JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Guna mewujudkan karya nyata, komunikatif serta berbalut keindahan yang bermakna untuk masyarakat, Samuel Wattimena anggota Komisi VII DPR RI, mendorong potensi para pelaku seni dan kebudayaan daerah.
Hal tersebut disampaikan Samuel dihadapan komunitas, dalam kegiatan sarasehan di Hills Joglo Villa Kabupaten Semarang, Sabtu (21/2).
Di hadapan para komunitas, pemuda, dan pelaku seni yang tergabung dalam Jejaring Kolektif Semarang Serasi, Samuel mengaku senang dapat bertemu langsung dengan berbagai komunitas lintas bidang.
“Seni seharusnya tidak berhenti pada ekspresi personal, melainkan mampu memberi makna dan menjadi makanan jiwa bagi masyarakat,” ujarnya.
Samuel menegaskan, Seni jangan hanya untuk kesenangan, seni harus memiliki makna.
“Jika seni sudah memiliki makna, maka masyarakat dapat memahami dan merasakan pesan yang ingin disampaikan,” tegasnya.
Dijelaskan, sebagai contoh bahwa mural-mural yang ada di Desa Lerep adalah karya yang perlu dilengkapi narasi singkat atau penjelasanagar pengunjung tidak hanya menikmati keindahannya.
“Jadi tidak sekedar gambar saja, tetapi juga harus ada pemahaman pesan yang dikandungnya. Terkait hal tersebut, pemanfaatan teknologi seperti kode QR juga bisa digunakan, untuk memberikan informasi kontekstual mengenai karya tersebut,” jelasnya.
Samuel juga memberikan masukan, bahwa pelaku seni tidak terjebak pada ego berekspresi dalam karya yang dibuatnya.
“Saat ini, bukanlah waktunya menonjolkan ego, tetapi bagaimana ekspresi itu bisa dipahami dan menjadi kekayaan bersama bagi masyarakat yang melihat dan merasakannya,” tandasnya.
Dia kembali menegaskan, di tengah situasi bangsa yang penuh tantangan, seni dan kebudayaan dapat menjadi penyeimbang sosial.
Di tempat yang sama, Ketua Komite Ekonomi Kreatif Kabupaten Semarang, Dimas Herdy Utomo, menyambut positif pertemuan serta forum dialog tersebut.
“Kehadiran Pak Samuel menjadi jembatan bagi kami untuk mengelaborasi kebutuhan komunitas. Banyak gagasan luar biasa yang perlu dipromosikan dan dipasarkan agar berdampak lebih luas,” katanya.
Menurutnya, komite tidak memposisikan diri sebagai pihak yang menyelesaikan seluruh persoalan, melainkan sebagai pendamping yang mengurai masalah bersama.
“Forum ini, kami harapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat jejaring kolektif sekaligus membangun kolaborasi yang lebih solid antara komunitas, pemerintah, dan para pemangku kebijakan dalam mendorong kemajuan ekonomi kreatif daerah,” pungkasnya. (ucl/rit)






