JATENGPOS.CO.ID, SEMARANG – Berawal dari kamar berukuran 3×3 meter di kawasan Mangkang Wetan pada 2012, dua kakak beradik membangun usaha garmen yang kini berkembang hingga menembus pasar nasional dan internasional. Dari ruang sederhana itu, lahir PT Moko Garment Indonesia yang tumbuh konsisten hingga lebih dari satu dekade.
Perusahaan yang beralamat di Jl. Karanggayam B157, Mangkang Wetan, Tugu, Semarang ini dirintis oleh Budi Turmoko (38) bersama adiknya Ryan Muhammad (35). Keduanya memulai usaha dengan modal terbatas, pengalaman minim di industri garmen, serta ruang kerja sederhana yang awalnya merupakan kamar pribadi.
“Awalnya kita mulai dari kamar 3×3 meter, modal dari Vespa dan sekitar Rp5 juta. Dari situ kita beli mesin, ada yang dicicil, lalu mulai produksi pelan-pelan,” ujar Ryan Muhammad, saat ditemui di Workshopnya, Selasa (2/6/2026).
Pada awal perjalanan, usaha mereka belum langsung fokus di industri garmen. Aktivitas yang semula bergerak di bidang advertising perlahan beralih menjadi produksi seragam dan apparel setelah melihat peluang pasar yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Budi Turmoko menuturkan, keputusan untuk memproduksi sendiri menjadi titik balik penting dalam perjalanan usaha. Sebelumnya, banyak pesanan yang hanya diteruskan ke pihak lain, namun kemudian diputuskan untuk dikelola secara mandiri dari hulu ke hilir.
“Dulu order sering kita lempar ke teman-teman, tapi akhirnya kita putuskan produksi sendiri. Walaupun tidak punya basic garmen, kita belajar dari nol dan membangun sistem produksi sendiri dengan standar yang kita tentukan,” kata Budi Turmoko.
Seiring waktu, PT Moko Garment mulai fokus pada produksi seragam kerja, uniform, hingga apparel custom untuk berbagai perusahaan. Dari usaha kecil, kini produksi mencapai sekitar 10.000 potong per bulan dengan tenaga kerja 90–100 orang, mayoritas berasal dari lingkungan sekitar.
Perusahaan juga mengembangkan dua lini brand, yakni “Moko Uniform” untuk kebutuhan korporasi dan “Moko Workwear” untuk produk ritel. Sistem produksi dibuat fleksibel, mulai dari pesanan besar minimal 50 pcs hingga ritel tanpa minimum order tertentu untuk produk tertentu yang sudah tersedia.
Dalam pemasaran, perusahaan memanfaatkan website sebagai pintu utama untuk menjangkau pasar lebih luas. Dari kanal digital tersebut, pelanggan datang dari berbagai wilayah Indonesia hingga mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Taiwan, Timor Leste, hingga sejumlah negara Eropa.
Setiap kerja sama biasanya dimulai dari pengiriman sampel produk. Dari proses itu, calon klien melakukan evaluasi kualitas, kenyamanan, hingga standar produksi sebelum masuk ke tahap pemesanan massal.
Model ini membuat Moko Garment tumbuh berbasis kepercayaan dan konsistensi kualitas, bukan hanya harga. Di sisi lain, kebutuhan distribusi yang cepat dan stabil menjadi bagian penting dalam menjaga reputasi usaha.

Dukungan Logistik dalam Perjalanan Usaha
Dalam proses pertumbuhan dari usaha rumahan hingga skala ekspor, kebutuhan distribusi menjadi salah satu faktor penentu. Di titik ini layanan ekspedisi JNE menjadi bagian penting dalam rantai bisnis PT Moko Garment Indonesia sejak awal berdiri pada 2012.
Perusahaan ini menjadikan pengiriman sebagai jembatan utama antara produksi di Semarang dan pelanggan di berbagai daerah Indonesia hingga luar negeri.
Ryan Muhammad menuturkan, sejak awal merintis usaha dari kamar kecil 3×3 meter, pengiriman sudah menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnis mereka. Mulai dari pengiriman sampel hingga pengiriman produk ke luar kota, semuanya menjadi pintu awal tumbuhnya kepercayaan pelanggan.
“Dari awal kita bangun usaha ini, kita sudah sangat terbantu dengan ekspedisi, terutama JNE. Waktu masih produksi kecil di kamar, kita sering kirim sampel ke luar kota. Dari situ kepercayaan customer mulai terbentuk. Kalau pengiriman bermasalah, kepercayaan itu bisa hilang,” ujar Ryan Muhammad.
Ia menyebut, JNE dipilih karena konsistensi layanan dan jangkauannya yang luas hingga ke berbagai wilayah Indonesia, termasuk daerah pelosok yang sulit dijangkau. Hal ini menjadi penting karena pelanggan Moko Garment tersebar di banyak daerah.
“Yang kita rasakan, JNE itu paling stabil. Paket bisa sampai ke kota besar sampai daerah pelosok seperti Papua atau wilayah timur lainnya. Itu penting banget buat kita karena customer kita tersebar di banyak daerah,” tambahnya.
Ryan menegaskan, dalam industri garmen, pengiriman sampel menjadi tahap krusial sebelum terjadi transaksi besar. Keputusan klien sangat dipengaruhi oleh ketepatan dan keamanan pengiriman awal tersebut.
“Biasanya kita kirim sampel dulu. Kalau sampai dengan baik dan tepat waktu, baru mereka percaya untuk order besar. Jadi ekspedisi itu bukan cuma kirim barang, tapi bagian penting dari proses membangun trust,” jelasnya.
Selain produksi dan pemasaran, perusahaan juga membuka pelatihan bagi lulusan SMK dan masyarakat sekitar. Pelatihan ini mencakup teknik menjahit, alur produksi, hingga sistem kerja industri garmen modern.
Sebagian peserta yang memiliki potensi kemudian direkrut menjadi bagian dari tim atau mitra kerja jangka panjang, sehingga perusahaan berkembang sekaligus memberdayakan tenaga kerja lokal.
Di sisi sosial, PT Moko Garment Indonesia juga mengalokasikan sekitar 5 persen keuntungan untuk kegiatan kemanusiaan, termasuk santunan yatim piatu dan kegiatan sosial lainnya.
Dukungan Logistik dan Ekosistem UMKM
Terpisah, Branch Manager JNE Semarang, Wahyu Sangesti Alam menilai, pertumbuhan usaha seperti Moko Garment mencerminkan bagaimana pelaku UMKM dapat naik kelas melalui kombinasi kualitas produk dan dukungan ekosistem logistik yang kuat.
Ia menjelaskan, kebutuhan utama pelaku usaha bukan hanya pengiriman cepat, tetapi kepastian layanan agar produk sampai tepat waktu dan dalam kondisi baik, terutama bagi sektor seperti garmen yang sangat bergantung pada ketepatan distribusi.
“Pelaku usaha seperti Moko Garment ini butuh kepastian. Bukan hanya cepat, tapi juga aman dan konsisten karena itu langsung berpengaruh pada kepercayaan pelanggan mereka,” ujarnya.
Di wilayah Semarang, operasional JNE didukung sekitar 600 sumber daya manusia serta lebih dari 100 armada distribusi. Secara nasional, JNE mencatat volume pengiriman sekitar 1 juta paket per hari.
Ia menyebut, layanan REGULAR menjadi yang paling banyak digunakan pelaku usaha karena dinilai paling seimbang antara biaya dan kecepatan untuk pengiriman rutin.
“Untuk UMKM dan pelaku usaha seperti garment, layanan REGULAR paling banyak dipilih karena efisien untuk pengiriman dengan volume yang stabil,” jelasnya.
Selain itu, JNE juga memperkuat dukungan terhadap pelaku usaha melalui layanan fulfillment service, yaitu layanan logistik pihak ketiga (3PL) yang mencakup pengelolaan stok, penyimpanan, pengemasan, hingga pengiriman ke pelanggan.
“Fulfillment ini membantu pelaku usaha mengelola operasional dari hulu ke hilir, sehingga mereka bisa fokus di produksi dan pengembangan produk,” tambahnya.
Perjalanan PT Moko Garment Indonesia dari kamar kecil hingga menembus pasar global menjadi gambaran bagaimana konsistensi, keberanian memulai dari nol, dan dukungan ekosistem logistik mampu mendorong usaha lokal tumbuh menjadi pemain besar di tingkat internasional.(Aning Karindra)



