Oleh:Gouw Ivan Siswanto, S.H., M.Th. (Staff Ahli TP PKK Jawa Tengah)
JATENGPOS. CO. ID, SEMARANG- Perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat bagi kehidupan manusia, termasuk bagi anak-anak dalam hal pendidikan, kreativitas, dan akses informasi. Namun, di balik manfaat tersebut, terdapat ancaman serius yang mengintai dan sering kali tidak disadari oleh orang tua maupun masyarakat, yaitu child grooming. Kejahatan ini bersifat senyap, sistematis, dan berjangka panjang, sehingga kerap luput dari perhatian hingga dampaknya dirasakan terlalu terlambat.
Child grooming bukanlah bentuk kekerasan yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan proses manipulasi psikologis yang dilakukan oleh pelaku untuk membangun kepercayaan anak, dengan tujuan eksploitasi seksual, emosional, atau bahkan perdagangan manusia. Oleh karena itu, pemahaman yang komprehensif dan kesadaran kolektif menjadi kunci utama dalam pencegahan.
Pengertian Child Grooming Child grooming adalah serangkaian tindakan yang dilakukan oleh orang dewasa atau pihak tertentu untuk mendekati, membangun relasi emosional, dan memanipulasi anak agar mau menuruti keinginan pelaku, khususnya dalam konteks pelecehan atau eksploitasi seksual.
Proses ini dapat berlangsung dalam jangka waktu lama dan dilakukan secara bertahap, baik melalui interaksi langsung (offline) maupun melalui media digital (online). Pada era media sosial, permainan daring, dan aplikasi pesan instan, child grooming semakin mudah dilakukan tanpa batas ruang dan waktu.
Tahapan dalam Child Grooming
Pelaku child grooming umumnya menjalankan pola yang relatif serupa, antara lain:
1. Mencari Target
Anak-anak yang kurang perhatian, mengalami masalah keluarga, atau aktif di media sosial sering menjadi sasaran empuk.
2. Membangun Kepercayaan
Pelaku bersikap ramah, perhatian, penuh empati, dan sering memposisikan diri sebagai “teman”, “kakak”, atau figur yang memahami anak.
3. Memberi Hadiah atau Perhatian Khusus
Bentuknya bisa berupa pujian berlebihan, hadiah virtual, uang, atau fasilitas tertentu untuk menciptakan ketergantungan emosional.
4. Isolasi dari Lingkungan Terdekat
Anak perlahan dijauhkan dari orang tua dan teman, dengan membangun narasi bahwa hanya pelaku yang benar-benar peduli.
5. Normalisasi Perilaku Tidak Pantas
Percakapan mulai mengarah pada hal pribadi, sensitif, hingga seksual, yang perlahan dianggap “biasa” oleh anak.
6. Eksploitasi atau Ancaman
Pada tahap akhir, pelaku memanfaatkan ketergantungan dan rasa takut anak untuk melakukan eksploitasi, disertai ancaman atau pemerasan.
Dampak Child Grooming terhadap Anak
Dampak child grooming tidak hanya bersifat jangka pendek, tetapi juga dapat menghancurkan masa depan anak. Beberapa dampak serius yang sering terjadi meliputi:
• Trauma psikologis berkepanjangan
• Gangguan kepercayaan diri dan harga diri
• Depresi, kecemasan, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD)
• Kesulitan membangun relasi sosial yang sehat
• Prestasi akademik menurun
• Risiko menjadi korban berulang atau bahkan pelaku di masa depan
Ironisnya, banyak anak korban child grooming merasa bersalah, takut, dan malu, sehingga memilih diam dan tidak melaporkan kejadian yang dialaminya.
Child Grooming di Era Digital
Kemajuan teknologi telah mengubah wajah kejahatan terhadap anak. Media sosial, game online, dan platform digital menjadi ruang baru bagi pelaku untuk beroperasi secara anonim. Pelaku dapat dengan mudah menyamar, menggunakan identitas palsu, bahkan berpura-pura menjadi anak seusia korban.
Kondisi ini menuntut orang tua dan masyarakat untuk memiliki literasi digital yang memadai. Pengawasan tidak lagi cukup dilakukan secara fisik, tetapi juga secara digital dan emosional.
Peran Keluarga dalam Pencegahan
Keluarga, khususnya orang tua, memegang peran strategis dalam mencegah child grooming. Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan antara lain:
• Membangun komunikasi terbuka dan penuh kepercayaan dengan anak
• Mengajarkan batasan tubuh dan privasi sejak dini
• Mengedukasi anak tentang risiko interaksi di dunia digital
• Mengawasi penggunaan gawai dan media sosial secara bijak
• Menjadi tempat aman bagi anak untuk bercerita tanpa takut disalahkan
Anak yang merasa dicintai, didengar, dan dihargai cenderung lebih terlindungi dari manipulasi pihak luar.
Peran Masyarakat dan Lembaga
Pencegahan child grooming tidak dapat dibebankan hanya kepada keluarga. Diperlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk:
• Sekolah dan tenaga pendidik
• Organisasi kemasyarakatan dan keagamaan
• Pemerintah daerah dan aparat penegak hukum
• Lembaga perlindungan anak
Dalam konteks ini, TP PKK memiliki peran strategis sebagai penggerak edukasi keluarga, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak di tingkat akar rumput.
Child grooming adalah kejahatan serius yang merusak masa depan anak dan mengancam ketahanan keluarga serta bangsa. Kejahatan ini tidak selalu tampak, namun dampaknya sangat nyata dan menghancurkan. Oleh karena itu, pencegahan child grooming harus menjadi agenda bersama, melalui edukasi berkelanjutan, penguatan keluarga, literasi digital, serta keberanian untuk bersuara dan melapor.
Melindungi anak bukan hanya tanggung jawab orang tua, melainkan tanggung jawab moral dan sosial kita bersama. Anak yang terlindungi hari ini adalah jaminan Indonesia yang kuat dan beradab di masa depan.






