Oleh: Mercy Bientri Yunindanova, S.P., M.Si., Ph.D. (Dosen Fakultas Pertanian UNS Surakarta)
DI tengah gempuran kecerdasan buatan (AI), budaya scroll tanpa henti, dan literasi baca yang semakin menurun, ruang kelas perguruan tinggi di Indonesia sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Informasi tersedia melimpah, jawaban hadir dalam hitungan detik, ringkasan jurnal dapat dihasilkan tanpa benar-benar dibaca. Namun di balik kemudahan itu, ada paradoks besar: akses meningkat, tetapi kedalaman berpikir menurun. Mahasiswa semakin cepat mendapatkan jawaban, tetapi semakin jarang memproses pertanyaan. Di sinilah kreativitas dosen menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pelengkap. Jika dosen tidak berubah, maka ruang kelas akan tertinggal oleh zamannya sendiri.
Budaya scroll membentuk pola pikir instan. Konten dikonsumsi dalam potongan pendek, visual cepat, dan sensasi yang terus berganti. Otak dibiasakan untuk berpindah sebelum merenung. Ketika pola ini terbawa ke ruang kelas, daya tahan membaca menurun drastis. Mahasiswa cenderung mencari ringkasan, bukan telaah; ingin hasil akhir, bukan proses; menuntut jawaban, bukan eksplorasi. Mereka terbiasa mengonsumsi, bukan mengonstruksi. Akibatnya, kemampuan analitis melemah, argumentasi dangkal, dan kepekaan intelektual perlahan tumpul.
Masalah lain yang semakin terasa adalah rendahnya budaya menulis. Menulis seharusnya menjadi latihan berpikir paling konkret karena ketika seseorang menulis, ia dipaksa menyusun gagasan secara runtut dan bertanggung jawab. Namun banyak mahasiswa melihat menulis sebagai beban administratif, bukan proses intelektual. Tugas diselesaikan sekadarnya, sering kali dengan pola tempel-pindah, bahkan bergantung penuh pada AI tanpa proses revisi kritis. Tanpa budaya menulis yang kuat, kemampuan berpikir sistematis akan terus melemah. Jika dosen tidak kreatif membangun tradisi akademik ini, maka ruang kelas akan kehilangan ruh intelektualnya.
Ironisnya, di tengah minimnya budaya baca dan tulis, budaya konfirmasi juga rendah. Mahasiswa sering tidak membaca instruksi dengan cermat, tetapi juga tidak melakukan klarifikasi ketika ada hal yang belum dipahami. Akibatnya, kesalahan teknis berulang terjadi, bukan karena informasi tidak tersedia, tetapi karena tidak dibaca secara teliti dan tidak dikonfirmasi dengan tepat. Ini memperlihatkan bahwa persoalannya bukan hanya rendahnya literasi membaca dan menulis, tetapi juga lemahnya kebiasaan memastikan pemahaman sebelum bertindak. Padahal perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang pembentukan kemandirian berpikir sekaligus ketelitian akademik.
Secara normatif mahasiswa memang harus dimandirikan. Namun realitasnya, ketika diberi kebebasan, sebagian justru kehilangan arah. Kebebasan tanpa kompas internal menghasilkan kebingungan. Tanpa latihan berpikir kritis dan reflektif, mereka mudah terdistraksi, mudah ikut arus, dan terlibat dalam aktivitas yang bukan prioritas utama. Banyak yang merasa sangat sibuk, rapat organisasi, kegiatan luar kampus, aktivitas media sosial, namun abai pada core utama sebagai mahasiswa: belajar, membaca, menulis, dan mengembangkan kompetensi akademik. Kesibukan sering menjadi ilusi produktivitas.
Dampaknya tidak hanya akademik. Skill praktis melemah karena kurang latihan mendalam. Kepekaan terhadap lingkungan sosial dan budaya juga menurun karena interaksi lebih banyak terjadi di ruang digital. Mahasiswa mungkin aktif berkomentar di media sosial, tetapi kurang memahami persoalan riil masyarakat di sekitar mereka. Budaya mengenal masyarakat, membaca konteks lokal, dan memahami dinamika sosial semakin menipis. Pendidikan tinggi berisiko menjadi ruang teori tanpa empati.
Di sinilah dosen dituntut untuk peka. Peka membaca perubahan perilaku mahasiswa. Peka terhadap tantangan zaman. Peka terhadap teknologi yang berkembang begitu cepat. Kreativitas dosen tidak lagi sebatas variasi metode mengajar, tetapi kemampuan mendesain pengalaman belajar yang relevan dan menantang. Tugas tidak cukup berupa rangkuman yang mudah dihasilkan AI, tetapi analisis kritis berbasis konteks nyata. Pembelajaran perlu menghubungkan mahasiswa dengan realitas: studi kasus lokal, observasi lapangan, diskusi isu aktual, atau proyek kolaboratif dengan masyarakat.
Budaya menulis dapat dibangun melalui latihan singkat namun konsisten: jurnal refleksi mingguan, esai kritis satu halaman, atau tanggapan argumentatif terhadap artikel ilmiah. Umpan balik yang mendalam menjadi kunci. Di sisi lain, kebiasaan membaca instruksi dengan teliti dan melakukan konfirmasi yang tepat juga perlu dilatih agar mahasiswa terbiasa memastikan pemahaman sebelum mengambil langkah.
AI pun tidak perlu dimusuhi. Dosen yang update justru memanfaatkannya sebagai alat literasi. Mahasiswa dapat diminta membandingkan hasil AI dengan referensi ilmiah, mengkritisi kekurangannya, dan memperbaikinya dengan perspektif sendiri. AI menjadi objek analisis, bukan pengganti berpikir. Dengan pendekatan ini, dosen menunjukkan bahwa ia tidak tertinggal oleh teknologi, tetapi mampu mengendalikannya untuk tujuan pendidikan.
Pada akhirnya, dosen di era AI tidak boleh statis. Ia harus terus belajar, memperbarui metode, dan menjaga sensitivitas terhadap perubahan generasi. Kreatif agar pembelajaran hidup. Peka agar pendidikan tetap relevan. Update agar tidak tertinggal. Karena jika dosen berhenti bertumbuh, mahasiswa pun akan kehilangan arah. Pendidikan tinggi harus tetap menjadi ruang pembentukan manusia yang tajam berpikir, mandiri mengambil keputusan, dan peka terhadap realitas social, bukan sekadar ruang mengejar nilai di tengah distraksi digital. (*/muz)







