JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Pemkab Kudus melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) terus mendorong percepatan pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Hingga akhir Januari 2026, setidaknya 12 unit koperasi ditargetkan rampung, dan siap beroperasi untuk memperkuat ketahanan ekonomi perdesaan.
Kepala DPMD Kabupaten Kudus, Famny Dwi Arfana, menyatakan bahwa progres di lapangan saat ini telah melampaui estimasi awal. Dari target awal 10 unit, kini tercatat terdapat sekitar 12 lokasi yang pembangunannya sudah menyentuh angka di atas 80 persen.
‘’Melihat tren positif di lapangan, kami optimistis 12 unit KDKMP ini selesai akhir bulan ini,’’ ujar Famny, baru-baru ini.
Sambungnya, akselerasi pembangunan ini tersebar di beberapa titik strategis, di antaranya Desa Puyoh dan Samirejo (Kecamatan Dawe), serta Desa Gondosari dan Besito (Kecamatan Gebog).
Wilayah Kecamatan Jati menjadi titik terbanyak dengan lima lokasi, yakni Desa Getas Pejaten, Pasuruan Lor, Loram Wetan, Megawon, dan Ngembal Kulon. Lalu Desa Gulang Kecamatan Mejobo, Desa Kutuk Kecamatan Undaan), dan Desa Papringan Kecamatan Kaliwungu.
‘’Secara total, dari 132 desa/kelurahan di Kudus, sebanyak 78 desa kini telah masuk dalam peta pembangunan KDKMP,’’ kata dia.
Soal pendanaan, proyek strategis ini dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah pusat melalui PT Agrinas. Setiap unit KDKMP menempati lahan seluas 1.000 meter persegi, dengan luas bangunan utama 600 meter persegi dengan ukuran 20 x 30 meter. Sisa lahan, dialokasikan untuk fasilitas penunjang seperti area parkir dan logistik.
‘’Setelah konstruksi fisik tuntas, pemerintah pusat segera melengkapi fasilitas penunjang berupa peralatan usaha dan kendaraan operasional,’’ imbuhnya.
Menurutnya, kehadiran KDKMP diproyeksikan tidak hanya sebagai unit usaha mandiri, tetapi juga penyokong utama Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Famny menekankan pentingnya sinergi antara KDKMP dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk menggerakkan UMKM lokal.
“Kami ingin KDKMP menjadi motor penggerak ekonomi. Dengan operasionalisasi yang matang, perputaran uang akan tetap berada di desa, yang pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat,’’ pungkasnya. (han/rit)




