25 C
Semarang
Kamis, 19 Februari 2026

Kraca Bobosan, Sajian Turun-Temurun yang Dirindukan Perantau

JATENGPOS.CO.ID, PURWOKERTO – Bulan Ramadan selalu identik dengan kuliner khas yang dirindukan masyarakat. Di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, kraca atau keong sawah menjadi salah satu sajian legendaris yang selalu diburu saat sore menjelang berbuka.

Setiap Ramadan, kawasan Jalan Bobosan berubah menjadi sentra dadakan penjualan kraca. Beberapa penjual berjejer menawarkan keong sawah rebus berkuah rempah dengan aroma gurih pedas yang menggoda.
Salah satu yang setia berjualan adalah Ibu Siti (67). Dalam sehari, ia mampu memasak hingga 10 kilogram kraca untuk memenuhi tingginya permintaan pembeli.

Kraca dimasak dengan bumbu rempah seperti bawang merah, bawang putih, ketumbar, lengkuas, daun salam, dan cabai. Proses perebusan dilakukan cukup lama agar bumbu meresap hingga ke daging dan menghasilkan rasa gurih pedas yang khas.

Tekstur dagingnya kenyal namun lembut saat digigit. Cara menikmatinya pun unik, yakni dengan menyedot daging keong dari cangkangnya menggunakan tusuk gigi kecil.

Ibu Siti menjual kraca seharga Rp10.000 per bungkus lengkap dengan kuah melimpah. Saat Ramadan, dagangannya sering habis lebih cepat karena banyak diburu sebagai lauk maupun camilan berbuka.

Baca juga:  Restoran Pringsewu Jawab Kebutuhan Makan Praktis Pekerja Industrial

“Sehari bisa sampai 10 kilo, kadang masih kurang kalau lagi ramai. Banyak juga yang pesan buat dikirim ke Jakarta dan Semarang,” ujarnya.

Sebagian besar kraca diperoleh dari persawahan di wilayah Purwokerto. Namun saat stok terbatas, ia menerima kiriman dari luar daerah agar pasokan tetap terjaga.

Tak sedikit pembeli yang sengaja membeli untuk dikirim ke Jakarta dan Semarang. Mereka merupakan warga asal Purwokerto yang merantau dan rindu kampung halaman.

Salah seorang pembeli, Toro (61), warga Purwokerto, mengaku hampir setiap Ramadan selalu datang membeli kraca. Baginya, kraca bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari kenangan masa kecil.

“Kalau belum makan kraca saat puasa rasanya ada yang kurang. Dari kecil sampai sekarang tradisi ini tidak pernah hilang,” katanya.

Ia mengaku, sensasi menyedot kraca hangat menjelang magrib selalu mengingatkannya pada suasana berbuka bersama keluarga. Aroma rempah yang kuat disebutnya mampu membangkitkan kenangan lama.

Baca juga:  Bantu Penderita Covid-19, Warga Girikulon Magelang Dirikan Dapur Umum

“Dulu orang tua selalu beli kraca untuk lauk tambahan. Sekarang saya yang beli, rasanya bukan cuma enak tapi juga bikin ingat rumah,” ujarnya.

Toro juga rutin membeli kraca untuk dikirimkan kepada anaknya yang merantau di Jakarta. Menurutnya, kraca menjadi pengobat rindu bagi keluarga yang jauh dari Purwokerto.

“Anak saya selalu titip kalau Ramadan. Katanya di Jakarta tidak ada yang rasanya sama seperti di sini,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Yuni (40), warga Pabuaran. Sejak kecil, ia mengaku tidak pernah absen membeli kraca setiap bulan puasa.

“Setiap Ramadan pasti cari kraca di Bobosan. Aromanya saja sudah bikin ingat masa kecil,” tuturnya.

Secara gizi, keong sawah mengandung protein hewani, zat besi, dan kalsium yang cukup tinggi. Kandungan tersebut bermanfaat membantu menjaga stamina, kesehatan tulang, serta membantu mencegah anemia setelah seharian berpuasa.

Bagi warga Purwokerto, kraca bukan sekadar sajian berbuka. Kuliner khas ini telah menjadi tradisi turun-temurun yang selalu dirindukan setiap Ramadan tiba.(aln)



TERKINI

Rekomendasi

...