28 C
Semarang
Jumat, 27 Maret 2026

Geliat Ekonomi Jateng, Omzet Pedagang dan Kunjungan Wisata Melonjak




JATENGPOS. CO. ID, SALATIGA – Arus mudik dan balik Lebaran 2026 tak sekadar menghadirkan cerita rindu di kampung halaman. Tetapi juga membangkitkan geliat ekonomi masyarakat dan UMKM.

Di sepanjang jalur strategis Jawa Tengah misalnya, usaha kuliner ikut terkerek. Dari warung makan sederhana hingga destinasi wisata unggulan, semuanya ikut “kecipratan berkah” jutaan pemudik.

Sapta Aprilia (40), pengelola RM Ayam Goreng Bu Toha cabang Tuntang, mengaku, momentum Lebaran tahun ini menjadi gambaran nyata bagaimana perputaran uang meningkat drastis.

Berlokasi di jalur strategis Exit Tol Salatiga (Jalan Tingkir Raya), rumah makannya nyaris tak pernah sepi sejak arus balik dimulai.


“Peningkatannya bisa dibilang drastis, ada kalau 100 persen. Kalau hari biasa omzet di angka Rp 2 juta sampai Rp3 juta, libur Lebaran ini bisa tembus Rp5 juta lebih per hari,” ungkap Sapta saat ditemui, Kamis, 26 Maret 2026.

Deretan kendaraan berpelat nomor luar daerah yang memenuhi area parkir menjadi penanda kuat tingginya mobilitas pemudik.

Dengan menu sederhana seperti ayam goreng, bebek, hingga tahu tempe, tempat makan ini tetap menjadi pilihan favorit.

Untuk menjaga kualitas layanan di tengah lonjakan pengunjung, Sapta bahkan harus menambah tenaga kerja harian.

Baca juga:  Dipimpin Mbak Ita, Laju Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang Melaju Pesat

“Tambah dua pegawai harian, yang tetap ada tiga,” ujarnya.

Fenomena serupa juga dirasakan Harnanto, pedagang mie ayam dan bakso di Jalan Raya Semarang–Solo KM 30, tepatnya di Tuntang, Kabupaten Semarang.

Sejak H+1 Lebaran, intensitas pembeli meningkat tajam hingga membuatnya kewalahan melayani pesanan.

“Hari biasa habis 5 sampai 7 kilogram mie, musim Lebaran bisa sampai 25 kilogram,” katanya.

​”Kalau bakso saya tidak hitung detail karena stoknya banyak, habis ambil lagi, habis ambil lagi,” imbuhnya.

Sementara itu, sektor kafe dan restoran menunjukkan pola yang sedikit berbeda. Aziz, Manager Reinz Cafe dan Resto di Demak, menyebut lonjakan pengunjung lebih banyak didorong oleh reservasi kelompok.

“Kalau kami sistemnya sudah reservasi dari jauh hari untuk acara halalbihalal atau reuni keluarga. Alhamdulillah, jadwal kami penuh sampai minggu depan,” ujarnya.

Meski demikian, ia mencatat kunjungan spontan (walk-in) justru cenderung menurun, diduga dipengaruhi faktor cuaca yang tidak menentu.

“Pengunjung reguler cenderung landai, mungkin karena siang panas, malam hujan,” imbuhnya.

Tak hanya sektor kuliner, geliat ekonomi juga tampak di sektor pariwisata. Selama libur panjang Lebaran 2026, sejumlah objek wisata di Jawa Tengah dipadati pengunjung.

Baca juga:  Stasiun Tawang Semarang Kembali Dilanda Banjir

Dinas Kebudayaan, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif (Disbudparekraf) Provinsi Jawa Tengah mencatat, kunjungan wisatawan mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya.

Kepala Disbudparekraf Jateng, Hanung Triyono, menyebutkan total kunjungan wisatawan pada periode H-7 (13 Maret 2026) hingga H+4 Lebaran (25 Maret 2026) mencapai 687.470 kunjungan.

“Angka tersebut naik 5,25 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebanyak 653.178 kunjungan,” kata Hanung.

Ia menambahkan, peningkatan ini terlihat dari sejumlah destinasi unggulan yang menjadi titik pantauan, di antaranya Candi Borobudur, Owabong, Baturraden, Guci, Pantai Menganti, Kota Lama Semarang, Masjid Agung Demak, Makam Sunan Kalijaga, serta Candi Prambanan.

Kondisi di lapangan ini sejalan dengan ambisi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi dan Wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), jauh-jauh hari telah menekankan pentingnya menangkap peluang dari pergerakan jutaan manusia selama arus mudik dan balik.

“Jawa Tengah itu sentralnya Jawa. Kami siapkan infrastruktur hingga UMKM di tempat strategis agar kebutuhan dasar pemudik terlayani. Silakan belanjakan uang saku di Jawa Tengah,” jelasnya.(rit)




TERKINI




Rekomendasi

...