29 C
Semarang
Jumat, 13 Februari 2026

Dugderan dan Gebyuran Bustaman, jadi Identitas Kultur Budaya Kota Semarang

JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Sambut bulan suci Ramadan, dua agenda utama dari pemkot Semarang bakal digelar, yakni Tradisi Dugderan dan Ritual Gebyuran Bustaman yang akan dilaksanakan pada 16 Februari 2026.

Tradisi Dugderan tersebut bakal dirangkai dengan pawai budaya yang melintasi kawasan Balai Kota Semarang hingga Masjid Agung Semarang.

Kadisbudpar Kota Semarang, Indyasari menerangkan, Pawai Dugderan akan diisi dengan berbagai unsur seni dan budaya.

“Dalam kirab tersebut, akan mempersembahkan pertunjukan barongsai Tay Kak Sie, seni tari, flashmob, defile pawai Dugderan, serta kehadiran pasukan bregada sebagai salah satu warisan budaya khas Semarang, dan akan dilanjutkan dengan tradisi Andum Ganjel Rel, yaitu pembagian roti ganjel rel kepada masyarakat di kawasan Aloon-Aloon Semarang,” terangnya, di sela tinjauan di Lokasi Dugderan Kawasan Pasar Johar Semarang, Jumat (13/2/2026).

Baca juga:  Menjaga Tradisi Menolak Bala, Desa Penggung Gelar Merti Dusun Wayang Kulit "Sri Mulih"

Tradisi Dugderan merupakan warisan budaya yang telah berkembang sejak tahun 1881 dan menjadi simbol kebersamaan masyarakat Kota Semarang dalam menyambut Ramadan.

“Setibanya di kawasan Masjid Agung Semarang, rangkaian kegiatan Dugderan akan dilanjutkan dengan prosesi tradisional, meliputi pembacaan Suhuf Halaqah serta pemukulan bedug sebagai penanda resmi datangnya bulan suci Ramadan,” imbuh Indryasari.

Selain itu, pada 15 Februari 2026, juga akan digelar Ritual Perang Air Gebyuran Bustaman yang menjadi tradisi sakral budaya dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

“Tradisi Gebyuran Bustaman di Kampung Bustaman ini, dikenal sebagai ritual perang air yang sarat makna, melambangkan pembersihan diri sebelum memasuki bulan puasa, sekaligus menjadi identitas budaya masyarakat Bustaman yang telah diwariskan secara turun-temurun,” ujar Kadisbudpar.

Baca juga:  Cegah Penyebaran COVID-19, Semua Objek Wisata di Kudus Diimbau Tutup Sementara

Dijelaskan, Gebyuran Bustaman berakar sejak tahun 1742 dan dipelopori oleh Kiai Bustam, tokoh yang menjadi cikal bakal berkembangnya kampung Bustaman.

“Tradisi ini sempat terhenti, sebelum kembali dihidupkan pada tahun 2012 melalui inisiatif dan semangat pelestarian masyarakat setempat. Sejak saat itu, Gebyuran Bustaman rutin digelar sebagai bagian dari tradisi menyambut Ramadan di Kota Semarang,” tandanya.

Selain ritual budaya, Gebyuran Bustaman juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat, yang diisi dengan pertunjukan seni lokal serta makan bersama sebagai penutup acara.

“Melalui penyelenggaraan Dugderan 2026 dan Gebyuran Bustaman tersebut, menjadi penegasankomitmen Pemkot Semarang dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya, sekaligus memperkuat nilai kebersamaan, toleransi, dan identitas kota dalam menyambut bulan suci Ramadan,” pungkas Indryasari. (ucl/rit)



TERKINI

Rekomendasi

...