JATENGPOS.CO.ID, SOLO — Kawasan Solo Raya sepakat memperkuat sinergi melalui skema aglomerasi untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar delapan persen. Komitmen tersebut mengemuka dalam forum Outlook Ekonomi Solo Raya 2026 bertajuk “Aglomerasi Kawasan Menuju Pertumbuhan 8%” yang digelar di The Sunan Hotel Solo, Rabu (4/2).
Hadir dalam acara tersebut Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi, Walikota Surakarta Respati Ardi, Wakil Walikota Astrid Widayani, Bupati Sragen, Bupati Klaten, Wakil Bupati Sukoharjo Eko Sapto Purnomo, serta jajaran Kadin se-Solo Raya.
Dalam arahannya, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa Solo Raya merupakan barometer ekonomi di Jawa Tengah. Sebagai langkah konkret, Gubernur mengumumkan pengaktifan kembali fungsi kantor Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) di Gladag, Solo.
Langkah ini diperkuat dengan Peraturan Gubernur terkait SOTK terbaru yang menempatkan Staf Ahli sebagai komandan koordinasi.
“Kami aktifkan kembali Bakorwil Solo Raya sebagai bentuk kehadiran Pemerintah Provinsi di daerah. Saya minta setiap kabupaten menempatkan perwakilannya di sana untuk mempercepat koordinasi antar-daerah,” ujar Ahmad Luthfi.
Gubernur juga mendorong transformasi Solo Raya menjadi pusat wisata kesehatan (medical tourism) menyerupai Penang, Malaysia. Menurutnya, hal ini bisa dicapai jika 57 perguruan tinggi dan dunia usaha seperti Kadin, Apindo, hingga PHRI berkolaborasi secara intensif.
Sementara itu, Ketua Kadin Surakarta, Ferry Septha Indrianto, menyoroti adanya tantangan besar untuk mencapai target ekonomi nasional. Saat ini, pertumbuhan ekonomi Solo Raya masih tertahan di angka 5 persen, sehingga dibutuhkan tambahan 3 persen (delta) untuk menyentuh angka 8 persen.
“Tambahan 3 persen tersebut hampir mustahil dicapai jika program antar-daerah masih berjalan sendiri-sendiri tanpa konsolidasi. Masalah kita hari ini adalah persoalan struktural, sehingga solusinya pun harus bersifat struktural melalui aglomerasi,” jelas Ferry.
Ferry menambahkan, aglomerasi akan menyinkronkan potensi tanpa mengurangi kewenangan otonomi daerah. Dengan integrasi kawasan, potensi besar dari bonus demografi serta kekayaan budaya Solo Raya dapat terkonsolidasi menjadi kekuatan ekonomi yang kompetitif di tingkat regional maupun internasional.
Melalui forum ini, pimpinan daerah di Solo Raya diharapkan segera mengimplementasikan kerjasama lintas batas, seperti sinkronisasi sektor pariwisata alam di kabupaten dengan wisata kuliner dan budaya di Kota Surakarta. (dea/rit)






