26.8 C
Semarang
Sabtu, 2 Mei 2026

Wayang Kedu Temanggungan Didorong Jadi Media Edukasi Ekologi, Moral, dan Keagamaan




JATENGPOS.CO.ID, TEMANGGUNG – Wayang Kedu Temanggungan dinilai tidak hanya penting sebagai warisan budaya lokal, tetapi juga memiliki kekuatan sebagai media pendidikan moral, ekologi, inklusivitas, dan nilai-nilai keagamaan. Gagasan itu mengemuka dalam acara Dialog Budaya: Wayang Kedu Temanggungan sebagai Media Inklusivitas, Ekologi, dan Moral, yang digelar di Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al Musthofa, cabang Tebuireng 16, Temanggung, Kamis (30/4/2026).

Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka reses Anggota DPR RI Komisi VIII, Wibowo Prasetyo, bekerja sama dengan Pusat Kajian Bahasa, Budaya, dan Gender Temanggung.

Hadir dalam acara itu Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Temanggung Supriyanto, Pengasuh Ponpes Al Musthofa Tebuireng 16 KH Agus Ahmad Yani, Ketua YAPTINU sekaligus Ketua Dewan Pengurus BPP INISNU Temanggung Nur Makhsun, Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Temanggung Saltiyono Atmaji, Rektor INISNU Temanggung Hamidulloh Ibda, Ketua Pusat Kajian Bahasa, Budaya, dan Gender INISNU Temanggung Nur Alfi Mu’anayah, Ketua PC Fatayat NU Kabupaten Temanggung Hj. Kurnia Atiullah, dalang Wayang Kedu Ki Gunawan Purwoko, para pegiat budaya, santri, mahasiswa, serta tokoh masyarakat.

Dalam forum tersebut, Wibowo Prasetyo menegaskan bahwa pelestarian Wayang Kedu Temanggungan perlu ditempatkan dalam konteks kekinian. Menurutnya, wayang tidak boleh hanya dipandang sebagai tontonan tradisional, tetapi perlu dihidupkan sebagai tuntunan bagi generasi muda, terutama dalam membangun kesadaran moral, kepedulian terhadap lingkungan, penghormatan terhadap keberagaman, serta penguatan nilai-nilai spiritual.

“Wayang mengajarkan bahwa manusia tidak boleh serakah, tidak boleh merusak alam, dan tidak boleh kehilangan adab. Di dalamnya ada pesan moral, pesan ekologis, sekaligus nilai keagamaan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat,” ujar Wibowo.

Ia menambahkan, di lingkungan pesantren, Wayang Kedu Temanggungan dapat dibaca sebagai bagian dari dakwah kultural. Melalui bahasa seni dan budaya, nilai-nilai seperti kerendahan hati, kejujuran, tepa selira, penghormatan kepada sesama, serta tanggung jawab manusia sebagai khalifah untuk menjaga alam ciptaan Allah SWT dapat disampaikan dengan lebih membumi dan mudah diterima masyarakat.

Pegiat sekaligus dalang Wayang Kedu, Ki Gunawan Purwoko, menjelaskan bahwa kesenian ini memiliki ciri khas berbeda dari wayang purwa yang lebih populer. Menurutnya, Wayang Kedu telah berkembang sejak abad ke-14 di wilayah Karesidenan Kedu, yang kini meliputi Temanggung dan sekitarnya.

“Secara visual, Wayang Kedu tidak menggunakan warna yang tajam atau kontras. Justru tampil lebih sederhana, tetapi sarat makna,” jelasnya.

Ki Gunawan menyebut, Wayang Kedu banyak mengangkat cerita ekologis yang dekat dengan kehidupan masyarakat agraris, mulai dari ritual meruwat lingkungan, membasmi hama dan wabah penyebab pagebluk, hingga doa keselamatan bagi alam. Wayang Kedu juga memiliki tokoh khas yang tidak ditemukan dalam pakem wayang purwa, seperti Prabu Makupuan, Prabu Sandanggarbo, dan Prabu Jinodo.

Para peserta dialog mendorong agar Wayang Kedu Temanggungan terus didokumentasikan, dikenalkan kepada generasi muda, dan diberi ruang hidup melalui pesantren, sekolah, kampus, komunitas seni, serta kegiatan kebudayaan masyarakat.




TERKINI




Rekomendasi

...