Dr Maria dalam keterangannya, Jumat (23/1).

Dosen Pendidikan Kimia FKIP UNS ini menyoroti praktik pengolahan limbah saat ini, seperti metode adsorpsi menggunakan karbon aktif atau lumpur. Ia menilai metode tersebut belum menuntaskan masalah karena hanya memindahkan zat warna dan sifat toksiknya ke media lain, bukan menghilangkan atau menetralkannya secara total.

Baca juga:  3 Terduga Teroris Ditangkap di Klaten

Sebagai solusi berkelanjutan yang selaras dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), Dr. Maria memperkenalkan inovasi teknologi bertajuk SPAMCAT (Smart Pelletized Sulfonated Mesoporous Silica Catalyst).

Berbeda dengan metode penyaringan biasa, SPAMCAT merupakan katalis yang dirancang khusus untuk membantu proses degradasi zat warna. Teknologi ini bekerja dengan mempercepat reaksi pemecahan molekul zat warna hingga menjadi senyawa yang lebih aman dan ramah lingkungan.

“SPAMCAT tidak hanya menghilangkan warna limbah, tetapi juga menurunkan tingkat toksisitasnya secara signifikan,” imbuhnya. Saat ini, riset tersebut tengah difokuskan pada pengembangan reaktor fotokatalis agar teknologi ini nantinya lebih aplikatif bagi pelaku UMKM maupun industri batik besar.

Dr. Maria menekankan bahwa keberhasilan penanganan limbah batik memerlukan sinergi antara universitas sebagai pusat inovasi, pemerintah sebagai regulator, industri sebagai pelaksana yang bertanggung jawab, serta masyarakat sebagai pengawas sosial.

Baca juga:  8.650 Pegiat Olahraga Rekreasi Ramaikan Festival Olahraga Tradisional

Pemerintah diharapkan dapat memberikan insentif kebijakan bagi industri yang menerapkan teknologi ramah lingkungan. Di sisi lain, pelaku usaha batik dituntut komitmennya untuk tidak lagi membuang limbah tanpa pengolahan yang benar.

“Sinergi ini menjadi kunci utama dalam menjaga keberlanjutan dan keselamatan lingkungan perairan kita,” pungkas peraih gelar doktor bidang kimia tersebut. (dea/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...