JATENGPOS.CO.ID, YOGYAKARTA- Pembangunan Jembatan Kabanaran (Pandansimo) di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menjadi perhatian Komisi D DPRD Provinsi Jawa Tengah (Jateng). Untuk mendapatkan data dan informasi teknis, Komisi D melakukan kunjungan lapangan ke proyek strategis nasional tersebut, Selasa (14/4/2026).
Setibanya di lokasi jembatan, rombongan dewan diterima Kabid Preservasi BBPJN II Ditjen Bina Marga Kementerian PU, Aris Rusdianto, bersama jajarannya. Dalam paparannya, Aris menjelaskan posisi vital jembatan yang membentang di atas muara Sungai Progo itu.
āJembatan ini merupakan akses penunjang utama di Jalur Lintas Selatan atau Pansela yang membentang dari Jatim hingga Banten. Jembatan Kabanaran menghubungkan Kabupaten Bantul dengan Kabupaten Kulon Progo,ā kata Aris.
Proyek Jembatan Kabanaran dibangun dengan anggaran APBN Rp863,72 miliar.
Spesifikasi teknisnya, panjang bentang utama 675 meter, lebar 24 meter, dengan total penanganan 2.300 meter termasuk jalan pendekat. Jembatan bertipe pelengkung baja itu dirancang menahan beban lalu lintas berat dan mendukung pengembangan kawasan selatan DIY sebagai pusat ekonomi baru.
Data BBPJN II mencatat Jalur Pansela DIY-Jateng sepanjang 126,63 km ditargetkan tembus total pada 2027. Kehadiran Jembatan Kabanaran memangkas waktu tempuh BantulāKulon Progo dari 45 menit menjadi 15 menit, sekaligus membuka akses ke Bandara YIA dan Kawasan Industri Sentolo.
āTanpa jembatan ini, Pansela akan putus di muara Progo,ā ujar Aris.

Jembatan Serupa Prioritas di KebumenāCilacap
Mendengar paparan itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Provinsi Jateng Joko Purnomo menyatakan dukungan penuh terhadap program pembangunan nasional. Namun ia berharap Kemen PU juga mendorong proyek serupa di wilayah Jateng yang menghubungkan dua kabupaten.
āMudah-mudahan ada juga di wilayah Jateng yang hampir mirip situasi dan kondisinya seperti di sini untuk diusulkan pembangunan jembatan ke pemerintah pusat,ā kata Joko.
Dari keterangan BBPJN yang diterima Komisi D, kondisi serupa ada di perbatasan Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Cilacap. Jalur Pansela di ruas itu terputus Sungai Luk Ulo dan kontur perbukitan karst Gombong Selatan. Warga saat ini masih mengandalkan jembatan gantung sempit atau memutar hingga 25 km lewat jalur nasional.
āUntuk di wilayah Jateng, masih ada KebumenāCilacap yang belum digarap karena terkendala wilayah perbukitan sehingga masih dilakukan analisa dan tahun ini belum bisa prioritas anggaran,ā jelas Aris.
Jalur Pansela Jateng membentang 212,5 km dari Congot Kulon Progo hingga perbatasan Jabar di Ciwaru, Cilacap. Hingga April 2026, realisasi fisik sudah 78,4% atau 166,6 km. Titik belum tembus selain KebumenāCilacap adalah ruas TambakmulyoāPuring yang masih studi kelayakan. Urgensi pembangunan jembatan di KebumenāCilacap tinggi karena 3 alasan:
Ekonomi: Membuka akses sentra perikanan Logending, Ayah, dan wisata Pantai MengantiāSuwuk. Potensi PAD sektor wisata pesisir selatan Kebumen 2025 mencapai Rp41,2 miliar, naik 14% setelah Pansela tersambung sebagian.
Logistik: Memangkas biaya angkut hasil bumi dari Gombong selatan ke Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Saat ini truk harus memutar lewat jalur tengah, menambah biaya Rp350 ribu/rit.
Mitigasi: Jadi jalur evakuasi tsunami selatan Jawa. BNPB menetapkan 7 kecamatan di KebumenāCilacap sebagai zona merah tsunami dengan 184.300 jiwa terdampak.
Komisi D akan mendorong Gubernur dan Bappeda Jateng memasukkan Jembatan KebumenāCilacap dalam daftar usulan prioritas ke Bappenas untuk APBN 2027.
āKita belajar dari Kabanaran. Butuh lobi kuat dan kesiapan lahan. Kalau studi kelayakan selesai 2026, 2027 bisa masuk lelang,ā kata Joko.
BBPJN menyebut estimasi awal bentang jembatan KebumenāCilacap sekitar 480ā600 meter karena sungai lebih sempit dari Progo, namun tantangan geologi karst membuat biaya bisa Rp600āRp750 miliar.
Pembangunan Pansela DIY sudah hampir 100%, sementara Jateng masih tersendat di 2 titik. Data Korlantas 2025 mencatat LHR Pansela KebumenāCilacap baru 3.200 kendaraan/hari karena jalan putus, padahal ruas BantulāPurworejo sudah 11.800 kendaraan/hari. Kesenjangan ini membuat pertumbuhan ekonomi pesisir selatan Jateng 4,7%, di bawah DIY 5,4%.
āKami tidak ingin Jateng jadi penonton. Pansela harus utuh dari Banten sampai Jatim. Kalau jembatan KebumenāCilacap dibangun, efeknya ekonomi 5 kabupaten selatan Jateng akan terungkit,ā tutup Joko.
Komisi D akan memanggil Dinas PU Bina Marga Jateng pekan depan untuk sinkronisasi data lahan dan DED jembatan, agar bisa dikawal bersama ke pusat. (nif/muz)








