JATENGPOS.CO.ID, KARANGANYAR – Tim SAR Gabungan berhasil mengevakuasi seorang pendaki remaja yang mengalami cedera kaki saat melakukan pendakian di Gunung Lawu via jalur Candi Cetho, Jumat (27/3). Korban yang sempat terjebak cuaca buruk di ketinggian tersebut tiba di basecamp dalam kondisi selamat pada pukul 14.00 WIB.
Identitas korban diketahui bernama Arvan Muhamad Choirul (16), warga Desa Mrahu, Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan. Arvan mendaki bersama rombongan yang berjumlah enam orang sejak Rabu (25/3).
Petaka terjadi saat perjalanan turun pada Kamis sore sekitar pukul 16.00 WIB. Arvan terpeleset hingga mengalami cedera kaki terkilir di sekitar Pos 4. Kondisi medan yang licin dan cuaca yang tidak bersahabat membuat rombongan tertahan.
Koordinator Ops SAR dari Kantor Pencarian dan Pertolongan Surakarta, Tri Puji S., menjelaskan bahwa laporan darurat diterima pihak basecamp pada Kamis malam pukul 21.30 WIB. Namun, evakuasi tidak bisa langsung dilakukan secara maksimal karena faktor alam.
“Saat laporan diterima, kondisi cuaca di atas sedang hujan lebat. Korban beserta rombongan akhirnya memutuskan untuk berkemah (camp) sementara di Pos 4 sembari menunggu bantuan,” ujar Tri Puji dalam rilis resminya, Jumat (27/3).
Operasi evakuasi baru dimulai pada Jumat pagi pukul 06.30 WIB. Tim SAR Gabungan menerjunkan total 3 SRU (Search and Rescue Unit) yang bergerak naik melalui jalur Candi Cetho. Setelah menempuh medan yang cukup berat, tim medis lapangan memberikan penanganan awal di lokasi sebelum korban ditandu turun.
Setibanya di basecamp Candi Cetho pada siang hari, Arvan langsung mendapatkan perawatan medis lanjutan. Setelah dipastikan kondisinya stabil, remaja tersebut diserahkan kepada pihak keluarga yang telah menunggu di lokasi.
Operasi SAR secara resmi dinyatakan ditutup pada pukul 14.30 WIB. Seluruh unsur yang terlibat dikembalikan ke kesatuan masing-masing.
Pihak SAR kembali mengimbau para pendaki untuk selalu waspada terhadap perubahan cuaca ekstrem di Gunung Lawu. Memasuki musim penghujan, jalur pendakian menjadi lebih licin dan rawan terjadi kecelakaan fisik maupun hipotermia. (dea/rit)














