29 C
Semarang
Minggu, 29 Maret 2026

Fiskal Jateng Awal 2026 Tetap Kuat, Belanja Negara Dongkrak Ekonomi




JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Kinerja fiskal Jawa Tengah pada awal 2026 tetap terjaga dan mampu menopang pertumbuhan ekonomi daerah. Peran APBN terlihat signifikan sebagai penggerak utama aktivitas ekonomi sekaligus menjaga stabilitas di tengah dinamika global.

Kepala Perwakilan Kemenkeu Jawa Tengah, Arief Yanuar menyebut, perekonomian Jateng masih berada di jalur ekspansi. Pertumbuhan ekonomi triwulan IV 2025 tercatat 5,84 persen (yoy), melampaui capaian nasional dan menunjukkan daya tahan ekonomi daerah.

“Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tetap solid dan ditopang oleh kinerja ekspor serta sektor jasa keuangan dan asuransi yang tumbuh tinggi,” ujarnya.

Menurutnya, optimisme masyarakat juga masih terjaga meski sedikit melandai. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Februari 2026 yang berada di level 126,4 atau masih dalam zona optimistis.


Di sisi lain, inflasi masih terkendali pada level 4,43 persen (yoy) dengan inflasi bulanan 0,76 persen. Komoditas seperti emas perhiasan, daging ayam ras, dan cabai rawit menjadi penyumbang utama, terutama dipicu momentum Ramadan.

Baca juga:  Momentum Hari Lahir Pancasila, PLN dan POLDA Jateng-DIY Perkuat Sinergi Pengamanan Infrastruktur Listrik Nasional

Arief menambahkan, indikator kesejahteraan juga menunjukkan perbaikan. Nilai Tukar Petani (NTP) naik menjadi 116,18 dan Nilai Tukar Nelayan (NTN) menjadi 103,45, yang mencerminkan peningkatan daya beli sektor primer.

“Perbaikan juga terlihat dari turunnya pengangguran menjadi 4,32 persen, kemiskinan 9,39 persen, serta gini ratio membaik ke 0,350,” jelasnya.

Dari sisi fiskal, pendapatan negara di Jawa Tengah hingga Februari 2026 mencapai Rp19,43 triliun atau 14,83 persen dari target. Sementara belanja negara terealisasi Rp17,13 triliun atau 17,95 persen pagu, sehingga APBN mencatat surplus Rp2,30 triliun.

Ia menegaskan, belanja negara tetap menjadi motor penggerak ekonomi. Sinergi pemerintah pusat dan daerah dinilai mampu menjaga ritme aktivitas ekonomi di awal tahun.

“Belanja negara terus memberikan stimulus bagi perekonomian dan menjaga daya tahan terhadap tekanan global,” ungkapnya.

Sementara itu, kinerja APBD di 36 kabupaten/kota juga menunjukkan kondisi sehat. Hingga akhir Februari 2026, pendapatan daerah mencapai Rp17,24 triliun dan belanja Rp6,81 triliun, dengan surplus Rp10,44 triliun.

Baca juga:  2.073 Pegawai KAI Daop 4 Semarang Vaksin Dosis Ketiga

Arief menyebut, ruang fiskal yang besar ini dapat dimanfaatkan untuk percepatan belanja daerah. Hal itu penting guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi ke depan.

Menjelang Idulfitri, pemerintah juga telah menyalurkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi ASN. Di Jateng, THR ASN pusat mencapai Rp987,66 miliar untuk 158.596 penerima, sedangkan ASN daerah Rp2 triliun untuk 423.080 penerima.

“Penyaluran THR diharapkan mendorong konsumsi masyarakat dan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah,” katanya.

Selain itu, pembiayaan UMKM juga terus didorong melalui penyaluran KUR sebesar Rp8,41 triliun kepada 155.808 debitur. Sementara pembiayaan UMi mencapai Rp256,65 miliar untuk 47.012 debitur.

Arief menegaskan, dukungan pembiayaan tersebut penting untuk menjaga keberlangsungan usaha kecil. Langkah ini sekaligus memperkuat struktur ekonomi kerakyatan di Jawa Tengah.

“Dengan kondisi fiskal yang solid dan indikator ekonomi yang stabil, kami optimistis pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah dapat terus terjaga sepanjang 2026,” tandasnya.(aln)




TERKINI




Rekomendasi

...