Dinas Perpustakaan Jateng Arsipkan Naskah Kuno milik Kolektor Salatiga


JATENGPOS.CO.ID, SALATIGA – Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah melakukan langkah konservasi dengan cara mengalih mediakan naskah- naskah kuno milik salah seorang kolektor dari Salatiga H. Gunawan Herdiwanto.

Naskah- naskah kuno yang dialih mediakan oleh petugas dari Dinas Kearsipan Jateng, sebanyak 17 naskah, semuanya bertuliskan arab pegon.

Pustakawan Ahli Muda Ipuk Wahyu Utami dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah menjelaskan, alih media menjadi langkah penting untuk menjaga keberlangsungan informasi yang tersimpan dalam naskah kuno dan bertujuan untuk melestarikanya. ” karena jika suatu saat terjadi kerusakan pada naskah asli, nantinya kita sudah memiliki hasil alih medianya,” ujar Ipuk saat ditemui wartawan,Senin ( 25/5/2026).

Ipuk menambahkan, naskah yang didigitalisasi kali ini meliputi manuskrip tulisan tangan, di antaranya Surat Yusuf, Al-Qur’an, Surat At-Taubah, Surat Yasin, hingga kitab Safinatun Najah. Beberapa di antaranya telah teridentifikasi berasal dari tahun 1928, sementara dokumen lain masih menunggu kajian lebih lanjut.

Menurut Ipuk, proses digitalisasi bukan hanya menyelamatkan fisik dokumen, tetapi juga membuka peluang penelitian dan memperluas akses masyarakat terhadap khazanah literasi masa lalu.” Dengan digitalisasi naskah kuno ini, masyarakat bisa lebih mudah mengaksesnya untuk mempelajarinya,” pungkasnya.

Baca juga:  Pilkades Serentak Digelar 10 Desa

Sementara itu, Gunawan Herdiwanto yang akrab dipanggil Iwan mengatakan, sebagian naskah yang dialihmediakan berasal dari koleksi pribadinya yang telah dikumpulkan selama bertahun-tahun.

Naskah- naskah kuno itu ia dapat dari berbagai daerah, bahkan ada yang dari Lombok, NTB.
“ Koleksi yang paling tua itu dari Lombok, kertasnya dari samak kulit rusa. Sudah pernah diteliti oleh tim terkait. Diperkirakan usianya hampir 700 tahun, tetapi tetap perlu penelitian lanjutan, termasuk oleh ahli kertas,” ujar Iwan, Senin (25/5/2026).

Menurut Iwan, mayoritas manuskrip yang dikoleksinya ditulis di atas kertas daluang, yakni bahan tulis tradisional yang dibuat dari serat tanaman dan banyak digunakan pada masa lampau. Ia menilai naskah-naskah tersebut menjadi bukti bagaimana pengetahuan dan nilai budaya diwariskan lintas generasi.

Salah satu manuskrip yang menurutnya paling menarik merupakan kitab yang berisi kisah perjalanan hidup Nabi Muhammad. “Yang paling jauh saya dapat dari Lombok. Isinya menceritakan sejarah Nabi Muhammad, mulai dari masa kecil sampai dewasa,” imbuhnya.

Baca juga:  HUT Megawati ke-79, 79 Ribu Benih Ikan Nila Ditebar di Kali Progo

Iwan yang dikenal sebagai kolektor barang antik ini menambahkan, nilai penting sebuah manuskrip tidak semata terletak pada usia atau kelangkaannya, melainkan pada pengetahuan yang tersimpan di dalamnya.

Ia menilai masih banyak orang yang menyimpan kitab lama secara tertutup karena dianggap memiliki unsur kesaktian atau mantra yang hanya boleh diketahui kalangan tertentu. “ Harus kita edukasi, kalau punya kitab kuno, menurut saya justru harus dipublikasikan, supaya masyarakat bisa memahami sejarah, budaya, dan mengetahui bagaimana ilmu ditransfer pada masa lalu,” imbuhnya.

Dari naskah- naskah kuno yang ia miliki, Iwan meyakini perkembangan Islam di tanah Jawa tidak bisa dipisahkan dari pendekatan budaya yang digunakan para pendakwah pada masa lalu, seperti Wali Songgo yang sangat legendaris.” Seperti halnya wayang, tembang, hingga penggunaan aksara lokal menjadi jembatan agar ajaran lebih mudah diterima masyarakat,” pungkas pemilik Joglo Ki Penjawi ini.( deb)


TERKINI

Rekomendasi

...