JATENGPOS.CO.ID, KUDUS – Pemandangan tidak lazim kini tersaji di sejumlah lintasan produksi rokok di Kabupaten Kudus. Jika selama puluhan tahun industri ini identik dengan jemari lentik buruh perempuan, kini ratusan pekerja laki-laki mulai tampak sigap mengisi posisi-posisi krusial di PT Djarum.
Di Brak Djarum Tanjungkarang 2, Kecamatan Jati, deretan pria duduk rapi menghadapi alat potong. Dengan gerakan cepat dan presisi, mereka memotong selongsong kertas grenjeng agar pas membungkus setiap batang kretek.
Fenomena ini merupakan dampak dari tren kemasan eksklusif yang kini tengah digandrungi pasar, di mana setiap batang rokok membutuhkan penanganan ekstra agar tampil premium.
Manajer Produksi PT Djarum, Chanif, mengungkapkan bahwa pergeseran ini bukan tanpa alasan. Sulitnya mencari tenaga kerja perempuan di sektor produksi dalam setahun terakhir memaksa perusahaan melakukan terobosan rekrutmen.
“Untuk pekerja laki-laki ini sudah sekitar satu tahun kita rekrut sebagai tenaga borong. Alasannya, di Kudus saat ini mencari tenaga kerja laki-laki justru lebih mudah dibanding perempuan,” ujar Chanif saat ditemui di Brak Tanjungkarang, belum lama ini.
Hingga saat ini, PT Djarum telah menyerap lebih dari 500 pekerja laki-laki untuk sistem borongan. Angka ini diprediksi akan terus bertambah mengikuti fluktuasi kebutuhan produksi. Tidak hanya di Kudus, ekspansi tenaga kerja pria ini juga sudah merambah ke wilayah lain, seperti Solo Raya yang telah mempekerjakan lebih dari 100 orang.
Para pekerja pria ini tidak hanya berkutat di bagian pengemasan (tangkis), namun mulai merambah ke bagian giling hingga linting. Meski jumlahnya terus meningkat, Chanif menegaskan bahwa secara keseluruhan, buruh perempuan masih mendominasi mayoritas aktivitas produksi.
“Pemanfaatan tenaga pria ini masih tahap evaluasi, namun sementara hasilnya cukup baik. Jika permintaan pasar meningkat, tidak menutup kemungkinan jumlahnya akan ditambah,” imbuhnya.
Kehadiran pria di lini produksi rokok ini menjadi angin segar bagi profil ketenagakerjaan di Kota Kretek. Pasalnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Kabupaten Kudus secara historis didominasi oleh kaum laki-laki.
Pada tahun 2025, angka pengangguran di Kudus tercatat mencapai 17.170 jiwa, naik tipis dari tahun sebelumnya yang berada di angka 16.510 jiwa. Langkah PT Djarum membuka pintu bagi pekerja laki-laki diharapkan menjadi solusi nyata untuk menekan angka pengangguran tersebut dan mengubah stigma lama di industri hasil tembakau. (han/rit)














