30 C
Semarang
Sabtu, 28 Maret 2026

Beno Siang Pamungkas : Karya Sastra Puisi Tak Lekang di Era Digital




JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Bergunalah bagi sesama, jika tidak bisa setidaknya jangan membuat orang lain merugi, itulah pedoman Beno Siang Pamungkas seorang Penyair dan juga wartawan senior dalam menjalankan kehidupanya.

Malang melintang menjalankan profesinya sebagai seorang pewarta (media TV), Beno sapaan laki-laki bijak ini, juga menekuni talenta yang dipunyainya sebagai seorang penyair handal.

Tak banyak yang mengetahui, bahwa perjalanan sebagai penyair dalam karya sastra ( puisi ), di mulai Beno sejak muda yang mengawali kariernya sebagai seniman kali pertama bersama Teater Potrec di Cepu sejak duduk di bangku SMA.

“Dari interaksi mementaskan musikalisasi puisi dan pentas teater, akhirnya saya mengenal nama-nama dramawan yang juga sastrawan, seperti WS Rendra, Putu Wijaya, Arifin C. Noer dan lain-lain,” Kata Beno kepada JATENG POS, belum lama ini.


Tidak berhenti disitu saja, Beno saat kuliah di IKIP Semarang (Unnes) pada tahun 1986 juga membentuk Teater Embrio di kampus (Jurusan Pendidikan Biologi di IKIP Semarang).

“Seiring waktu berjalan, saya semakin menemukan jatidiri dalam dunia karya sastra (puisi) yang terus berkembang dengan sendirinya,” tandas, penggemar Wiji Tukul ini.

Baca juga:  " LGG Semarang " Kembangkan Karya Film Pendek Dagelan Khas Semarangan

Alhasil, ia pun sempat menjadi ketua teater SS dalam lingkungan kampus tersebut. Dari teater melangkah ke dunia sastra di Semarang dengan berinteraksi dengan sejumlah nama yang menjadi gurunya.

“Seperti Timur Suprabana dan Eko Tunas yang menjadi penujuk arah pergaulan saya yang terus berkembang dengan sastrawan di kota lain dan terus berlanjut hingga sekarang,” kata pehobi masak dan berkebun ini.

Meskipun sempat menulis beberapa cerpen, esai sastra, dan naskah teater. Beno, merasa lebih bisa mengembangkan bakat dalam dunia puisi.

“Setidaknya sejak 1993 saya telah mempunyai tiga buku tunggal yaitu Sajak Sampah Gerinda Baja (1993), Ensiklopedi Kesedihan (2008), dan Panen (2023),” paparnya.

Selain itu juga ada karya kumpulan puisi Duo bersama Timur Suprabana (Gobang Semarang dan Menyelam Dalam), serta puluhan kumpulan puisi bersama para penyair lain.

Terkait pandangan dalam perkembangan karya sastra dimassa digital saat ini, Beno mengungkapkan, bahwa era digital saat ini, sebagai sebuah keniscayaan yang harus diterima dengan lapang dada.

“Era digital dan medsos membuat siapa pun saat ini bisa memperkenalkan karyanya ke seluruh dunia tanpa batas. Di era awal kepenyairan saja (80, 90 dan 2000 awal) orang masih menganggap koran, majalah, dan buku sebagai tolok ukur seseorang disebut sastrawan,” terangnya.

Baca juga:  Ganjar Kagumi Spirit Kebudayaan Seniman Film Slamet Raharjo

Beno juga menegaskan, bahwa ketermuatan karya di media arus utama menjadi barometer seseorang bisa disebut penyair, cerpenis, atau novelis.

“Di satu sisi ini ada sisi baiknya karena ada peran kurator/redaktur yang menyeleksi sebuah karya layak diterbitkan atau tidak. Di sisi lain ini dinilai kurang demokratis dan harus diakui di era itu unsur koncoisme dan subyektivitas masih dominan,” imbuhnya.

Beno Siang Pamungkas sebagai sosok multitalenta asli Bojonegoro Jawa Tengah ini, berharap di era sekarang siapa pun bisa memposting karyanya dan semua tergantung khalayak, apakah akan menerima atau mengabaikan karya tersebut.

“Saya memprediksi masa transisi ini setidaknya akan berlangsung beberapa tahun lagi atau setidaknya satu dekade lagi. Ia tetap akan menyaring siapa yang karyanya layak dibaca atau cuma sampah belaka,” pungkasnya. (ucl/rit)




TERKINI




Rekomendasi

...