JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudar) Kabupaten Kudus mencatat kunjungan wisatawan sepanjang tahun 2025 mengalami penurunan signifikan. Sesuai data yang ada, menunjukkan total kunjungan dari Januari hingga Desember 2025 mencapai 3.621.768 orang.
Angka ini lebih sedikit 14 persen, dibandingkan jumlah kunjungan sepanjang tahun 2024 mencapai 4.213.465 pengunjung. Penurunan jumlah wisatawan ini pun mempengaruhi target yang ditetapkan sebesar 4.424.138 wisatawan, dengan selisih mencapai 18,14 persen.
Sekretaris Disbudpar Kabupaten Kudus, Agus Susanto, mengungkapkan bahwa mayoritas pengunjung merupakan wisatawan nusantara (wisnus) sebanyak 3.621.663 orang, sementara wisatawan mancanegara (wisman) tercatat hanya 105 orang. Jutaan wisatawan tersebut tersebar di 33 Daya Tarik Wisata (DTW) di Kudus.
‘’Beberapa destinasi unggulan yang paling banyak diminati itu di antaranya Makam Sunan Muria dan Makam Sunan Kudus, Wisata Alam & Edukasi Pijar Park, Desa Wisata Rahtawu, Museum Jenang, Museum Kretek, Irons Waterpark, Kretek Waterpark, Desa Wisata Wonosoco, dan Taman Krida,’’ paparnya.
Agus juga menjelaskan, bahwa penurunan ini dipengaruhi beberapa faktor teknis dan eksternal. Salah satunya adalah kenyamanan fasilitas, seperti kondisi transportasi ojek di kawasan Menara Kudus yang dinilai kurang ramah serta akses tangga menuju Makam Sunan Muria yang belum memadai.
‘’Selain itu, faktor ekonomi global dan munculnya destinasi baru di daerah lain yang belum terdata secara resmi juga turut berdampak,’’ ungkapnya.
Sebagai langkah pemulihan, pihaknya berencana mengoptimalkan perbaikan sistem pendataan, serta meningkatkan daya saing pengelola DTW melalui promosi yang lebih intensif.
Sebelumnya, data realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sektor pengelolaan kekayaan daerah yang dikelola Disbudpar Kudus, gagal mencapai target pada tahun anggaran 2025. Dari target yang dipatok sebesar Rp 3,8 miliar, realisasi hingga akhir Desember 2025 hanya menyentuh angka Rp 3,5 miliar atau sekitar 95 persen.
Dari data itu, mayoritas pos pendapatan gagal memenuhi ekspektasi, kecuali sektor penginapan. Retribusi penginapan menjadi satu-satunya primadona dengan raihan Rp 350 juta atau 110 persen dari target Rp 319 juta.
Sebaliknya, pos pendapatan lain tampak terseok-seok. Retribusi pemanfaatan aset daerah hanya terealisasi Rp 422 juta (95%) dari target Rp 445 juta. Sektor parkir bahkan hanya mencapai 85 persen dengan raihan Rp 310 juta dari target Rp 365 juta.
Sementara itu, retribusi tempat rekreasi dan olahraga tercatat menyumbang Rp 2,3 miliar (87%) dari target Rp 2,7 miliar, dan pendapatan portal Colo mencapai Rp 1,8 miliar (95%) dari target Rp 1,9 miliar. (han/rit)




