JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Kerawanan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang, masih tergolong tinggi dan menjadi tantangan serius yang membutuhkan kerja bersama lintas sektor.
Kompleksitas pola peredaran yang kini memanfaatkan media sosial serta menyasar generasi muda menuntut langkah kolaboratif yang lebih kuat, terstruktur, dan berkelanjutan.
Atas dasar tersebut, Kepala BNNP Jawa Tengah melakukan audiensi dan silaturahmi dengan Wali Kota Semarang, di Kantor Walikota Semarang, belum lama ini.
Kegiatan yang dilakukan tersebut, sebagai langkah awal memperkuat sinergi antara BNNP Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang.
Dalam keterangan tertulisnya, Kepala BNNP Jateng Toton Rasyid menyampaikan, bahwa audiensi ini merupakan bentuk perkenalan sebagai pejabat baru di Jawa Tengah.
“Selain itu, juga sekaligus pemaparan kondisi faktual penyalahgunaan narkoba di Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang yang masuk dalam wilayah rawan dan menjadi zonasi penanganan BNNP Provinsi,” ujarnya.
Lanjutnya, bahwa audiensi tersebut, juga menjadi bagian dari kerjasama, bahwa tercata Kota Semarang memiliki daya ungkap narkoba yang tinggi, sehingga membutuhkan sinergi lintas sektoral.
“Saat ini dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah, baru terdapat 9 BNN kabupaten/kota, sehingga peran BNNP masih sangat dominan, termasuk di Kota Semarang,” tandasnya.
Dijelaskan, bahwa pola peredaran narkoba saat ini semakin kompleks, terutama melalui media sosial, di mana mayoritas pembeli berasal dari kalangan anak muda.
“Jalur peredaran narkotika, khususnya sabu, banyak masuk dari Kalimantan dan Malaysia, dengan Pelabuhan Tanjung Mas Semarang kerap menjadi lokasi transit sebelum diedarkan ke wilayah lain di Pulau Jawa,” jelasnya.
Toton Rasyid juga menyampaikan harapan adanya dukungan Pemerintah Kota Semarang terkait perpanjangan izin operasional klinik rehabilitasi BNN, serta penguatan sinergi lintas sektor.
Ia menegaskan bahwa meskipun dirinya berasal dari latar belakang jaksa, substansi tugas penegakan hukum dan pencegahan narkoba tetap menjadi prioritas utama.
“Mayoritas penghuni rumah tahanan di Indonesia adalah kasus narkoba. Karena itu, pencegahan jauh lebih penting. Kami berharap kolaborasi ini dapat menjaga generasi muda Kota Semarang agar terhindar dari narkoba,” tutupnya.
Pada giat audeinsi tersebut, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti,menyatakan kesiapan Pemerintah Kota Semarang untuk memperkuat kerja sama dengan BNNP Jawa Tengah.
“Kami menyambut baik kehadiran Kepala BNNP Jawa Tengah dan mengapresiasi kerja sama yang selama ini telah terjalin. Kasus narkoba di Kota Semarang menunjukkan tren peningkatan sehingga dibutuhkan upaya khusus dan kolaborasi lintas perangkat daerah,” ungkap Wali Kota.
Ditegaskan, bahwa Pemkot Semarang siap melibatkan Dinas Pendidikan, Kesbangpol, Dishub, Satpol PP, serta perangkat daerah lainnya dalam upaya pencegahan melalui sosialisasi bahaya narkoba, khususnya di tingkat SMP dengan pendekatan yang relevan bagi generasi muda.
“Pencegahan harus dimulai sejak dini, seiring dengan penanaman nilai-nilai Pancasila. Ketahanan anak dan ketahanan negara sama-sama penting. ASN juga harus menjadi agen pencegahan di lingkungan tempat tinggal dan sosialnya masing-masing,” pungkasnya.
Audiensi ini diharapkan menjadi langkah awal yang konkret dalam memperkuat sinergi antara BNNP Jawa Tengah dan Pemerintah Kota Semarang dalam menghadapi tantangan penyalahgunaan dan peredaran narkoba yang semakin dinamis. (ucl/rit)






