28.4 C
Semarang
Selasa, 5 Mei 2026

Arsitektur Nur-Sellular, Sintesis Sains dan Tasawuf Dorong Inovasi Kedokteran Regeneratif




JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG- Sains modern dan spiritualitas klasik kini tidak lagi dipandang sebagai dua kutub yang berseberangan. Keduanya justru bertemu dalam satu pendekatan baru yang memandang manusia sebagai sistem terbuka yang terhubung dengan semesta.

Praktisi Kedokteran Regeneratif sekaligus Ketua Umum PREDIGTI, dr. H. Agus Ujianto, M.Si.Med., Sp.B., FISQua menjelaskan, berbagai kajian ilmiah lintas disiplin menguatkan konsep manusia sebagai entitas terbuka. Tubuh tidak hanya bekerja secara mekanis, tetapi juga berinteraksi dengan energi, materi, dan informasi dari lingkungan.

“Tubuh manusia adalah ekosistem bio-osilasi yang terus bertukar energi dengan alam semesta,” ujarnya.

Ia menambahkan, konsep tersebut selaras dengan pemikiran tasawuf yang melihat manusia sebagai bagian dari kesadaran kosmik. Dalam perspektif ini, setiap sel tubuh diyakini merespons frekuensi spiritual dari Sang Pencipta.

Baca juga:  Sido Muncul Optimis Kinerja 2023 Tumbuh Positif

Penelitian di bidang neuroendokrinologi juga menunjukkan adanya keterkaitan antara dimensi spiritual dan anatomi tubuh. Kelenjar pineal disebut berperan sebagai pusat resonansi yang menghubungkan kesadaran dengan sistem biologis.

“Kelenjar pineal memiliki kemampuan menangkap gelombang elektromagnetik dan menerjemahkannya menjadi sinyal biokimia,” jelasnya.

Lebih lanjut, hantaran sinyal tersebut menyebar melalui sistem saraf dan jaringan tubuh. Proses ini diperkuat oleh mekanisme ephaptic coupling yang memungkinkan komunikasi antar sel tanpa kontak langsung.

Selain itu, sistem peredaran darah, limfatik, dan cairan serebrospinal berfungsi sebagai media distribusi sinyal biologis. Ketiganya berperan penting dalam menjaga komunikasi antara otak dan pusat regenerasi sel di sumsum tulang.

Pemahaman ini kemudian melahirkan inovasi dalam bidang kedokteran regeneratif. Salah satunya melalui pendekatan AHT CURE yang berfokus pada perbaikan lingkungan mikro seluler.

Baca juga:  Axiata dan Sinar Mas Sepakati Dua Nota Kesepahaman Kolaborasi Strategis

“Terapi ini memanfaatkan secretome, exosome, dan sel punca autologus untuk mempercepat proses penyembuhan,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, dalam metode tersebut darah dan sel pasien diaktivasi sebelum dikembalikan ke tubuh. Proses ini bertujuan memulihkan fungsi sel sekaligus meningkatkan respons tubuh terhadap proses regenerasi.

Konsep ini juga melahirkan paradigma baru yang disebut bioselulertheologi. Pendekatan tersebut menggabungkan ilmu biokimia dengan nilai teologi dalam memahami kehidupan manusia.

“Memperpanjang fungsi sel bukan melawan takdir, tetapi menjaga kualitas hidup agar tetap optimal,” tegasnya.

Ia menekankan, kematian tetap menjadi kepastian, namun menjaga kesehatan tubuh merupakan bagian dari tanggung jawab manusia. Integrasi sains dan spiritualitas diharapkan mampu menghadirkan keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesadaran batin.(aln)




TERKINI




Rekomendasi

...

Grab Indonesia dan OVO Donasikan 3,5 Miliar...

Isuzu Apresiasi Mitra Jaringan Part Shop

Tim Pengendalian Inflasi Jateng Raih Prestasi

Airlangga : 75 Tahun HMI Sudah Buktikan...

PLN Sukses Layani Final FIFA World Cup...